Negeri Lalat Babi

Gabriel sedari sore mengirimiku pesan. Dia bilang “Triaaaas saya stres. Biasa kita ramai disana sedari pagi sampai malam disini saya hanya diam. Benar kata orang, kalau pergi dr tempat itu rasa rindu ingin kembali begitu besar”

Aku tidak tahu apa yang dirasakan Gabriel benar atau tidak. Karena aku belum meninggalkan tempat ini. Tapi ada yang aneh, aku sudah rindu tempat ini bahkan sebelum aku berangkat untuk– yang semua orang sebut sebagai pulang.

Entah ini apa. Aku begitu mencintai sudut pasar ikan, atau sudut yang menuju langsung muara: dimana aku bisa melihat langsung riak-riak arus air yang coklat dan luas. Aku suka sekali melihat Susteran Tarekat Maria Mediatrix yang halamannya tanah keras. Yang cat dinding kayunya merah. Dengan gordin hijau turquoise dilapisi kawat nyamuk. Aku suka melihat kelapangan SD Salib Suci. Setiap pagi ketika hujan ataupun tidak– Pastor dan Suster ramai berjalan keluar dari Katedral sehabis misa setengah enam pagi. Semua dengan jubah putih atau biru. 

Aku–tidak rela liburan besarku ini terhenti untuk yang semua orang bilang sebagai liburan–Natal dan tahun baru. Untuk kemudian bertemu dengan orang-orang congkak yang memakai kacamata hitam dalam mobil yang kacanya penuh sunscreen. Bertemu dengan orang-orang penghuni rumah besar– yang bahkan tidak tahu tetangga belakang mepet temboknya sedang ada kapesan atau adakan hajat. Bagaimana aku nanti akan kembali mengeluh dan malas berjalan,  karena kembali ada Grabcar dan Gocar. Disini aku selalu berjalan. Sejauh apapun aku selalu berjalan dan tidak lelah. Tidak mengeluh. 

Aku mencintai tempat ini. Belokan Bhayangkara untuk melihat rangkong botak. Aku mencintai tempat ini meski jam dua malam apabila hujan, aku harus memaksa diri bangun dan kedinginan untuk menampung air dalam jolang dan baskom. Supaya beberapa hari ke depan bajuku dapat kucuci. 

Aku suka kulitku menghitam. Bertambah dekil karena matahari. Aku mencintai tempat ini apabila habis bahan bakar kemudian seluruh kota padam listrik. Gelap segelapnya. Hanya ada bulan yang sabit.  Bintang yang terangnya mengelilingi seluruh penjuru atasmu. Depan belakang  kanan kiri atas.  Hanya ada satu lampu yang menyala di simpang tiga gang. Yang dayanya dari panel matahari. 

Aku mencintai duduk di pinggir bingkai semen jalan. Yang jika aku berhenti  waspada sebentar saja,  aku akan jatuh ke kolam lumpur. Hanya ada suara jangkrik,  kungkong katak, dan suara binatang malam yang menyumbang suara. Entah iya atau tidak,  sepertinya mereka menyumbang nyanyi atas petikan gitar Albert yang menemaniku duduk diluar rumah. Aku selalu suka jika padam lampu. Aku bisa keluar dan mendongak ke atas lama-lama sampai tidak tahu berapa jam. 
Terkadang aku mengeluh beberapa kali dan mengkhayal apabila di panas terik Albert mengajakku ke pasar: naik grab car putar radio musik disko-disko abg sialan, dan kasih kencang AC. Atau terkadang aku rindu duduk dan berbincang di sebuah kafe berAC meminum dan memakan entah sembarang apa membincangkan dan menertawakan hal tidak berguna. Atau terkadang aku merindukan heater dirumah kalau sedang hujan lebat dan dingin menusuk tulang-tulang. Atau terkadang juga ketika musim kering dan menstruasi aku merindukan kloset duduk dengan semprotan cebok sekali tekan, lalu flush! Atau ketika aku sedang malas dan bebal untuk makan sesuatu, aku merindukan kompor gas, sekali ceklek menyala dan matang.

Tapi aku jauh lebih menyukai duduk dalam kerumunan anak-anak beringus menonton gerak dan tari– semua orang disini kepala tari.  Sambil sesekali berteriak dan tidak dikenali. Pulang bergelap-gelapan melihat satu dua titik cahaya di muara. 
Aku mencintai seluruh rawa ini meski di kulit kakiku ada noda hitam dan mengeras bekas gigitan lalat babi. Lalat babi yang terkadang brengsek– kau tidak berbuat apa-apa dan bergerak tidak banyak, tapi dia menyengat begitu kecil dan sakit, membuat berdarah dan meninggalkan bekas. Hidup pun begitu.

Tapi dari semuanya: rasa tidak rela dan terlalu sayang. Untuk ditukar dengan apa juga. Meski untuk memposting ini aku harus berjalan dan kepanasan yang amat menyengat dan membuat lemas untuk bisa dapat internet yang cukup kuat. Rasa terlalu sayang pada sebuah tempat becek yang  bau dan kotorannya dimana-mana bisa kau injak. Rasa terlalu sayang, pada sebuah tempat yang tidak pada siapapun kau bisa menggantungkan harapan untuk sekedar bisa menggosok dakimu atau menhilangkan haus di tenggorokanmu– selain pada Sang Empunya Hidup. Kalau kalian siapapun yang membaca ini, bisa kemari– kalian akan heran, hujan kadang datang datang tanpa aba-aba dan sangat sebentar: seperti memberi satu dua ember pesedian untuk sekedar menghilangkan gatal di punggung dan ketiakmu. Atau juga kadang ia datang semalaman tak berhenti dan lebat: hal ini juga kadang merupakan tanda,  Tuhan memenuhi tampungan kami sebagai bekal kemudian hari ke depan, sebagai persediaan– dan mengetes: sayangkah tidak kita pada air yang dikirimnya langsung. Tanah ini telah menenggelamkanku dalam sebuah cinta yang hampir teramat sangat. Oh, Negeri Lalat Babi, sudahkah aku jatuh cinta padamu sekarang-sekarang ini? 

Advertisements

Perjalanan Rejeki

Rejeki berjalan menempuh jarak yang jauh. Menempuh perjalanan panjang. Tanpa peta. Tanpa alamat. Tanpa kenalan saudara. Tapi ia akan sampai. Tapi ia ternyata sampai. Tidak tersesat.  Tidak salah alamat. Tidak salah tujuan. Tidak salah mengenali orang. 
Malam sebelumnya Lik Mung membatin pada Moyo ingin sayur sukun kuah santan encer. Tepat keesokan paginya ada tetangganya menggantungkan satu buah sukun di engsel pintu samping. 

Mang Ronald menyuguhkanku keripik pisang hangat. Pisang yang ia dapat entah dari Yepem atau Peer. 

Aku memakan lalap timun hasil panen Pastor Sipri di Bayun yang bibitnya dibawa Isti dari toko Trubus, yang ikut ditanam Daniel Beta ketika mereka berangkat kesana. 
Aku sarapan pagi telur ayam kampung hasil ternak Bu Ima di Ambisu. Yang seumur hidupku tak pernah terbayang ada tempat seperti itu dengan nama seperti itu. 

Suatu sore aku ditemani menunggu hingga jam lima sampai Sate Mbah Mardi buka dan kuhabiskan satu porsi penuh lontong sayur dan sate ditambah satu porsi penuh sate kere minus dua tusuk yang diambil Moy. Andaikan sore itu kami tidak sabar, sate itu tidak akan pernah kumakan. 

Suatu sore Bang Roma bertanya padaku sudahkah aku makan atau belum. Tidak berapa lama ia menggorengkan cumi besar dan segar yang ia bawa dari Tual lengkap dengan sambal korek kesukaanku! 

Tiga sore berturut-turut aku memakan udang Atsj yang sebesar lobster oleh-oleh dari Bang Roy. 

Kami membuat jamu kunyit asam yang kunyitnya dipetik langsung dari Bayun. 

Rejeki terkadang datang tanpa undangan. Tanpa jemputan. Tanpa kartu alamat, tanpa peta penunjuk jalan. 

Rejeki seringkali bukan hal yang diharap-harapkan. Tapi sesekali manusia masih boleh berharap. Menitip kartu alamat– dilemparkan ke alam bebas mengawang di udara yang semesta.

Manusia boleh berharap. Manusia boleh setidaknya berkeyakinan kecil atas sesuatu. 
Selama perjalanan ke Pangalengan, Mang pernah menjajikan akan mengajakku setelah aku lulus sidang skripsi pergi berlibur kecil ke satu tempat. Dekat saja di dekat Puncak, Taman Bunga Nusantara. Tapi karena satu dua tiga hal, kami tidak pernah jadi pergi kesana. Tapi aku berkeyakinan akan suatu hari entah kapan; pasti akan sampai kesana. Entah dengan siapa, bagaimana caranya, dan kapan waktunya.

 
Dan beberapa hari kemarin dulu aku sudah sampai sana. Tanpa perencanaan dan tanpa uang. Meski banyak meskipun yang aku lewati: perjalanan berangkat menuju kesana aku kesal nyaris menangis karena si Romi sialan (tapi baik) merusak moodku. Keduanya dia menyetir seperti kesetanan dan membuat aku terguncang kiri kanan kiri kanan kiri kiri kanan yang membuat aku berkali-kali tertimpa koper.
Aku bisa melihat apa itu yang peta sering gambarkan– pulau-pulau kecil yang didampingi sungai yang kelokannya tajam. 

Sahabat duluku pernah mengatakan,  ada dua jenis rejeki: satu makanan yang masuk dalam perutmu,  kedua adalah pakaian yang kau pakai hingga robeknya.
Bagiku, yang lain termasuk pula rejeki, termasuk siapa yang kutemui, candaan yang kutertawakan. Terutama hujan yang berhasil kutampung dan memungkinkanku untuk mandi. 

Bagiku, jika kita dianggap menjemput rejeki, itu banyak kelirunya. Yang sebenarnya, jauh lebih banyak adalah rejeki yang menempuh perjalanan. Yang mengantarkan dirinya sendiri. 

Rejeki apapun klasifikasinya, apapun bentuknya: apa yang sebenarnya ditujukan sebagai milikmu, akan datang padamu. Menemuimu. Meski ia harus menempuh perjalanan. Yang sulit yang jauh. Yang tanpa peta tanpa kartu alamat. Dia hanya akan sampai padamu. Tidak akan pernah tersesat. 

Mada Hujan

Payung keempat. Entah rangkanya yang busuk atau memang aku ditakdirkan begitu. Memiliki empat payung untuk kemudian habis. Aku hanya terus akan berikrar, aku tidak apa harus terus membeli payung selama selalu hujan disini. Tapi, aku belum juga membeli payung. 

Aku mulai tahu kuncinya. Tidak perlu cemaskan apa-apa. Aku hanya harus menajamkan ingatan kalau-kalau ada yang terlewat. Karena setiap waktunya tiba aku membuka acara untuk diriku sendiri: bercakap-cakap dengan diriku sendiri,  biasanya aku hanya akan sibuk menghitung. Kejutan dan kegembiraan apa saja kudapat hari itu. Dan hujan, kalau ia datang adalah akan selalu yang paling kencang kurayakan kedatangannya. 

Selebihnya, aku masih suka dengan perbincangan dan perjalananku dengan diriku sendiri. Energiku hanya untuk diriku sendiri. 

Ada kalanya aku ingin menyanyi berteriak dengan para laki-laki yang berotak kotor dirumahku–disini.  Ada kalanya aku hanya ingin tidak melakukan apa-apa dalam kamar gelap. Tidak meratap tidak meracap. Aku hanya ingin bercakap-cakap dengan diriku sendiri.
Hatiku masih patah karena keberangkatan Frengki yang tiba-tiba dan tanpa beri tahu. Badanku mulai gatal-gatal karena sudah nyaris seminggu aku tidak mandi dengan benar dan pantas. Entah ada jentik-jentik yang ternyata tertelan olehku atau tidak. Tapi kenyataanya aku tidak kehabisan akal menemukan kegembiraanku sendiri.

Kalau aku boleh mengeluh maka aku akan mengeluh dengan bercerita sambil sedikit menggurui siapapun kalian yang membaca ini. 

Kalau aku boleh merangkum nasehat terbesarku dalam satu kalimat maka akan: “perlakukan air dengan baik!”
Kalian mungkin pernah atau tidak mengalami hidup sepertiku. Hidup diatas tanah yang basah dan airnya menggenang, tapi kerongkonganmu haus dan badanmu bau busuk tak mandi. 

Aku sedang begitu. 

Badan kami bau busuk karena tidak mandi dengan benar dan baik dan layak selama hampir seminggu. Rambut kami mulai berkutu karena kami banyak berkeringat dan tidak punya cukup air untuk keramas. 

Kami tidak punya cukup air untuk menggosok daki di badan kami. 

Aku keramas dengan menggunakan air satu botol aqua. Dan mandi dari air sisa pemberian Albert tadi pagi.

Aku terpaksa mencuci celana dalam dan bra yang kujemur masih ada busa– aku tidak peduli. Kami tidak punya cukup air untuk membilas hingga air bening kembali. Hanya dua variabel itu yang kucuci. Sisanya aku tak peduli. Kupakai berulang dengan bantuan angin, matahari, dan kispray. 
Aku hanya ingin berdoa keras sedikit marah: Oh tolong berkati perempuan-perempuan yang menstruasi di musim kering!

 
Aku mendengar di semua tempat hujan, basah, dan banjir. Hanya di tempat kami yang kering dan orang-orangnya berkutu dan berdaki karena tidak mandi. 

Berkali-kali dalam beberapa hari, mendung gelap awan menahan sesuatu. Lalu lewat begitu saja tidak jadi mengeluarkan sesuatu entah yang tertahan. Lewat. Mungkin turun di Ayam atau Yepem atau di laut. 
Suara kipas angin adalah selalu yang paling  brengsek. Di tengah percakapan atau tidur nyenyak aku bisa tiba-tiba terkaget. Suaranya seperti hujan yang baru datang berbarengan angin menyentuh atap-atap.

Dan saat semua orang mulai pasrah– mengangkut air kolam ikan yang warna cokelat teh tubruk kental,  atau membeli aqua seharga ratusan ribu satu karton,  saat itu pula dikirim hujan yang sebentar. Yang mungkin bisa menyambung hidup kami sampai besok atau besoknya lagi. 

Hujan yang sebentar, yang entah keran kami sudah menyala atau belum. Tapi hidup disini kami belajar selalu menyalakan harapan.  Dan keyakinan. Dan ketidakcemasan: tidak mungkin makhluk dihidupkan disuatu tempat tanpa disediakan minum,  tidak disediakan air untuk bersuci,  untuk membasuh kekotoran. Yang perlu dilakukan disini hanya: tidak perlu cemas. 

Hint: Lumpur

Aku tidak akan memberitahu aku dimana. Aku hanya akan bercerita. Kuberi tahu. Ada yang cukup menggembirakan dengan kehidupanku sekarang. Meski aku tidak mengenal satupun nama restoran mahal yang semua teman dalam grup whatsapp ku sebutkan di Pasific Place. Tidak juga aku paham mereka membicarakan film apa yang sedang tayang. Aku cukup gembira. Bahkan gembira lebih dari sekedar cukup. Kalau-kalau bisa kutemukan bakso dengan jeruk nipis harga sepuluh ribu. Kami disini tidak ada hiburan. Orang-orang kaya kebingungan membelanjakan uangnya dimana. Tapi segala sesuatu disini bagiku selalu ada yang bisa menghibur. Setiap hari selalu merupakan tamasya. 

Aku kehabisan suara malam ini. Tapi energiku bertambah. Suaraku serak karena berteriak-teriak. Ini salah satu keuntungan hidup satu rumah dengan para laki-laki. Kami bisa menyanyi dengan petikan gitar dan tabuhan perkusi yang seolah main-main tapi teramat cantik dan menghibur. Kami berteriak semau kami. 

Aku cukup senang menyanyi Iwan Fals sepanjang beberapa jam sambil mengunyah mangga asam. Ini keuntungan hidup satu rumah dengan para lelaki. Mereka bisa menggeol geolkan suara gitar yang tak bisa kubayangkan bagaimana cara kerjanya. Kalau aku kehausan di panas terik mereka akan hampir selalu menawariku membeli es blender di dua belokan dari rumah. Satu-satunya hal tidak mengenakkan adalah aku tidak bisa berpakaian sembarangan. Tidak bisa bebas tidak memakai bra semauku. Selebihnya aku tidak perlu berurusan dengan tanggal menstruasi mereka. Mereka cepat tanggap soal isi kepalaku yang terkadang lebih sering kotor.
Aku cukup gembira disini menyanyi dan berteriak semauku seolah kami sedang di panggung akustik bistro mahal. Menyanyi mulai lagu kelas Louvre sampai kelas trotoar pasar baru. 

Terkadang kalau kami pulang belum terlalu malam dari minum kopi dekat Polres,  kami goler-goler dengan lampu kasih gelap. Memasang speaker bluetooth dengan lagu Payung Teduh….. 

Rindu ini merdu seketika……

Lalu meminta pada Bang Roy, kalau aku ingin menangis dan dia menanyakan pertanyaan pertanyaan biadab. Bukan aku menjadi menangis  malah mereka dapat informasi konfidensial soal angkot. Yang selalu mereka bahas. 
Kulitku hitam dengan banyak bercak putih. Berkeringat panas, terkena air. Balas bogo orang sunda bilang. Aku tak peduli. 

Kulit kepalaku gatal setengah mati. Ada kutu sepertinya?  Aku lebih tak peduli. Kalau memang sampai rambutku berkutu, aku akan menjadikan hobi baru mencari kutu di samping kolam. Dengan petikan gitar Close to You di siang hari atau lagu Eva Cassidy. Aku tak peduli dengan kulit hitam atau kutu. Aku lebih peduli kalau apr yang aku dapat disini: kegembiraanku, keherananku, ketidaktahuanku–hilang. 

Lumpur ini begitu membuat jatuh cinta. Aku–dan semua orang disini mengakui: tak mudah hidup disini. Tak dimanjakan hidup disini. Tapi cinta yang membawa kami selalu ingin terbenam. Aku sekarang tahu apa resep rahasia hidup disini: jangan cemas– dan nikmati setiap perjalanan. 

Biarkan dirimu mengambang. Dibawa surut naiknya air. Anggap kau adalah karaka. Pasrahkan tubuh dan seluruhmu pada Zat entah. Yang boleh kau anggap sebagai penguasamu. Pemilikmu. Selalu tempat kembalimu. 

Pesta Budaya 

Sebuah momen dimana semua manusia yang memiliki berkumpul. 

Kalian harus tau disini teramat panas menyengat. Terang. Mungkin alam memberikan hadiah bagi para fotografer dengan memberikan latar awan dan langit yang teramat cantik untuk ditangkap gambarnya. Tapi dengan konsekuensi, matahari 7x lipat lebih terang daripada biasanya.  Tuhan juga sedang sangat baik padaku terutama. Ketika aku membatin bagaimana caranya aku cebok dan mandi kemarin pagi, sebelum subuh Dia kirim hujan teramat besar. Meski siang hari akan tetap panas sangat terang seperti ribuan lampu sorot dipasang bersamaan. Supaya kami bisa tetap bergembira ketika siang sampai menjelang malam. 

Semalam ada tabuh-tabuhan yang tidak henti dipukul-pukul. Semalam suntuk sampai pagi terang. Untuk menunda kematian mereka bilang. Kalaupun kematian datang menjemput melaksanakan tugasnya, tidak cukup mampu mematikan nyawa yang tidak bisa mati–meskipun dia benar-benar hidup. 

Aku berhenti mengeluh kepanasan. Karena apalagi yang aku minta disini kalau aku selalu menari dan menyanyi mensyukuri alam dan leluhur. Memuji pemilik alam dan pencipta leluhur. Tempat ini tidak pernah benar-benar lelah soal menari dan menyanyi. 

Wowirpit adalah selalu yang paling ajaib disini menurutku. Tangannya penuh magis membentuk keindahan yang tidak dirancang. Bukankah memang sebenarnya keindahan tidak pernah benar-benar dirancang? 

Kami datang dari jauh.  Berkumpul. Tidak kenal menjadi kenal. Lesu menjadi gembira. Bahkan aku yakin,  siapapun yang kutemui disini, akan menghubungkanku dengan kalian. Entah siapapun entah dimanapun. 

Ini bukan sembarang pesta. Tidak ada tuan rumah. Tidak ada anggur atau kue stroberi. Ini pesta sebentar. 32 kali setidaknya dalam 32 tahun, mereka disini mengistirahatkan peran melelahkan: memangkur, menggendong, menjaring, meratap. Untuk setidaknya menyadari: selalu ada hal yang bisa menjadi alasan bergembira. Selalu ada alasan untuk menari dan menyanyi. 

Selalu ada alasan bahwa air mata masing-masing mereka tidak menghentikan pinggul mereka bergoyang. Dengan awer dengan bulu kuskus dan kasuari. Dengan dunia masing-masing manusia yang menyerahkannya pada pesta ini.