Perjalanan Rejeki

Rejeki berjalan menempuh jarak yang jauh. Menempuh perjalanan panjang. Tanpa peta. Tanpa alamat. Tanpa kenalan saudara. Tapi ia akan sampai. Tapi ia ternyata sampai. Tidak tersesat.  Tidak salah alamat. Tidak salah tujuan. Tidak salah mengenali orang. 
Malam sebelumnya Lik Mung membatin pada Moyo ingin sayur sukun kuah santan encer. Tepat keesokan paginya ada tetangganya menggantungkan satu buah sukun di engsel pintu samping. 

Mang Ronald menyuguhkanku keripik pisang hangat. Pisang yang ia dapat entah dari Yepem atau Peer. 

Aku memakan lalap timun hasil panen Pastor Sipri di Bayun yang bibitnya dibawa Isti dari toko Trubus, yang ikut ditanam Daniel Beta ketika mereka berangkat kesana. 
Aku sarapan pagi telur ayam kampung hasil ternak Bu Ima di Ambisu. Yang seumur hidupku tak pernah terbayang ada tempat seperti itu dengan nama seperti itu. 

Suatu sore aku ditemani menunggu hingga jam lima sampai Sate Mbah Mardi buka dan kuhabiskan satu porsi penuh lontong sayur dan sate ditambah satu porsi penuh sate kere minus dua tusuk yang diambil Moy. Andaikan sore itu kami tidak sabar, sate itu tidak akan pernah kumakan. 

Suatu sore Bang Roma bertanya padaku sudahkah aku makan atau belum. Tidak berapa lama ia menggorengkan cumi besar dan segar yang ia bawa dari Tual lengkap dengan sambal korek kesukaanku! 

Tiga sore berturut-turut aku memakan udang Atsj yang sebesar lobster oleh-oleh dari Bang Roy. 

Kami membuat jamu kunyit asam yang kunyitnya dipetik langsung dari Bayun. 

Rejeki terkadang datang tanpa undangan. Tanpa jemputan. Tanpa kartu alamat, tanpa peta penunjuk jalan. 

Rejeki seringkali bukan hal yang diharap-harapkan. Tapi sesekali manusia masih boleh berharap. Menitip kartu alamat– dilemparkan ke alam bebas mengawang di udara yang semesta.

Manusia boleh berharap. Manusia boleh setidaknya berkeyakinan kecil atas sesuatu. 
Selama perjalanan ke Pangalengan, Mang pernah menjajikan akan mengajakku setelah aku lulus sidang skripsi pergi berlibur kecil ke satu tempat. Dekat saja di dekat Puncak, Taman Bunga Nusantara. Tapi karena satu dua tiga hal, kami tidak pernah jadi pergi kesana. Tapi aku berkeyakinan akan suatu hari entah kapan; pasti akan sampai kesana. Entah dengan siapa, bagaimana caranya, dan kapan waktunya.

 
Dan beberapa hari kemarin dulu aku sudah sampai sana. Tanpa perencanaan dan tanpa uang. Meski banyak meskipun yang aku lewati: perjalanan berangkat menuju kesana aku kesal nyaris menangis karena si Romi sialan (tapi baik) merusak moodku. Keduanya dia menyetir seperti kesetanan dan membuat aku terguncang kiri kanan kiri kanan kiri kiri kanan yang membuat aku berkali-kali tertimpa koper.
Aku bisa melihat apa itu yang peta sering gambarkan– pulau-pulau kecil yang didampingi sungai yang kelokannya tajam. 

Sahabat duluku pernah mengatakan,  ada dua jenis rejeki: satu makanan yang masuk dalam perutmu,  kedua adalah pakaian yang kau pakai hingga robeknya.
Bagiku, yang lain termasuk pula rejeki, termasuk siapa yang kutemui, candaan yang kutertawakan. Terutama hujan yang berhasil kutampung dan memungkinkanku untuk mandi. 

Bagiku, jika kita dianggap menjemput rejeki, itu banyak kelirunya. Yang sebenarnya, jauh lebih banyak adalah rejeki yang menempuh perjalanan. Yang mengantarkan dirinya sendiri. 

Rejeki apapun klasifikasinya, apapun bentuknya: apa yang sebenarnya ditujukan sebagai milikmu, akan datang padamu. Menemuimu. Meski ia harus menempuh perjalanan. Yang sulit yang jauh. Yang tanpa peta tanpa kartu alamat. Dia hanya akan sampai padamu. Tidak akan pernah tersesat. 

Advertisements

Mada Hujan

Payung keempat. Entah rangkanya yang busuk atau memang aku ditakdirkan begitu. Memiliki empat payung untuk kemudian habis. Aku hanya terus akan berikrar, aku tidak apa harus terus membeli payung selama selalu hujan disini. Tapi, aku belum juga membeli payung. 

Aku mulai tahu kuncinya. Tidak perlu cemaskan apa-apa. Aku hanya harus menajamkan ingatan kalau-kalau ada yang terlewat. Karena setiap waktunya tiba aku membuka acara untuk diriku sendiri: bercakap-cakap dengan diriku sendiri,  biasanya aku hanya akan sibuk menghitung. Kejutan dan kegembiraan apa saja kudapat hari itu. Dan hujan, kalau ia datang adalah akan selalu yang paling kencang kurayakan kedatangannya. 

Selebihnya, aku masih suka dengan perbincangan dan perjalananku dengan diriku sendiri. Energiku hanya untuk diriku sendiri. 

Ada kalanya aku ingin menyanyi berteriak dengan para laki-laki yang berotak kotor dirumahku–disini.  Ada kalanya aku hanya ingin tidak melakukan apa-apa dalam kamar gelap. Tidak meratap tidak meracap. Aku hanya ingin bercakap-cakap dengan diriku sendiri.
Hatiku masih patah karena keberangkatan Frengki yang tiba-tiba dan tanpa beri tahu. Badanku mulai gatal-gatal karena sudah nyaris seminggu aku tidak mandi dengan benar dan pantas. Entah ada jentik-jentik yang ternyata tertelan olehku atau tidak. Tapi kenyataanya aku tidak kehabisan akal menemukan kegembiraanku sendiri.

Kalau aku boleh mengeluh maka aku akan mengeluh dengan bercerita sambil sedikit menggurui siapapun kalian yang membaca ini. 

Kalau aku boleh merangkum nasehat terbesarku dalam satu kalimat maka akan: “perlakukan air dengan baik!”
Kalian mungkin pernah atau tidak mengalami hidup sepertiku. Hidup diatas tanah yang basah dan airnya menggenang, tapi kerongkonganmu haus dan badanmu bau busuk tak mandi. 

Aku sedang begitu. 

Badan kami bau busuk karena tidak mandi dengan benar dan baik dan layak selama hampir seminggu. Rambut kami mulai berkutu karena kami banyak berkeringat dan tidak punya cukup air untuk keramas. 

Kami tidak punya cukup air untuk menggosok daki di badan kami. 

Aku keramas dengan menggunakan air satu botol aqua. Dan mandi dari air sisa pemberian Albert tadi pagi.

Aku terpaksa mencuci celana dalam dan bra yang kujemur masih ada busa– aku tidak peduli. Kami tidak punya cukup air untuk membilas hingga air bening kembali. Hanya dua variabel itu yang kucuci. Sisanya aku tak peduli. Kupakai berulang dengan bantuan angin, matahari, dan kispray. 
Aku hanya ingin berdoa keras sedikit marah: Oh tolong berkati perempuan-perempuan yang menstruasi di musim kering!

 
Aku mendengar di semua tempat hujan, basah, dan banjir. Hanya di tempat kami yang kering dan orang-orangnya berkutu dan berdaki karena tidak mandi. 

Berkali-kali dalam beberapa hari, mendung gelap awan menahan sesuatu. Lalu lewat begitu saja tidak jadi mengeluarkan sesuatu entah yang tertahan. Lewat. Mungkin turun di Ayam atau Yepem atau di laut. 
Suara kipas angin adalah selalu yang paling  brengsek. Di tengah percakapan atau tidur nyenyak aku bisa tiba-tiba terkaget. Suaranya seperti hujan yang baru datang berbarengan angin menyentuh atap-atap.

Dan saat semua orang mulai pasrah– mengangkut air kolam ikan yang warna cokelat teh tubruk kental,  atau membeli aqua seharga ratusan ribu satu karton,  saat itu pula dikirim hujan yang sebentar. Yang mungkin bisa menyambung hidup kami sampai besok atau besoknya lagi. 

Hujan yang sebentar, yang entah keran kami sudah menyala atau belum. Tapi hidup disini kami belajar selalu menyalakan harapan.  Dan keyakinan. Dan ketidakcemasan: tidak mungkin makhluk dihidupkan disuatu tempat tanpa disediakan minum,  tidak disediakan air untuk bersuci,  untuk membasuh kekotoran. Yang perlu dilakukan disini hanya: tidak perlu cemas. 

Hint: Lumpur

Aku tidak akan memberitahu aku dimana. Aku hanya akan bercerita. Kuberi tahu. Ada yang cukup menggembirakan dengan kehidupanku sekarang. Meski aku tidak mengenal satupun nama restoran mahal yang semua teman dalam grup whatsapp ku sebutkan di Pasific Place. Tidak juga aku paham mereka membicarakan film apa yang sedang tayang. Aku cukup gembira. Bahkan gembira lebih dari sekedar cukup. Kalau-kalau bisa kutemukan bakso dengan jeruk nipis harga sepuluh ribu. Kami disini tidak ada hiburan. Orang-orang kaya kebingungan membelanjakan uangnya dimana. Tapi segala sesuatu disini bagiku selalu ada yang bisa menghibur. Setiap hari selalu merupakan tamasya. 

Aku kehabisan suara malam ini. Tapi energiku bertambah. Suaraku serak karena berteriak-teriak. Ini salah satu keuntungan hidup satu rumah dengan para laki-laki. Kami bisa menyanyi dengan petikan gitar dan tabuhan perkusi yang seolah main-main tapi teramat cantik dan menghibur. Kami berteriak semau kami. 

Aku cukup senang menyanyi Iwan Fals sepanjang beberapa jam sambil mengunyah mangga asam. Ini keuntungan hidup satu rumah dengan para lelaki. Mereka bisa menggeol geolkan suara gitar yang tak bisa kubayangkan bagaimana cara kerjanya. Kalau aku kehausan di panas terik mereka akan hampir selalu menawariku membeli es blender di dua belokan dari rumah. Satu-satunya hal tidak mengenakkan adalah aku tidak bisa berpakaian sembarangan. Tidak bisa bebas tidak memakai bra semauku. Selebihnya aku tidak perlu berurusan dengan tanggal menstruasi mereka. Mereka cepat tanggap soal isi kepalaku yang terkadang lebih sering kotor.
Aku cukup gembira disini menyanyi dan berteriak semauku seolah kami sedang di panggung akustik bistro mahal. Menyanyi mulai lagu kelas Louvre sampai kelas trotoar pasar baru. 

Terkadang kalau kami pulang belum terlalu malam dari minum kopi dekat Polres,  kami goler-goler dengan lampu kasih gelap. Memasang speaker bluetooth dengan lagu Payung Teduh….. 

Rindu ini merdu seketika……

Lalu meminta pada Bang Roy, kalau aku ingin menangis dan dia menanyakan pertanyaan pertanyaan biadab. Bukan aku menjadi menangis  malah mereka dapat informasi konfidensial soal angkot. Yang selalu mereka bahas. 
Kulitku hitam dengan banyak bercak putih. Berkeringat panas, terkena air. Balas bogo orang sunda bilang. Aku tak peduli. 

Kulit kepalaku gatal setengah mati. Ada kutu sepertinya?  Aku lebih tak peduli. Kalau memang sampai rambutku berkutu, aku akan menjadikan hobi baru mencari kutu di samping kolam. Dengan petikan gitar Close to You di siang hari atau lagu Eva Cassidy. Aku tak peduli dengan kulit hitam atau kutu. Aku lebih peduli kalau apr yang aku dapat disini: kegembiraanku, keherananku, ketidaktahuanku–hilang. 

Lumpur ini begitu membuat jatuh cinta. Aku–dan semua orang disini mengakui: tak mudah hidup disini. Tak dimanjakan hidup disini. Tapi cinta yang membawa kami selalu ingin terbenam. Aku sekarang tahu apa resep rahasia hidup disini: jangan cemas– dan nikmati setiap perjalanan. 

Biarkan dirimu mengambang. Dibawa surut naiknya air. Anggap kau adalah karaka. Pasrahkan tubuh dan seluruhmu pada Zat entah. Yang boleh kau anggap sebagai penguasamu. Pemilikmu. Selalu tempat kembalimu. 

Pesta Budaya 

Sebuah momen dimana semua manusia yang memiliki berkumpul. 

Kalian harus tau disini teramat panas menyengat. Terang. Mungkin alam memberikan hadiah bagi para fotografer dengan memberikan latar awan dan langit yang teramat cantik untuk ditangkap gambarnya. Tapi dengan konsekuensi, matahari 7x lipat lebih terang daripada biasanya.  Tuhan juga sedang sangat baik padaku terutama. Ketika aku membatin bagaimana caranya aku cebok dan mandi kemarin pagi, sebelum subuh Dia kirim hujan teramat besar. Meski siang hari akan tetap panas sangat terang seperti ribuan lampu sorot dipasang bersamaan. Supaya kami bisa tetap bergembira ketika siang sampai menjelang malam. 

Semalam ada tabuh-tabuhan yang tidak henti dipukul-pukul. Semalam suntuk sampai pagi terang. Untuk menunda kematian mereka bilang. Kalaupun kematian datang menjemput melaksanakan tugasnya, tidak cukup mampu mematikan nyawa yang tidak bisa mati–meskipun dia benar-benar hidup. 

Aku berhenti mengeluh kepanasan. Karena apalagi yang aku minta disini kalau aku selalu menari dan menyanyi mensyukuri alam dan leluhur. Memuji pemilik alam dan pencipta leluhur. Tempat ini tidak pernah benar-benar lelah soal menari dan menyanyi. 

Wowirpit adalah selalu yang paling ajaib disini menurutku. Tangannya penuh magis membentuk keindahan yang tidak dirancang. Bukankah memang sebenarnya keindahan tidak pernah benar-benar dirancang? 

Kami datang dari jauh.  Berkumpul. Tidak kenal menjadi kenal. Lesu menjadi gembira. Bahkan aku yakin,  siapapun yang kutemui disini, akan menghubungkanku dengan kalian. Entah siapapun entah dimanapun. 

Ini bukan sembarang pesta. Tidak ada tuan rumah. Tidak ada anggur atau kue stroberi. Ini pesta sebentar. 32 kali setidaknya dalam 32 tahun, mereka disini mengistirahatkan peran melelahkan: memangkur, menggendong, menjaring, meratap. Untuk setidaknya menyadari: selalu ada hal yang bisa menjadi alasan bergembira. Selalu ada alasan untuk menari dan menyanyi. 

Selalu ada alasan bahwa air mata masing-masing mereka tidak menghentikan pinggul mereka bergoyang. Dengan awer dengan bulu kuskus dan kasuari. Dengan dunia masing-masing manusia yang menyerahkannya pada pesta ini. 

Agts Bulan 3

Aku hidup di suatu tempat yang teramat panas jika dia sedang ingin panas. Hingga menyengat rasa terbakar langsung menuju kulit. Memerah dan mengelupas kulitku hitam seperti kerak gula dalam belanga panas. Aku hidup di suatu tempat yang jika dia sedang ingin dingin, aku bisa menggigil kedinginan hingga memakai kaus kaki. 

Aku tidur diatas kasur yang setiap aku bergerak terasa seperti ada bunyi keripik-keripik remuk. Tapi aku bersyukur dan bergembira. Dengan kelambu putih seperti tenda dapur umum. Aku hidup di sebuah tempat yang tidak ada satupun orang berani mengutuk hujan lebat. Meski aku–dan mungkin kami semua disini harus mengganti payung setiap dua atau tiga minggu. Karena habis hancur terkena hujan. Terkena angin. Atau karena memang karat terlalu lama disimpan tidak terjual. 

Aku hidup di suatu tempat.  Yang bisa kau lihat kepiting dan ular bersama dalam satu lumpur di bawah lantai tempat kaki menginjak. Berjalan miring atau keluar masuk lubang yang banyak. Seperti sarang semut. Seperti sarang tawon. 

Aku hidup di suatu tempat yang langitnya apabila senja dia nila atau jingga. Semau warna yang dia suka. 

Aku hidup di suatu tempat yang bintangnya menyebar kecil kulihat. Kadang ia terserak seperti beras putih di tanah pakan ayam. Kadang ia terkumpul satu jalur satu garis. Membentuk andai ia sungai. 

Aku hidup di suatu tempat yang berisik malam tidak ada selain kungkong katak. Berlombanya mereka.  Ganti bergantian. 

Aku hidup di atas genangan air jorok. Hitam kadang hijau. Kadang coklat Pramuka. Yang menyangkut beberapa kotak teh, atau kaleng penyegar panas dalam. Aku hidup di suatu tempat yang hidup serangga kecil penggigit penyebab gatal setengah mati. Aku hidup di suatu tempat yang seruan sahurnya tidak terdengar dan seruan takbir malam lebarannya tidak ada. 
Aku hidup di suatu tempat yang seluruh sudut dan hamparan adalah panggung.  Berdiri diatas tempat yang selalu lebih tinggi. 
Aku hidup di suatu tempat yang kakimu adalah yang bisa membawamu berpindah. Membeli garam di siang hari, atau mencari lombok penambah pidis. 

Aku hidup di suatu tempat–yang hanya ke arah atas kau menengadah memohon tetes-tetes lebat tanpa menggerutu takut baju cantikmu kebasahan atau jemuranmu tidak bisa kering. Aku hidup di suatu tempat yang selalu basah di bawah pijakan kakimu tapi bisa menangis karena kehausan.

Tanah ini begitu unik. Tapi aneh. Tapi membingungkan tapi membuat jatuh cinta. Selalu soal perihal hati dan rasa. Tanah ini begitu unik dan aneh. Tanah basah yang tidak punya sumber basah. Yang hidup manusia-manusia dan seluruh makhluknya mengandalkan betul belas kasihan Tuhan. Tidak ada yang lain yang menghidupi selain belas kasih dari langit. Aku selalu berpikir sejak dulu, siapa yang menyimpankan air dalam tanah? Orang akan bisa lupa bahwa air adalah pemberian. 

Aku hidup diatas tanah basah.  Yang hampir sering gempa menggoyang dan kami merasa sedikit senang karena bertambah hiburan kami bergoyang guncang-guncang.  

Aku hidup di suatu tempat yang kami pergi mencuci ketika hujan lebat bukan ketika panas penuh menyengat. 

Aku hidup di suatu tempat yang tidak kukenal satu orang manusiapun. Aku asing dan mulai berkenalan dengan diriku sendiri. Siapa aku. Sudah kenalkah aku dengan aku. Aku menjadi orang yang sama sekali asing. Dengan diriku sendiri aku berkenalan. Mencoba memaafkan–jangan-jangan bagian diriku sendiri yang hilang ia kabur entah kemana karena marah dan sesekali bosan. 

Aku menjauh. Kelihatannya begitu. Tapi aku justru mendekat. Kalau kalau memang bagian diriku yang hilang sudah kutemukan kembali– ia akan kugandeng dan kuajak pulang. Berjalan di atas papan. Sambil setiap kali langkahnya menyentuh papan rangka, kumohonkan ia maaf yang sungguh benar-benar besar. Karena aku nyaris membunuhnya. Menguburnya hidup-hidup. Dan sekarang akan kucari akan kugali. Meski menggali di kedalaman becek lumpur.