Anak Mulut Sumpal Kain

Aku kenal seorang anak. Hobinya bermain perang-perangan. Bukan perang macam starwars atau starship troopers. Bukan perang bintang yang menggunakan pedang dan sepatu lampu menyala-menyala. Bukan perang yang laju kendali kau pegang dalam sebuah ruang dingin terang yang bisa terbang ke utara atau selatan sekejapan kedip mata. Bukan. Bukan yang seperti itu. Anak itu tidak hobi yang perang macam begitu. 

Anak itu hobi bermain perang kerusuhan. Kerusuhan agama. 

Austin namanya. Tanpa Power. Kupanggil ia Tin. Tin yang seperti buah tin. 

Sesekali ia main perang dan berperan dengan teman-teman satu pengungsian jika mulai bosan ia menunggu kapan akan dijemput. Kadang kala ia berperan menjadi seorang Muslim yang memiting kepala dan ketiak teman Katoliknya. Sesekali ia mencari pelepah pisang digunakannya ia serupa ak47. Mau sesekali ia serupa angkatan bersenjata. 

Tin menembak mati. Kadang menebas pura-pura. Teman satu pengungsiannya tergelepar seperti ikan sepat habis kena serok satu kali ciduk. 
“Tin……….!” 
Nenek Tin memanggil. Tin harus mandi. Badannya penuh debu lapangan setelah habis ia berguling dalam perang kerusuhan.
Selepasnya kalau malam sudah mulai datang kasih gelap kembali. Ia harus rapat-rapat meringkuk di ketiak Nenek. Tin sebenarnya ketakutan. Gereja itu gelap. Tin takut bukan pada gelap. Tapi pada suara ketika tidak ada suara. 

Tin yang cengeng hobi berkelahi. Tin yang manja suka menempeleng. Tin terlalu banyak menonton kekerasan. Serupa opera dalam gedung teater rakyat. Terbuka dan tanpa sensor. Tidak dipungut bayaran dan tanpa membeli karcis. 

Ada yang aneh. Ada yang aneh. Ini bukan sebuah cerita pendek ternyata. Ini cerita. Cerita saja. Tanpa pendek. Kalau beberapa kala kemarin aku menulis soal kamp Yahudi atau Srebrenica. Aku sekarang berbicara soal tempat yang begitu dekat denganku. Dan aku bersedih ribuan kali karena ternyata ia dekat. 

Tin adalah anak Indonesia. Dua puluh sekian banyak tahun lalu. Tin yang anak-anak, hampir mati ketakutan. Hanya karena ia Katolik. Hanya karena ia menunduk dan menutup mata menderas Salam Maria. 

Ia hampir mati tercekik habis napas karena ada kain menyumpal mulutnya. Mulut liarnya yang menangis menjerit akan membahayakan dirinya sendiri. Nenek mengambil segumpal kain. Menyumpal mulut yang besar jeritannya. 
Gereja padam terangnya. 
Ia Katolik dan ia ketakutan menjadi Katolik. Ia sesekali takut dibakar dan ditebas. Ia diteriaki kafir. 
Kalimat yang mereka teriakkan bukan lagi menjadi puja dan puji. Tapi terdengar serupa seruan ancaman. Isi semesta ketakutan. 
Tin kecil hampir mati ketakutan. Diserbunya mereka dalam gereja padam. 

Ada yang entah aku pertanyakan. Apa yang pertama kali ia pikirkan soalku. Aku sempat malu muka. 
Tin melanjutkan cerita. 
Yang menghalangi pintu gereja dari serbuan adalah ayah dan ibu kecilnya. Yang muslim! Yang berteriak harus melangkahi mayat mereka untuk dapat masuk.
Kuberitahu: masa kecilku dan masa kecil kalian terlalu indah. Yang permasalahan terbesarmu saat itu adalah kalian terlalu banyak memiliki tazos dengan gambar Duffy Duck dalam koleksimu. Dan kau menggerutu karena itu. 
Jangan lagi kalian sebut masa kecil suram ketika kau nakal dan membangkang ayahmu akan menarikmu ke kamar mandi dan menggerujugmu lalu mengeramasi. 

Tin kecil hampir mati ketakutan. 

Ia masih hampir mati ketakutan meski dia sudah pindah pengungsian. Bukit Rosenberg. Sanatorium kusta. Itu teman barunya. Tapi ada yang belum baru: ia masih hampir mati ketakutan. 

Aku tidak akan menyalahkan Tin, jika saat kami pertama bertemu ia melirikku sinis bahkan meludahi. 
Aku juga tidak akan marah jika memang perlakuan dia akan paling beda ketika aku bertamu ke pastoran. 

Tapi dia tetap memasakkanku ikan ketika seisi rumah sedang berpesta daging anjing bumbu Manado. 

Dia menungguiku gerimis-gerimis di depan mesjid sampai aku selesai shalat Maghrib lalu dia mengantar dan memastikan aku sampai kembali pada teman-temanku di Ambay. Bukan hanya sekali atau dua. 
Perlu kalian tahu: hanya aku muslim sendiri dirumah ini. Dan di lingkunganku.  Tapi mereka menyayangiku lebih dari apapun dan siapapun. Aku diantar dan dijemput jika aku ingin shalat dan bermain dengan anak-anak TKA. Aku selalu dimasakkan sesuatu yang bisa kumakan dengan halal. Mereka mengecilkan suara ketika aku shalat. Mereka menemaniku menjalankan Islamku.

Srebrenica dan kisah Tin mengungkap: bahwa selalu akan ada yang menjadi monster tidak terlihat. Bukan hal yang selain kamu. Bukan yang berbeda denganmu. Bukan yang tidak sama denganmu.
Dimanapun dan menjadi siapapun kamu, akan selalu ada yang menghantuimu. Meneriaki tidak beriman dan salah jalan. Meneriaki paling keliru dan tidak selamat. 

Selalu akan ada yang berteriak paling kencang: kalian sesat. Kalian tidak suci. Kalian tidak akan pernah selamat. 

Tapi bukan mereka yang berbeda dengan kita cara merapal doanya. Atau yang berbeda mengucap salam pada semesta. Bukan yang berbeda pegang rosario atau tasbih. 
Monster itu tidak terlihat. Tidak memiliki nurani dan cinta kasih. Tidak memiliki justifikasi tidak bisa dipersonifikasi. Monster itu tidak terlihat. Masuk ke dalam sel-sel dan dinding pembuluh darah. Ia menjalar seperti hemlock yang begitu cepat mematikan otak. 
Ia seperti serupa virus. Yang mengendap dalam darah manusia dengan antibodi lemah. Yang hati nurani dan kasihnya ia hemat-hemat berikan hanya pada yang mereka pilih. 
Selalu ada yang seperti virus dan monster sialan itu. 
Tapi selalu ada juga penawar bagi setiap racun. Yang menakutkan bagi monster jahat: kasih.
Tapi aku, aku sampai sekarang masih mau akan menganggap monster itu hanya legenda masa lampau. Karena aku selalu dikelilingi manusia sehat tidak terinfeksi. Yang kasih dan cintanya begitu berlimpah tidak pernah berkesudahan. Yang mungkin sama isi kepalanya denganku, yang selalu yakin: Tuhan akan berhenti senang kalau kita menghemat-hemat kasih.
Mereka orang yang berteriak “kafir…kafir…” harus sesekali pergi makan malam denganku. Hidup dalam rumah yang kutinggali. Kami berdoa makan sesekali dengan Doa Bapa Kami, sesekali dengan doa lembut Protestan, sesekali juga dengan allahuma bariklana….
Hidup dalam heterogenitas tidak menjadikanku pudar apalagi tercemar. Hidup dalam perbedaan dan keberagaman justru semakin menegaskan identitasku. Keyakinanku. Bukan dan tidak pernah menegasi. 
Lagi-lagi, aku yakin Tuhanku penguasa semesta tidak akan marah jika kita berbagi sedikit kasih. Apalagi banyak. 

*untuk T. Atbar, anak kepala menangis yang mulutnya disumpal kain– yang mengajarkanku pengampunan dan kematangan spiritualitas.

Advertisements

Botak Pecak

Agats, Januari – Februari 2018

Air pasang untuk kesekian kali mendorong harapan dan suara minta tolong, yang megambang di atasnya yang masih cokelat, keruh, dan jorok.  Segalanya terbawa bersama serakan botol air mineral dan sampah rumah tangga, bahkan sampah sumpah serapah yang dibuang sembarangan ketika meludah air pinang dengan bebasnya ke daratan perut ibu, tanpa mereka indahkan perasaan lumpur yang dipijaki. Tak ambil pusing dan semua menganggapnya lumrah. Walau mungkin meninggalkan kesan jorok dan jijik bagi sebagian yang bukan penikmat cemilan pinang kering dengan sedikit kapur yang melengkapi rasa dan memberikan  sensasi kesempurnaan. Daratan lumpur seperti dilukisi dengan karya abstrak dari mulut-mulut pecinta pinang yang kerap ngomong ngalur-ngidul seraya memamerkan tumpukan gigi yang merah agak mengarah kehitaman. Kadang juga berteriak dengan lantang ”bareoooo….pecak (ooo..betapa malangnya)”. Makin lama perutnya kian membuncit dan lipatannya melampaui gundukan tai sinak. Aku hidup di atas kota rawa yang terlihat berjerawat dan agak bopeng  karena bertebaran hamparan gundukan kotoran  hewan yang berwarna merah, sepintas terlihat seperti monster udang berukuran tanggung yang kerap keluar rumahnya waktu air pasang sempurna. Sinak. Begitulah penduduk setempat menamainya, namun perut Asmat bertambah besar sekarang. Bukan karena ibu sedang mengandung, namun karena lapar perutnya sampai menggembung sampai membusung. Bau lumpur semakin busuk. Bercampur dengan kepedihan dan derita yang semakin menggelembung. Seperti anak lapar tertunduk lunglai karena tidak dapat makan sagu, itulah wajah Asmat yang kini aku tempati.  Yang  tersisa bukan lagi ukirannya yang mendunia namun sebab perut buncit para anak dan ibu yang diisi dengan angin dan entah apa. Sesekali aku ingin mengutuk dan mendatangi satu per satu manusia yang kutemui dan bertanya “Siapa yang bertanggung jawab dengan semua ini ?”. 

Asmat menangis dalam kesedihan mendalam. Asmat enggan membalas tatap. Ia sibuk meratap. Asmat enggan membalas jawab. Padanya semua melempar tanya dan salah. Padanya semua menagih pertanggungjawaban.

Aku melihat perempuan botak meraung menengadah. Memohon seumpama ada diatas kepalanya yang bisa berbelas kasih. Bersamanya pula aku merenungi wahai apa ini. Dalam kesedihan yang mendalam, hatiku membuncit terisi angin kesedihan. Botak kepalanya baru cukur. Sebuah pertanda duka cita. Sebayi kecilnya yang belum dua tahun baru saja diselimuti kain putih hingga menutup wajahnya. Ia mati. Meninggal. Wafat. Tewas. Entah kata apa yang cukup cocok untuk bayi itu. Ada yang membunuhnya. Sebuah monster besar. Tapi ia tidak terlihat. Terlalu halus dan tipis seperti selaput. Tapi ia besar dan mengerikan. Ia datang tanpa pemberitahuan. Ia datang tanpa keliru alamat. Ia membawa sekantung penuh entah apa. Hendak ia bagikan rata pada anak-anak. Seperti santa claus mata satu. Ia membunuh. Tapi ia entah apa.
Adonimia Yeripit tidak pernah sangka ia antar anaknya menuju sebuah yang semua orang sebut sebagai kematian. Biasanya ia pergi ke seputaran rumah sakit untuk bermain di Tugu Tangan atau mengantar anaknya yang lain bermain bola kaki dari gulungan kertas bekas pemberian fotokopi di lapangan koramil. 

Sekarang ia harus botak. Sekarang ia memilih membotaki kepalanya. Ia kehilangan anak bungsunya. Yang kaki dan tangannya mungil tipis tulang. Dan perutnya menggembung buncit. Keras dan seperti nyaris meledak. 

Sekarang ia harus botak. Dan menangisi lebih banyak hal lagi. Soal bagaimana ia pergi gereja dan mencari dimana derma esok hari. Soal kesedihannya melihat sebayi kecilnya yang masih ringkih dan harus melihatnya dikubur dalam rendaman lumpur yang menggenang. Soal bagaimana mengantar bayi kecilnya yang kaku dan tidak bergerak– yang perutnya busung nyaris meledak. 

Ia hanya kembali meraung sambil menengadah. Berharap ada belas kasihan dari atas kepalanya atas kemalangannya. 

Adonimia berduka dan malang. Asmat berduka tapi tidak malang.

Aku jatuh cinta untuk pertama kalinya kepada Asmat tahun lalu. Waktu hujan mengguyurnya, maka ditampakanlah keindahan  luar biasa. Namun kini hujan seperti seumpamanya ia air mata. Ia menangis.

Atau mungkin cinta ini yang absurd. Aku terpikat pada lumpur. Pada ketenggelaman lumpur. Tapi rasanya aku kehilangan arah untuk berjalan didalamnya. Kompas batinku mati seketika saat melihat semua kejanggalan yang terjadi. Betapa teririsnya bersentuhan dengan anak-anak yang kekurangan gizi untuk tubuh maupun otak mereka. Namun yang membuat mereka kuat yakni karena ibu. Alam yang memelihara dan mendidik mereka dengan cinta yang asri tanpa  ada parasit yang mempolitisir di dalamnya. Aku tak sangup berbuat banyak selain meratap sesekali mengutuk pada entah apa entah siapa.  Aku hanya seperti hujan semalam yang jatuh menggenangi sebagian papan lapuk. Hanya diiingat saat malam dan ketika matahari mulai beri sinar megah, aku mengering dalam seantero ingatan.

Adonimia gundul dan malang. Adonimia botak dan pecak.

Adonimia sekarang harus botak. Dan menangisi lebih banyak hal lagi. Soal bagaimana mencari dimana derma esok hari. Soal kesedihannya melihat sebayi kecilnya yang masih ringkih dan harus melihatnya dikubur dalam rendaman lumpur yang menggenang. Soal bagaimana mengantar bayi kecilnya yang kaku dan tidak bergerak—yang perutnya busung nyaris meledak.

Ia hanya kembali meraung sambil menengadah. Berharap ada belas kasihan dari atas kepalanya untuk kemalangannya.

Adonimia dan aku tidak banyak memiliki kisah. Tapi setiap pertemuan dengannya selalu ada keceriaan dan keramahan yang tidak pernah habis dia kembangkan. Membuatku merasa berat untuk berpisah dengannya. Ibu yang ramah juga baik dan cantik. Meski selusin giginya merah kena noda pinang, meski ibu jarang mandi namun selalu memberikanku camilan pinang kering lengkap dengan sirih buah dan sedikit kapur dalam lintingan plastik bening. Ibu yang menyapaku lembut dengan nama anakku sayang meski sebenarnya aku lebih tua darinya beberapa tahun. Selalu menertawakanku saat aku mabuk pinang. Aku membawakannya rokok kretek dan ia memberiku seumpama cinta dalam lempengan pinang kering yang pipih. Hampir seukuran dengan hosti yang aku makan pada perayaan Ekaristi hari Minggu. Hanya saja diameternya kurang mencukupi. Kami duduk di pasar bak preman pasar yang nimbrung di dekat bait suci. Berbicara panjang lebar tentang banyak hal dengan diselingi tawa muncrat bersama semburan tai pinang dari mulut masing-masing. Anak-anaknya sebanding dengan gelodok yang bersliweran dekat papan sambil sesekali berselancar dengan tubuhnya dan menciptakan nada “clup…clup…clup” di atas kulit air. Kami menyaksikan pengemudi motor yang tanpa helem, tanpa tau aturan lalu lintas, tanpa lampu merah. Bahkan tanpa takut untuk ditilang polisi karena memang di kota ini tak ada satu orang pun yang memiliki SIM. Kami hidup bersama alam dan kebebasan.  Bersama lumpur dan karaka pun gelodok yang berpesta pora dalam kubangan lumpur. Sebelum akhirnya semua itu berubah saat monster setipis selaput yang tidak terlihat membuntuti kami. Ia seperti santa claus mata satu. Ia enggan melihat dengan baik. Campak serta gizi buruk merenggut sebagian besar nyawa adik-adikku bahkan teramat kasihan sebab mereka yang belum sempat belajar makan buah pinang.

Rasa nyaman begitu besar ketika aku masih dipanggil “sayang” oleh mereka. Tak takut aku berenang dalam lumpur cokelat penuh tai. Karena banyak ibu dan ayah serta saudara yang mencintaiku bahkan berani menamaiku dengan panggilan sayang.  Namun kini aku sangsi. Saat aku melintas di depan pasar, tak ada lagi ibu yang melambai dan memberiku  camilan pinang. Semuanya seakan berpaling. Semuanya sibuk membotaki kepala sambil meraung dan meratap. Pada papan reot atau hujan tengah malam. Aku dilema. Seakan rasa benci pecah ketika melihat santa claus bermata satu. Berpapasan denganku. Campak dan gizi buruk dalam batinku bahkan lebih sadis dari ulat sagu yang menggerogoti pangkal sagu sendiri. Ibu dan anaknya sama-sama menderita gizi buruk dan campak kini dan aku merasa seperti gelodok tak berguna. “Ya Tuhan….aku ini gelodok tak berguna”. Gumamku disela rintik malam yang kesekian kalinya setelah disembunyikan awan untuk beberapa saat yang lama.
Namaku Adonimia Yeripit. Anakku mati. Meninggal. Wafat. Sa pu anak ada hilang ditelan mati.

Dia anak ketujuhku di usia 23 tahun. Namanya Aloysius Desnam. Kuberi nama dia Aloysius, nama pemberian seorang Frater asal Bandung. Ia memberi nama anakku seperti nama sekolahnya dulu. 

Aloysius anakku paling kecil. Paling mungil dan paling tipis. Sejak ia lahir ia tidak punya pipi bulat dan mata bersinar dengan bulu mata lentik seperti keenam kakaknya. 

Matanya bulat nyaris keluar seperti mantan mantri gila perempuan di kampung kami dulu. Aku sempat berpikir jangan-jangan anakku terkena kutukan memiliki wajah dengan mata sepertinya. 

Kulitnya terbungkus kulit tanpa daging. Bahkan aku bisa melihat dan meraba sendi-sendi tulangnya. 

Perutnya membusung seperti nyaris meledak. Ketika aku sekolah dulu, aku pernah diberi lihat guruku sebuah gambar. Sebuah negeri bernama Ethipoia atau Ethiapoi atau Etaaipoi atau Ethiopia, entah apa namanya. Ada sebuah gambar seperti anakku. Anak dengan perut membusung nyaris meledak tapi mata belo nyaris keluar yang cahayanya redup tatapannya kosong. Gambar itu seperti anakku. 

Aku adalah perempuan celaka yang seluruh hidup sisanya kuhabiskan untuk menyesal. Aku menyesal tidak bertahan sebentar lagi saja untuk tetap sekolah. Aku merasa celaka. Dan berhutang pada diriku sendiri di masa depan. Aku berhutang pada anak-anakku. Yang mati kelaparan. Yang mati dengan tulang tipis dan perut nyaris meledak. Aku berhutang pada mereka. 

Kalau aku sedikit saja bersabar dengan mulut dan pukulan busuk orang tuaku, aku akan memakai kebaya kutubaru atau atau kebaya Kartini dengan kain di kabin pesawat maskapai kelas satu. Dan kalau aku sedikit saja bersabar untuk tidak menukar usia remajaku dengan pinangan yang tidak seberapa berarti– aku bisa mengajak dan melayani anakku sendiri di dalam pesawat agar tidak kelaparan. Dan anak itu bisa Aloysius bisa bukan. Bisa ia gemuk menggemaskan, bisa juga tetap tipis tulang ringkih patah.

Atau bisa juga aku menjadi pemain peran di gedung teater atau menjadi penyanyi di broadway. 

Guruku pernah mengatakan aku adalah anak Asmat paling cerdas. Aku fasih berbahasa Inggris dua kali lebih cepat dibanding temanku dari Toraja atau Manado. Aku paling gigih mencari tugas mewawancarai sejarah atau meneliti pergerakan tanaman terhadap matahari. Aku mengikuti lomba sprint dan marathon yang persyaratannya adalah laki-laki. Aku mampu menganalisa persamaan-persamaan yang bahkan tidak mampu dikerjakan guru Sejarah atau Bahasa Inggrisku. Aku kepala goyang dan badanku paling lentur diantara semua temanku. Aku pandai mengukir dan menganyam noken. Aku adalah anak paling cerdas yang pernah ditemui guruku di Asmat. 

Sampai semuanya berhenti. 

Pinangan tidak seberapa berarti itu mengantarku pada sebuah awal yang sebenarnya bagian paling akhir. 

Pernikahan yang melelahkan. Pukulan dan makian. Mengandung ketujuh anak. Badan dan vaginaku lelah. Aku hanya terus disetubuhi tanpa diberi makan dan uang belanja. Jangankan lipstik dan tas chanel atau kaus zara. Pernikahan cuma sekedar legalisasi persetubuhan yang disahkan bapak Pastor. Aku mencari sendiri kayu bakar untuk memanaskan sagu yang kuperoleh susah. Laki-laki dirumah kami hanya berfungsi menyetubuhi dan menghamili. Akulah kepala keluarga sekaligus ibu yang manis. Aku harus membelah kayu bakar dan memetik pucuk pakis di lumpur halaman sekolah inpres sambil menggendong dua anakku yang masih bayi. Sementara kelima anakku mulai merengek kelaparan. 

Tidak ada yang bisa kumasak. Tidak ada yang bisa kupakai membeli apa yang bisa kumasak. Tidak ada yang bisa kucari selain pucuk pakis atau kangkung jorok. Sungai terlalu jauh. Tidak dapat kuserok ikan atau udang seperti yang digambarkan dalam iklan wisata alam. Urusanku terlalu banyak dan brengsek untuk pergi berjalan jauh ke sungai dan hutan. Anak balita yang terlalu banyak dan penuntut. 

Kalau sudah begitu dengan kesal kuberikan mie instan supaya mereka kunyah mentah-mentah. Hingga mereka kenyang dan mulai diam. Urusanku terlalu banyak untuk memenuhi standar yang bahkan tidak pernah cocok untuk kami. Kesehatan apalah itu. Biar sudah! 

Urusanku terlalu banyak. Mengangkang melayani libido laki-laki. Mengurusi balita yang selalu merengek. Mencari kayu bakar untuk menjarang air guna putar kopi. Urusanku terlalu banyak. Memberi makan banyak sekali orang. Aku hanya mampu turun lumpur dan memetik pakis. Badanku sendiri tidak ada isi dan tenaga. Aku kelaparan. Aku menyesal. 

Seandainya aku bertahan sedikit saja. Aku yakin bisa menjadi perempuan pertama yang menjadi Bupati. Atau perempuan pertama dari kampungku yang menjadi pramugari atau pilot. Atau perempuan pertama yang menjadi apapun yang aku inginkan. Yang memastikan anak-anakku tumbuh cerdas dan segar badannya. Yang memiliki otoritas atas tubuhku. Menentukan kapan tubuhku: untuk mengandung, untuk melahirkan, bahkan disetubuhi. 

Aku ingin membayar hutangku. Aku ingin memperbaiki. Aku ingin anakku kembali. Kutumbuhkan menjadi anak yang tidak nyaris meledak perutnya. 

Aku ingin jika aku membotaki kepalaku, itu karena aku memiliki hak atas tubuhku dan menjadi gembira karenanya. Bukan karena botak dukacita. Bukan karena aku merayakan kematian anakku. Bukan. Tidak pernah sekalipun.

*Untuk Asmat sayang o. Cepat sembuh Asmat. Jangan sakit. Jangan sakit. Cepat sembuh. 
Tino-Trias

#cerpen #ceritapendek #Asmat #giziburuk

Cemenem: Rumah Ambay

Beberapa kali aku keceplosan dan semua sahabatku di Bandung marah. Mereka mendengar bahwa aku mengatakan ‘pulang’ dan ‘rumah’ merujuk pada Rumah Ambay. Bukan Bandung lagi. Mereka bersedih. Katanya aku seperti bukan anak Bandung lagi yang suka naik angkot atau menghabiskan uangnya di cafe atau jajanan yang berkelimpahan.
Aku entah salah atau tidak, sudah merasa Rumah Ambay adalah rumahku. Rumah saat aku butuh tertawa atau penghiburan. 

Rumah Ambay. Isi rumah itu…… Aduh. Bisa emosi sendiri aku menceritakannya. Isinya penuh pria-pria culas yang tidak habis menggodaku. Menggoda dalam artian bukan genit gombal manis. Tapi menggoda sampai aku menangis karena kesal! Apa yang paling membuatku gembira dengan mereka adalah mereka memiliki kisah dan mereka mau berkisah. Meskipun itu hanya pada momen-momen yang tidak terduga dan tidak direncanakan. Sisanya? Semuanya soal hal jorok dan kotor. Meski mereka sanggup membicarakan eksistensialisme Sartre sampai Kierkegaard. Juga mengenai pendaratan roket dengan mulus di planet entah mana. Juga membicarakan filsafat dari sudut pandang matematika dan fisika. Kalau kami sudah sampai pada pembicaraan macam begitu, mereka pasti akan membelokkan lagi obrolan ke topik asali dan orisinil mereka: pembicaraan kotor. 
Mereka bilang, berbicara mengenai hal cerdas dan sok pintar bisa dengan siapa saja, tapi kalau satu paket dengan pembicaraan kotor, itu hanya denganku. Dan mereka tidak rela kami menjadi sok pintar kampret kalau melulu membicarakan soal filsafat dan ilmu yang entah gunanya apa kami perdebatkan. Sial! 
Tapi aku tetap selalu butuh mereka, sahabatku disini. Para pria disini yang isi kepalanya tidak pernah bersih. Tapi besar kasihnya padaku. Aku selalu membutuhkan mereka, karena mereka yang menyalakan kompor untukku kapanpun aku berteriak. Kalau aku sudah pindah rumah tidak dengan mereka lagi, pasti aku akan datang menginap di hari Sabtu malam dan menjajah kamar salah satu mereka. Kalau di tempat baru aku kehabisan air aku pasti akan datang kerumah ini mandi dan keramas dan mencuci. 

Meski mereka semua laki-laki kampret yang paling sering kuadukan pada Mang Onal karena mereka sering menggodaku dan mengejekku. Jika sudah begitu Mang hanya akan bilang dengan tegas ” Roy, Dofir, stop ganggu sa pu konco!!”

Bukan hanya mereka yang sering kena marah. Kadang Albertus dan Dion sering juga kena marah. Meski sebenarnya kadang justru Mang sering tambah-tambah ejekan mereka untuk membuatku makin merengek. Tapi lalu Mang akan berkacak pinggang berteriak “Heh stop ganggu sa pu konco” 
Hahahaha. 
Kadang aku sering mengadu aduan-aduan fiktif. Biasanya Bang Roy dan Dofir akan memelototiku dan mengacungkan tinju padaku tanda mengancam. Tapi itu justru makin membuatku berteriak lebih kencang memanggil Mang. Hahahaha. Meskipun mereka paling jail dan keji menggodaku, merekalah yang dirumah ini yang membuat perjalananku menyenangkan. 

Kami bebas berbicara kotor karena isi kepala mereka yang tidak pernah bersih. Tapi mereka tidak pernah genit padaku. Mereka anggap aku laki-laki. Sering kami membicarakan politik atau sains tapi kemudian dibelokkan kembali pada isi kepala mereka yang kotor dan jorok. Lalu kalau mereka mulai lagi mengejekku, aku akan berteriak kencang mengadu: Maaaaaaaaaang!!

Paling sial adalah ketika Mang harus pergi ke distrik antar Bupati berhari-hari. Mereka pasti akan menjailiku dan bilang kalau “Ha mati koe mau teriak sama siapa Mang ada pergi seminggu” 

“Kau buat daftar sudah apa yang kami ada lakukan, dari seribu daftar Mang hanya akan ada marah satu kali saja. Pijit-pijit sebentar Mang su lupa”
Kalau sudah begitu aku hanya bisa menrengek pada Albertus meminta dibela. Meski jawabannya hanya: iyo.. Iyoo.. Iyoo.. Dan iyo!
Tapi bagaimanapun dia #cemenemforever ku. Kalau rasa haus dan diluar terlalu panas dia yang akan dayung keluar untuk cari minum dingin atau es batu. Dia yang paling mudah kuperas kalau dia punya rahasia lalu aku untung micin beberapa bungkus. Kalau Tino datang dan bicara mulai mengesalkan, aku akan berteriak “Albertuuuuuuuuusss….!” 

Dia yang antar aku kemanapun aku mau. Dia yang belikan aku jajanan supaya aku bisa ceria kembali setelah muka kentut.

Lalu Tino akan mulai menepukku dan bilang “hush jangan bilang Albert nanti dia kira kamu saya apain”.
Meskipun lelaki kampret ini adalah yang paling sensitif menilik apa yang terjadi padaku. Mereka paling sensitif kalau aku pasang muka-muka kentut. Merengut dan menyendiri cemberut tidak enak dilihat. 

Mereka akan hibur-hibur aku entah bagaimana caranya lalu tertawa. Entah dengan sogokan makanan atau kusuruh mereka cuci piring. 
Pernah satu kali aku kelaparan sore-sore. Selesai Daniel dan Beta masak aku langsung makan sendirian. Jam setengah 8 malam ketika Albertus pulang, dia mengajakku makan dengan yang lain, aku bilang “Gak mau! Gak selera makan! :(” *dengan muka memelas.
Lalu Albertus bilang “Hei ko makan sudah. Nanti ko sakit”
Aku hanya makin memelas “Gak mau 😦 gak selera”

“Mau sate? Yang di cemnes? Kambing?”
Aku dengan girang “Mauuuuuuuuuuu”

Hahahahah. Dia langsung ambil motor dan ke atm dan pergi cusss ke cemnes. Harus ke atm dulu karena itu sate paling mahal di kota ini. Hahahaha.

Ketika dia sampai, dan kubuka satenya dengan girang, Beta berteriak: NENG KAMU MAKAN LAGI???
Albertus murka. LU UDAH MAKAAAAN? KAMPRET GW DITIPU!

Hahahahah. 

Gara-gara Beta, aku harus cari trik lebih rumit lagi untuk membuat Albertus bisa kumintai jajan. 
Atau Bang Roy, gadunku nomor satu sejagad raya. Pernah dia membayar 3,2 juta untuk belanjaan kami. Padahal total belanjanya hanya 400ribu.

Aih betul kebaikan mereka dirumah ini benar-benar menjadi nyawa dalam perjalananku. 

Atau Mang yang mengajakku dengan Dion pergi membeli minyak bensin dengan alasan aku sangat ingin naik speed Bupati seperti apa. Peleeeeee kencaaaaang sekali! Aku sampai kesal dengan Mang. 

“Mang jangan terlalu laju! Nanti kita cepat sampai!”

Ya bagaimana. Aku biasa naik fiber 15 PK dan saat itu aku naik speed 115 PK.

Peleeee rasa dibawa seperti naik jet coaster! Lajuuuuu sekali! 
Tapi ada kalanya aku bosan dirumah. Bukan karena mereka membosankan. Tapi aku butuh keluar rumah untuk melihat senja, atau bertemu anak-anak kecil yang biasa memanggilku ketika aku lewat, atau karena memang aku butuh berjalan sendirian. 
Dimanapun nanti aku berada dan berpindah. Rumah Ambay akan selalu yang kuceritakan pada semua orang. Mereka yang membuatku tumbuh. Mereka tidak mengubahku, tapi mereka menyaksikan dan menemani perubahanku. 

Surat Terbuka Untuk ARH. 

Hal yang paling selalu kuusahakan selama ini adalah memaafkanmu. Entah sekarang sudah berhasil atau belum– sepertinya sudah. Aku berniat mengatakan ini padamu: pernah satu waktu bulan kemarin aku berkumpul dengan teman-teman satu kosmu dulu, dan kami semua sepakat bahwa kami rindu padamu. 

Kuralat, kami tidak rindu padamu. Kami tidak rindu pada sosokmu, pada seseorang yang adalah kamu. Kami, dan terutama aku, merindukan pembicaraan kita. Pembicaraan soal banyak sekali hal yang sebelumnya tidak pernah kutahu.

Aku mengatakan dengan lantang bahwa aku mulai melupakan apa yang pernah terjadi dan kutangisi. Aku sepertinya mulai lupa apa yang pernah kutangisi dulu. Aku bergembira sekarang, kalau kau mau tahu. Meski beberapa kali aku pernah menangis cengeng disini. Entah karena aku ngambek dengan sahabatku yang mencandai aku ketika suasana hatiku sangat buruk ketika menstruasi atau aku kehilangan tasku di kapal. Aku menangis cengeng merengek lalu dibawa menyepi di sekoci oleh sahabatku yang paling baik disini. Semua sahabatku disini laki-laki. Masih seperti dulu, A, aku masih belum terlalu pandai berteman dengan perempuan. Kecuali kami sudah kenal dan bersama bertahun-tahun dan tidak ada konflik antara kami. Sahabat paling kentalku yang merupakan perempuan masih hanya Della. 

Aku sudah banyak berani melakukan banyak hal menakutkan. Dan aku berani melompat dan duduk diatas sekoci yang menggantung tinggi. Aku tidak pernah lagi menangis dengan dada sesak dan kepala pusing menahan marah. Aku sudah berani menyebrang jembatan kayu reyot yang ompong dan bolong-bolong. 

Aku sekarang hidup di suatu tempat yang tidak ada mobil. Aku hidup di suatu tempat yang bahkan tidak ada pengadilan apalagi velodrome. Aku hidup di suatu tempat yang tidak ada tanah dan air. 

Aku ingin kamu tahu, kalau entah bagaimana caranya nanti kamu membaca ini– bahwa aku selalu berusaha keras memaafkanmu. Aku sangat ingin memaafkanmu. Mungkin sekarang sudah mungkin belum. Aku tidak tahu ukurannya. 
Aku sekarang memiliki banyak teman yang kegilaannya hampir menandingiku.

Tapi ada banyak sekali hal darimu yang tidak sahabat-sahabatku miliki.

Aku ingat ketika kita dengan seru membahas Serat Gatholoco atau sistem informasi milik Tuhan yang maha canggih. Belum ada lagi teman sebaik kamu yang bisa memancing isi kepalaku bekerja dan berimajinasi liar begitu. Kita pernah berjanji kan kita akan menulis sesuatu bersama. Aku sudah mendapat teman menulis yang kami seringkali mengawinkan tulisan kami menjadi lahir baru. Meski tentu tulisannya tidak sekuat nyawa dalam tulisanmu. 

Tapi ada juga hal lain yang dulu kamu lakukan dengan sangat baik padaku, dilakukan juga oleh mereka dengan sangat baik. Bahkan lebih baik. 

Seperti mereka mengasuhku sebaik kamu dulu. Melayani khayalan-khayalanku soal pendakian ke Kilimanjaro, atau kejuaran balet internasional yang kumenangkan, resital piano solo yang kuadakan, performaku sebagai pembalap motoGP, dan banyak dan banyak. Mereka akan dengan penuh girang tapi malas meladeniku. 

Atau mereka akan mengabulkan semua keinginanku ingin makan apa minum apa di tengah hari super panas atau di tengah malam sudah gelap. Untuk urusan ini mereka jagonya. Lebih menang dari ketelatenanmu. Karena kami tinggal bersama satu rumah. Orang yang pertama kali kulihat ketika bangun tidur dan akan tidur kembali adalah mereka. 

Tapi bukan berarti mereka manis bagai malaikat. Mereka keji dan culas sepertiku. Kamu selalu bilang kan, A, kalau siapapun yang bergaul denganku akan tertular keculasanku. Mereka membuktikan itu. Mereka mengganggu dan sering sekali membuatku rewel. Tapi ada satu pelindungku disini, kalau aku diganggu oleh para laki-laki yang kampret itu, aku hanya perlu berteriak satu nama. Maka gangguan akan berhenti. Mereka paling hormat dan takut dengan pelindungku itu. Penderitaanku akan mengerikan kalau pelindungku itu ada pergi dinas keluar kota berhari-hari. Mati sudah aku!

Ada banyak sekali yang aku ingin ceritakan. Apalagi ya. Aku bercerita karena semata-mata masih menganggapmu sebagai sahabatku. Sahabat yang menumbuhkan dan sekaligus menciutkan pribadiku selama lima tahun terakhir. Kamu masih sahabatku. Dan kenapa aku berkirim surat ini: karena kamu terlalu jauh. Kamu sedang menjalankan misi Apolo 19 ke Saturnus. Aku hanya tidak bisa menjangkaumu. Aku tidak mau menjangkaumu. Aku lebih memilih bercerita disini dan semoga ketika kamu sampai di kantor NASA nanti, kamu akan bisa membaca ini.

Kamu tahu, A, aku tidak lagi mengeluh berjalan kaki. Aku sekarang suka sekali berjalan kaki. Tanpa mengeluh. Kulitku sekarang jauh lebih hitam daripada terakhir kita bertemu. Sekarang kulitku seperti karamel gula yang terlambat diangkat. 
Aku tidak lagi menderita dan menangis sampai tersengal-sengal sesak. Penderitaanku paling berarti disini adalah ketika aku lapar dan tidak ada satupun orang dirumah. Itu artinya aku akan kelaparan. Karena mereka yang menyalakan kompor untukku. Atau ketika Mang–pelindungku pergi, maka para lelaki kampret itu akan memerasku menyuruhku membuatkan susu hangat atau kopi untuk mereka ketika mereka semua main PES. Tidak ada lagi hal yang membuatku sakit hati. Kalau hanya sekedar merusak moodku, ah itu banyak. Apalagi dekat tanggal menstruasiku. Apapun yang diucapkan mereka di rumah ini, akan membuatku kesal nyaris menangis. Hanya itu. Tapi aku pastikan tidak ada lagi yang membebaniku seperti dulu aku menangis kehabisan tenaga dan airmata. Kuberitahu saja. Jika informasi ini masih penting bagimu. Jika ini penting bagi dirimu sendiri. Jika rasa bersalah masih ada dalam kepala dan dadamu. 
Aku melakukan perjalanan. Aku melampaui diriku sendiri. Aku tidak menjadi cacat lagi seperti dulu. Aku mulai pelan-pelan berdiri dengan kakiku sendiri. Tanpa menangis tanpa digandeng dan dibimbing. Semua orang yang menyayangiku sekarang hanya perlu membuatku tertawa lepas untuk meniupkan nyawa baru untukku. Aku mengandalkan Tuhan dan diriku sendiri untuk sembuh. Aku yakin akan selalu lahir nyawa baru dalam nyawaku. Aku hanya perlu lebih banyak bergembira dan menghisap sebanyaknya energi baik manusia untuk kulipatgandakan. Setelahnya aku yakin akan sembuh. Bahkan lahir baru. 

Aku sungguh berusaha memaafkanmu. Aku memaafkanmu bukan hanya untukmu. Tapi juga untuk diriku sendiri.
Terima kasih, A. Maafkan aku dan beri aku waktu memaafkanmu. Aku rasa aku sudah mendekati berhasil karena aku berani menulis ini. Untukmu, ARH.
Salam,
Masih sahabatmu, TYD.

Terlanjur Lumpur

Aku tidak pernah mendengar suara katak begitu kencang dan massal seperti disini. Nyaris seperti suara generator yang dinyalakan bersamaan oleh beberapa kios sekaligus ketika mati lampu. Aku menikmati perjalananku yang sendirian melewati hutan dan jembatan kayu. Melewati rimbunan tanaman rawa. Melewati jembatan papan yang kayunya ompong karena rapuh dan dicongkeli untuk kayu bakar. 
Hal yang sebenarnya membuat sedikit deg-degan adalah gubuk kayu di pertigaan ujung jembatan. Sering kutemui beberapa orang mabuk tergeletak disana. Kala lain ada kulihat sepasang mesum tergeletak disitu. Tapi yang paling mengerikan dari tempat ini adalah sebenarnya selalu pemabuk. Pernah satu kali aku pergi pagi sekali karena malas menunggu Albertus yang belum mandi atau Dion yang masih menyiapkan bekal; ada pemabuk berlari ke arahku. Dia ceria. Dan hanya berteriak: love you! — sambil berlalu. Hahahah. Pagi yang aneh. 

Meski rute ke arah darat dan kebun jauh lebih pendek dibanding menempuh jalur Keuskupan, tapi perjalanan kesini selalu lebih melelahkan. Dua kali lipat. Albertus bilang mungkin karena panas dan tidak ada pohon. Tidak serindang jalur Keuskupan yang teduh dan dingin. Tapi menurutku disini perjalanan melelahkan justru karena sepanjang perjalanan jarang sekali kutemui manusia. Jarang ada yang kubisa sapa selamat pagi dan ajak bicara dengan ramah. Aku adalah Dementor. Aku penghisap energi manusia. Ketika tidak ada yang bisa kuhisap energinya, aku akan lemas dan lebih mudah emosi dan marah. Jika begitu satu-satunya yang bisa mengembalikan keceriaanku hanya sogokan-sogokan ajakan jajan dan jalan dari pengasuhku satu-satunya, si Albertus. Sahabat paling cemenem yang kupunya. Atau kalau kami justru bosan dengan suasana rumah yang terlalu panas dan gaduh oleh bunyi PES, kami diam di jembatan-jembatan memancing kepiting dengan benang jahit. Dan bertaruh. 
Kalau aku sedang sangat kesal di pagi hari entah karena telpon atau sms genit laki-laki kampret, aku akan jalan cepat jam 6 pagi. Kalau sudah begitu aku akan pergi dan tak peduli ketika Albertus tanya kenapa mukaku seperti kentut. Lalu berjalan sendiri menuju arah kebun dan hutan. 

Seperti pagi tadi. Aku memilih jalan pagi sekali dan sendirian. 

Di depan kebun aku bertemu seorang Mama yang pernah kutemui dengan Dion ketika suatu siang kami pulang untuk masak. Mama masih mencari pucuk sagu dalam lumpur. Begitu melihatku Mama naik ke jembatan. Kami berbincang dan duduk di jembatan sambil Mama mengeluh gatal digigit lalat babi. Mama menggaruk kakinya dengan parang. Aku gemas sendiri. Aku takut kakinya berdarah. Mama hanya jawab “Ah gatal enak e anaak” 

Tapi kuperhatikan dan baru kusadari: Mama ada botak kepalanya. 

Aku bertanya kenapa kepala Mama ada botak? Sedang ada duka kah?
Mama bilang ‘sa pu anak perempuan ada meninggal. Dipukuli dong pu suami. Dipukul pakai balok di kepala dan punggung sampai mati.’
Lagi-lagi aku patah hati dengan apa yang sebenarnya terjadi dengan negeri secantik ini. Orang bilang kita adalah penghuni negeri dewa. Karena kita tidak pernah injak tanah. Dan kitalah yang paling dekat dengan langit. Kita mengambang. 

Aku benci dengan realita. Aku benci pada apa yang ternyata benar kulihat. Anak-anak yang perutnya menggembung nyaris meledak. Para ibu yang badannya kurus tenaganya habis dihisap: hamil, melahirkan, menyusui, belah kayu, petik pucuk pakis dan kangkung, tanam-tanam di lumpur, jaring ikan, jarang air, putar kopi, bakar sagu, dibuahi, disetubuhi, ditiduri, dan banyak, dan banyak, dan banyak. 

Aku sedih. Pada segala keterlanjuran disini. Semalam aku berbincang dengan Pater Juan dan Tino. Bahkan eskrim yang Pater belikan tidak cukup membuatku terhibur. Apa yang salah dengan tempat ini? Dengan semua keterlanjuran disini. Pater pernah marah Bapak Mathias. Dewan gereja di Paroki Pirimapun. Dong hanya hisap-hisap rokok ketika istrinya menggendong anak sambil jaring ikan berdiri diatas ci. Menjaga keseimbangan dalam perahu lesung sekecil itu saja sudah setengah mati. Apalagi harus gendong anak sambil melempar dan menarik jaring. Lalu lempar lagi. Tarik lagi. Sampai ada ikan duri atau bandeng menyangkut terserok di jaring. 
Aku lebih benci pada keterlanjuran disini. Dibandingkan dari bau busuk yang muncul dari lumpur yang bercampur dari segala kotoran dan sampah segala rupa.

Aku lebih benci pada keterlanjuran disini dibandingkan tahi yang berserakan menjadi ranjau. Yang membuatku harus selalu waspada berjalan kaki supaya tidak membuatku meledak dan memaki.

Aku tidak lebih benci tai pinang yang merah dan membentuk noda serupa cat pada jalan, lantai, atau tembok kayu dibandingkan keterlanjuran yang kami putus asa atasnya. 
Seandainya Pater Juan atau semua yang memiliki hati atas tempat ini berhenti berteriak dan marah-marah pada umatnya, mungkin keterlanjuran hanya akan menggurita dan subur seperti tanaman rawa. 
Aku hanya mungkin akan menikmati perjalananku yang sendirian untuk mengutuki banyak hal yang sia-sia. Aku hanya tidak ingin didengar.