Sahur

Ini adalah puasa keduaku sendirian benar-benar jauh dari Ibu dan Bapak. Tanpa aku harus memikirkan bangun pagi dan siapkan sahur seperti biasanya dirumah. Puasa pertama tanpa Ibu Bapak ketika di Jakarta. Di kosan tante Lily yang keluarga Katolik, otomatis aku sahur sendirian. Masalah buka puasa aku tidak banyak pusing karena setiap sore, Yuri mengantarkan makan malam untukku atau mengajak aku makan entah apa saja yang kuinginkan di depan Gadjah Mada Plaza. Atau beli jajanan yang super macam-macam di depan halte Harmony. 

Buka puasa bukan perkara rumit dan melankolis bagiku. Aku bisa pergi kemana saja dan makan dengan siapa saja. Makan apa saja sesukaku. Entah ke Dimsum Inc. Atau ke Depok numpang makan tempat Momey sekalipun aku bisa. Tapi persoalan sahur itu berbeda. Dia melankolis dan memancing sedih. 
Persoalan mengunyah sambil mengantuk jam 3 atau setengah 4 dini hari adalah perkara melankolis. Dirumah ini hanya aku muslim sendiri. Dan pasti aku akan sahur sendiri. Mungkin itu yang membuat sahabat gelembungku tadi bersikeras mau menjemputku ketika sahur nanti, untuk makan sahur dirumahnya. Tapi aku tentu menolak. Tempat tinggalku di tengah hutan. Rasa tidak tega membiarkan sahabat gelembungku menjemputku hanya karena dia tidak tega membiarkan aku sahur sendirian di tengah hutan. Katanya dia tidak mau sahabat gelembungnya sahur sendiri dengan air mata dalam kedinginan subuh yang menggigit tulang. Terdengar lebay memang. Tapi entah kenapa. Sepertinya dia mengerti. Ada perihal besar dan baru dalam puasa kali ini. Semuanya serba baru. Ada rasa syahdu yang sedikit sunyi. Tapi bukan sepi. Ada transformasi besar yang sudah kulalui tapi belum siap untuk kusadari sudah terjadi. 
Kesadaran alam bawah sadarku dan seluruh memori terpanggil pada jam-jam dini hari menjelang sahur. Saat sahur juga adalah saat otakku menyimpan memori paling baik. Ada sebuah perasaan yang paling kurindukan dan nikmat menahan kantuk untuk sesuatu yang sebenarnya tidak wajib– dan rasa nikmat tidak terbahasakan itu hanya ingin kau bagi dengan orang-orang yang memiliki arti bagimu. Ibu, bapak, keluarga, atau sahabat. 
Saat sahur adalah selalu saat yang paling kuingat setiap detil dan rasa perasaanya. Bunyi orang gedumbrang gedumbreng toki-toki keliling komplek bangunkan sahur– akamsi bernyanyi nyanyi tidak jelas;abg-abg tanggung menyalami anak perempuan yang dilewati rumahnya, panggilan ‘sahur-sahur’ dari toa mesjid, atau posisi duduk Ibu, Bapak, Naninunu, Makjuneng dan aku. Aku bahkan bisa mengingat suara lagu-lagu acara sahur pada saat kuis interaktif fiktif dalam acara sahur musiman di tipi. Aku mengingat Mbah selalu memasakkan dan menemaniku sahur jam 3 pagi saat aku mulai belajar sahur kelas 4 SD, meski jam 8 aku sudah mulai mengunyah kepok ketan, galundeng, dan klepon oleh-oleh Mbah dari pasar. Aku mengingat posisi anggur, susu, madu, dan semua makanan ketika aku masih mengantuk dan refleks membuka kulkas setiap bangun tidur. Hanya sahur yang bisa membuat kami semua sesekali diam tanpa sedikitpun kata sampai imsak, atau tertawa terbahak bergosip sangat seru. Hanya sahur yang membuatku ingin cepat bangun kalau Ibu ada masak terong balado atau sate goreng ketika buka puasa. 
Sahur selalu merupakan saat melankolis dan sedih jika jauh dari Ibu, Bapak, Makjuneng, dan Naninunu. Tapi Bang Sopyan bilang bahwa harus hadapi Ramadhan dengan happy. No manja like anak mami. Aku harus jadi akamsi tangguh. 
Biarpun sahur disini tidak seperti di Bandung, dan Bandung sedang amat kurindukan pada momen seperti ini; nanti sahur disini adalah yang akan paling kurindukan ketika sudah di Bandung. 
Sahur, bukan hanya perkara mengisi perut supaya tahan lapar. Sahur bagiku momen krusial mengukur ketulusan: ia yang menyiapkan dan menemanimu sahur adalah yang punya cinta besar untukmu. Apalagi aku: ia yang selalu menyiapkan dan menemaniku sahur justru ia yang tidak harus berpuasa. Tapi ia memilih berpuasa: Ibu. 

Sahur bagiku momen pertumbuhan spiritual. Ketika kecil usia SD: hanya Naninunu dan aku belajar puasa berdua. Makan Indomie dalam panci kecil berdua. Kami makan hanya syarat. Berpuasa sebagai uji coba latih-latih. Sampai akhirnya Bapak dan Ibu mulai puasa sampai saat ini. 

Sahur bagiku adalah momen intim dengan energi transenden besar berpusat di sebuah rumah yang penghuninya berjuang menahan kantuk untuk sebuah perjalanan yang disebut janji merasai kedukaan: puasa. 

Aku tidak malu cirambay dan mengatakan aku ingin seluruh orang yang kucintai berkumpul dalam satu meja: makan dan mengunyah dengan paksa. Entah itu duduk diam atau dengan tawa pecah. Aku hanya ingin mereka hadir. Dalam sahur pertamaku di tempat secantik ini. 

Advertisements

Skripsweet so Sweet

Hampir setiap pagi dekat siang, aku berjuang bangun dari tidur. Makan. Mandi. Memasukkan laptop ke tas. Cari ojek. Tunggu transmetro di halte. Masa-masa frustasi itu. Masa-masa aku sudah terlalu lama diam di bab 1. Aku biasanya memaksa otakku bekerja meski setengah mati ia tidak mau bekerja. 

Tugas akhirku kuselesaikan begitu lama. 3 tahun hanya untuk bab 1. Sedangkan seluruh mata kuliah kuselesaikan hanya dalam waktu satu tahun. Dengan nilai satu B, dan sisanya mendapat A. IPKku salah satu yang paling tinggi. Tapi menulis dengan pakem dan aturan sungguh amat menyiksa dan membuat otakku mati. Meski aku pada dasarnya suka mengoceh dalam tulisan. Aku harus melewati 3x sidang, dan dalam hampir 4 tahun aku baru menyelesaikan sidang bab 1. Sidang proposal. Tidak lebih. Aku frustasi. Semua temanku sudah lulus. Aku menunda terus mengerjakan. Otakku mati. Aku tidak bisa berpikir. Dan mungkin itu akibat aku selalu menunda-nunda pekerjaan sampai bertahun-tahun. Aku hanya terus membayar uang kuliah tanpa melakukan apa-apa. Meski setiap hari aku pergi ke kampus, perpustakaan, atau diam di kamar teman yang kosong sendirian. Pada akhirnya aku hanya tidur, main hape, frustasi, dan makin frustasi. Aku benar-benar frustasi dengan penulisan hukumku. Aku benar-benar putus asa. Pada saat itu aku menyalahkan banyak sekali hal, KECUALI diriku sendiri. Aku menyalahkan bapak dan ibu yang selalu pentingkan kerja dan meninggalkan aku dirumah. Aku menyalahkan Mbak Ian karena aku marah harus terus menjaganya. Aku menyalahkan pacarku pada saat itu karena membuatku frustasi dan tidak bisa berpikir. Aku menyalahkan laptop karena hang terus. Aku menyalahkan bus kota atau grab car yang terjebak macet. Aku menyalahkan taksi yang selalu lama datang jika kutelpon. Aku menyalahkan materi penulisanku yang sangat susah dicari sumbernya dimanapun. Aku menyalahkan post-it ku yang habis ketika aku membaca buku dan aku merengek setengah marah pada pacarku yang lebih mirip pengasuhku. Intinya aku menyalahkan seluruh dunia atas otak matiku. Aku menyalahkan seluruh dunia dan tidak pernah SEKALIPUN menyalahkan diriku sendiri. Pada akhirnya saat itu aku memutuskan untuk tetap bersenang-senang dan berencana meminta maaf pada bapak ibuku karena aku tidak sanggup melanjutkan kuliahku. Aku frustasi. Aku malas. Dan itu salah mereka sendiri. Karena memaksaku untuk kuliah. Aku sampai bilang pada bapak ibu, “aku minta maaf dari sekarang kalo ternyata aku dikeluarin ya pak bu”
Dan aku melanjutkan waktu bermain dan bersenang-senangku, liburanku yang bertahun-tahun. Aku muak sekolah. Aku muak harus menulis hukum. Otakku mati. 
Sampai pada tahun keempat. Bulan-bulan terakhirku. Bulan Maret. Aku dapat telpon dari Bapak, ketika aku sedang main dan bersenang-senang seperti biasanya. Kata bapak aku dapat surat. Dari kampus. Surat peringatan. Peringatan DO. Drop Out. Dikeluarkan. Dikeluarkan sebagai mahasiswa. Empat tahun adalah waktu terlama yang boleh kutempuh sampai lulus. Dan surat peringatan sekaligus pemberitahuan DO itu kudapat pada akhirnya. Dan kurang ajarnya lagi aku menjawab Bapak dengan santai: oh surat itu. Aku tau kok kalo akan dapat itu. Biarin aja. 
Sesampai dirumah kubaca sendiri. Dan ternyata aku tidak sesantai itu menanggapi surat itu. Aku cirambay. Surst itu mengatakan, aku harus lulus tanggal 16 Juni. Dalam artian lulus berarti yudisium. Yudisium berarti harus lulus sidang. Sidsng berarti harus selesai bab 5 dan seminar 2. Sedangkan penulisan hukumku baru sampai bab 1 dan seminar satu. 
DAN SAAT ITU BULAN MARET TANGGAL AKHIR.
Dari situ aku merasa tertampar. Buat apa nilaiku yang berderet A tapi penulisan hukum yang tidak lebih dari 100 lembar tidak sanggup kukerjakan. Aku panas. Aku menghubungi lagi semua dosen pembimbingku yang setelah bertahun-tahun tidak kutemui. Mereka lupa materiku apa. Aku mulai dari nol. Setiap hari aku pergi ke perpustakaan gedung 9. Aku ke Cimbuleuit. Saat itu puasa. Setiap hari aku diorderkan gojek oleh pacarku saat itu. Setiap weekend dia menemaniku menulis di perpustakaan. 
Penulisan hukumku hancur. Aku babak belur di seminar 2. Waktuku hanya seminggu lagi menuju tanggal DO sedangkan aku belum sidang 3. Aku makin panas dan mengejar. Bolak balik Cigadung, Cinbuleuit, Merdeka, Lengkong, Cimahi, Merdeka, Cimbuleuit. Gitu terus bolak balik bekok. 
Aku berhasil masukkan tanggal sidang. Hari Sabtu. Dan Senin, lusanya adalah tanggal DO ku. 
Aku, aku biasanya mengirim surat untuk diriku sendiri di masa depan, tapi kali ini aku mengirim surat untuk diriku sendiri di masa lalu. Ada dua hal yang ingin kukatakan:

1. Woy bego! Otak mati! Ko sia-siakan 4 tahun hanya duduk diam bodok-bodok. Sialan ko!

2. Tapi TERIMA KASIH, karena pada akhirnya ko tidak menyerah. Karena akhirnya ko tabakar juga karena surat ancaman itu dan menjadikan aku sekarang sedikit berguna.
Maaf untuk semua yang kusalahkan saat itu: Mbak Ian, Bapak, Ibu, dan Yuri. Pada kenyataanya kalianlah yang paling bersabar dan berjasa membakar otakku supaya tidak terus-terusan mati.
-untuk Winda sahabatku yang aku sayang banyak sekali, kumohon jangan menyerah pada tesismu. Jangan menyerah pada kemalasan dan keputusasaanmu. Kamu jauh lebih hebat dari apapun yang sanggup kamu bayangkan tentang dirimu. Bakar otakmu! Supaya dia tidak enak tidur lalu kebablasan mati!
Instead of bilang skripshit, ayo kita bilang dia sebagai Skripsweet So Sweet ❤

Sahabat Gelembung di Lumpur

Aku memiliki sahabat baru. Dan seperti kebiasaanku sebelum-sebelum ini: aku menulis sesuatu untuk mereka sahabatku yang paling kufavoritkan. Entah serupa racau-racau cerita penanda patok ingatanku dimasa depan– karena setiap tulisanku adalah surat untuk diriku sendiri di masa depan; atau serupa doa yang kuamini betul. Sahabat yang dengannya aku selalu bisa tertawa lepas. Disini bisa menemukan orang yang punya koneksi dan frekuensi sama denganmu itu sulitnya setengah mati. Dia laki-laki sangat cerdas. Pintar sekali memasak– sekelas Gordon Ramsey dan Maangchi, penuh niat dan kreasi bahkan hanya untuk sebungkus mie instan. Dia tahu segalanya. Soal burung, serangga, tanaman, daun, angin, semuanya yang aku tanyakan soal tempat ini yang sama sekali asing dan baru untukku. Dia bahkan tau mengenai Eva Braun dan si kumis mirip Charlie Chaplin. 

Siapapun kalian tidak akan berharap menemukan laki-laki cerdas lulusan Sorbonne lalu membicarakan mengenai penemuan radium atau polonium, disini. Atau berharap bertemu dengan lulusan Universitas Warsawa yang beberapa kali menjadi moderator Jack Ma. Bukan. Bukan orang yang seperti itu yang kau harapkan bertemu di tempat seperti ini. Atau menemukan orang yang sama gembiranya membicarakan sajak dan puisi Szymborska. Bukan, tidak yang seperti itu.

Di tempat seperti ini kau tidak akan minta banyak.  Tapi cukup bertemu dengan orang yang punya setidaknya beberapa centimeter pijakan di frekuensi yang sama. Yang sama mendengarkan Bee Gees. Yang sama menikmati video Maangchi. Yang datang Minggu pagi sekali untuk menemani Minggu pagiku yang selalu sendiri karena seisi rumah pergi Gereja. Yang bahkan telah datang sebelum teman-temanku yang gereja Katedral selesai mandi. Ia membawa benda dapur kesukaanku: minyak wijen botol besar yang tidak pernah bisa kubayangkan kumiliki di tempat seperti ini. Lengkap dengan kue dan bahkan dia memberikan infused water bekalnya untukku, dengan isian kesukaanku: irisan lemon dan daun mint. Pernah beberapa bulan kemarin dia memberikanku sepohon kecil daun mint. Sehat dan segar. Tapi kepergianku lima hari ke Bayun membuat makhluk kecil itu jadi tidak terawat, kekeringan, dan kehausan. Karena aku tidak menaruhnya di tempat terbuka, di tempat hujan mampu menjangkaunya. Dia mati kering tanpa sisa batang apalagi daun. Dia mati menghisap nutrisinya sendiri untuk bertahan hidup untuk kemudian akhirnya mati. 

Sahabat gelembungku. Begitu kami biasa saling memanggil jika kami sedang akur dan tidak saling kesal mengejek. Jika kami saling kesal kami memaki dengan sebutan KELODOK! ikan kecil endemik lumpur yang tidak bisa dimakan. Memiliki sirip yang seperti tangan dan kaki. Dia melompat dan bisa hidup tanpa air. Kami tentu lebih sering mengejek. Entah kenapa. Padahal dia dulu pertama kali kukenal sangat pendiam dan kalem dan cool dan alim dan banyak hal unyu yang kalau dimiliki laki-laki akan membuat perempuan menjerit. Mungkin memang benar kata Arif sahabatku dulu, kalau siapapun yang bergaul denganku akan menjadi culas. Tertular keculasanku. Termasuk kelodok ini. 

Aku menamainya dengan nama yang berima seperti nama orang Sunda. Dan dia menamaiku dengan nama Ice Juice. Dengan C cicak.  Bukan dengan ejaan Bahasa Inggris. 
Minggu pagi adalah hari tanpa piket masak dirumah karena semua orang pergi gereja. Dan kami harus mengusahakan sarapan kami masing-masing. Sahabat gelembungku datang menjadi penyelamat. Pertama kali yang dia lakukan adalah mengajarkanku menyalakan kompor. Meski akhirnya dimatikan kembali, dan dia yang memasak untukku. Membuatkan sarapan untukku. 
Di tempat seperti ini kau tidak akan berharap untuk bisa menemukan orang yang membaca Faulkner dengan detail apalagi Dostoevsky. Bisa tertawa karena menertawakan kartun kami semasa kecil adalah lebih dari menggembirakan. Menertawakan Wedding Peach– kartun superhero yang berwujud pengantin dan kami kesal karena betapa repot dan rempongnya berperang melawan kejahatan memakai gaun pengantin putih yang lengkap dengan tudung dan buket bunga. Menghujat Anomalisa; bagi kami itu adalah film pengukuhan para gadun dan film yang mengecourage para abg untuk menjadi cabe-cabean. 

Atau menertawakan kekayaan-kekayaan fiktif kami– ini adalah poin penting soalnya. Dia memahami gaya hidupku sebagai calon orang kaya yang sepanjang hidup sampai hari ini kutulis ini, masih menjalani gladi resik. 

Poin paling besar yang menyenangkan soalnya adalah kami sama-sama mencintai Spongebob– inilah awal mula dia menjadi sahabat gelembungku. Dan Ghibli Studio. Orang seperti ini yang mencintai Ghibli disini adalah seperti hantu atau cendrawasih oranye. Yang hanya bisa kau temui tidak dimana-mana, kecuali ia yang menampakkan diri. Kami sama-sama menikmati mengusir bosan dengan menjadi Nelalover atau Valenisti. Sama-sama mencibir Yanglek, dan menyanyikan penggalan Mitha Talahatu– hati gelisaaaaah beta seng bisa sendiri~~~~

Menikmati braingasm mendengar narasi-narasi David Attenborough soal semesta yang apa saja. 
Aku dengan ringan menceritakan soal kepandiranku, ketersesatanku, dan kemungkinan penemuanku padanya. Soal pergumulan soal religiusitas. Aku tidak malu mengaku pandir, bebal, dan bodok. Bodok dengan K dibelakang. Aku menceritakan isi kepalaku dulu yang sangat mencibir dan ingin meludahi sosok-sosok yang seperti diriku yang sekarang. Aku pikir ketika aku menceritakan soal perjalanan imanku dia akan bereaksi sama dan biasa. Tapi dia berbeda, dia menghargai kisah. Dia tidak menghakimi. Dia mengerti dan paham indahnya tinggal di tempat ini. Menjadi satu-satunya yang dirimu. Dia memahami dan merasai kedukaan. Dia mengerti perjalanan. 
Pada akhirnya selalu orang seperti dia yang ingin kuminta digandakan sebanyak-banyaknya dan didekatkan padaku dan didekatkan pada semua orang. Supaya semua orang seberuntung aku, punya sahabat yang menggembirakan seperti dia. Yang mengerti dan memahami. Yang akan menemani perjalanan dan menjadikan lebih banyak ada artinya. 

Bayun

Nyamuk Bayun mengerikan. Ia tidak terdengar apalagi terasa mencucuk. Tapi dalam sekejap ia menghasilkan banyak sekali bintik seperti cacar air. Nyamuk Bayun lebih ganas daripada lalat babi brengsek yang menyuntik begitu sakit bahkan menembus celana jins dan daging pahaku yang tebal. 

Di Bayun aku selalu berkaki kosong. Bolak balik Pastoran dan pantai dan pantai dan Pastoran dan pantai dan lapang dan jalan cela hutan. Hanya untuk mengulang lagi elang sayap batik yang terbang bertiga berkeliling. Aku suka berkaki kosong, meski sakit luka-luka menginjak tumpukan hamparan kerang yang bercampur pasir. Menginjak lumpur becek dan sepohon kayu licin yang Pater jadikan jembatan. Ketika aku merengek, untuk melatih keseimbanganku katanya.
Di Bayun aku memakan tahu bacem paling enak selama berbulan-bulan terakhir aku makan buatan ibu atau dibelikan di Purworejo. Suster Alfonsa memasak tahu bacem paling enak satu Kabupaten pada saat perayaan ulang tahun Suster Basilia. Pater curang karena tidak beri tahu ada perayaan– jika tahu aku tidak akan makan banyak-banyak di pastoran. Kami berebut daun pepaya. 

Malam Paskah aku ikut pergi misa. Setelah merengek pada Pater, Pater kasih ijin. Meskipun aku tau aku akan  draw attention di gereja. Gereja yang gelap tanpa listrik. Hiasan berupa pohon pisamg segar yang ditebang dan dipindahkan ke dalam gereja utuh-utuh. Patung Yesus Kristus dalam salib cantik yang diukir-ukir. Nyanyian mama yang melengking merdu menyanyikan Tuhan Allah……oooo Tuhan Allah…..lalu disambung dengan bahasa. 
Aku kembali ke Pastoran tanpa senter. Karena bulan sedang bulat penuh dan terangnya menghasilkan silau. 

Bayun begitu sunyi dan syahdu. Meski Pastoran tempatku tinggal adalah rumah yang banyak orang mati korban tenggelam ditidurkan dan dimandikan. Pater bilang bau orang mati dirumah tidak hilang berbulan-bulan. 
Setiap pagi dan hampir selalu sore, aku berjalan sendirian berkaki kosong ke pantai. Duduk diatas akar nipa mati yang tinggi. Aku berani memanjat dan menunggu teman baru yang sewaktu-waktu datang dan kapanpun bisa kudapat. Gw akamsi, moapalo????
Setiap pagi juga aku selalu disapa oleh bapak, mama, dan banyak sekali bocah: “Selamat pagi……SUSTEEEERRR”
Ya! Suster temannya Pastor. Bukan temannya dokter. Suster biarawati. Mereka tidak pernah menemukan makhluk dengan penampilan sepertiku selain Suster. 
Bayun benar-benar pedalaman. Meski ada lagi yang lebih pedalaman dari Bayun. Tapi mereka kumaklumi memanggilku Suster. Mungkin itulah yang membuat Suster Sisilia (RIP) mengijinkanku melihatnya di ruang doa. Beliau mungkin penasaran siapa yang akan menempati susteran menempati kamarnya. Meski dengan bodoh aku memastikan berkali-kali kalau ruang doa itu adalah dapur. Dan kalau orang berbaju putih yang berkerudung berkacamata itu adalah Daniel. Aku memaksa diri dengan bodohnya lalu setelah cerita pada Pater ketika aku menemani Pater makan pisang goreng di hutan Agats, aku baru yakin benar yang kulihat adalah Suster Sisilia (RIP). Suster Sisilia meninggal tenggelam dalam musibah yang menimpa juga Pater Sipri. Pater kesayanganku itu hampir tewas dalam musibah mengerikan. Tapi Pater tidak kehilangan sisi lembut penyayangnya yang berbarengan dengan sisi galak dan melindungi. 
Pater yang pulang dari stasi membawakan kami oleh-oleh peliharaan baru: bayi kasuari yang diberi nama For You. Ketika kami sedang asik berkenalan dengan For You, Frater Soni melapor pada Pater kalau ada ular di gudang. Pater langsung mengambil senapan angin, menembak ular dan setelah lumpuh memotong-motongnya dengan parang. 
Pater yang sayang dan peduli aku. Ketika satu komplek misi berpesta babi dan amjing, sepulang ibadah di stasi, Pater menggendong ayam kampung. Katanya untuk Trias. Hanya untuk Trias. Dan harus Trias yang menyembelih supaya bisa halal kumakan.
Aku diajari menyembelih ayam oleh Albertus. Tentu saja dengan ribut, heboh, berisik, dan banyak merengek. Singkatnya aku berhasil. Ternyata leher ayam panas dan bergerak-gerak. Aku kasihan. Aku tak tega memakannya. Tapi setelah kuungkep dan kugoreng, aku lupa perasaan itu. 
Di Bayun aku tidur nyenyak sekali. Berkali-kali aku kesiangan dan tidak shalat subuh. Tidur di Pastoran terlalu nyenyak meski semua orang bilang angker dan menyeramkan. 
Di Bayun aku tidur terlalu nyenyak. Meski aku sempat juga rindu kasur dan selimutku di rumah hutan Agats. Aku rindu kamar mandi hutan. Aku rindu pemandangan burung hutan. Rindu sahabat gelembungku yang bisa kuajak bicara setiap waktu kecuali ketika dia sedang meeting penting atau menjadi akamsi kampung sebelah. Rindu jembatan papan– di Bayun kami sepenuhnya menginjak bumi dan tanah. 
Tapi siapapun yang butuh sesuatu yang seperti kucari: tempat asing yang sepenuhnya menerimamu seperti keluarga kandung– pergilah ke Bayun. Perjalan tidak pernah terlalu jauh, kalau ternyata ketika sampai kau merasa begitu dekat dengan tempat itu. Bahkan merasa rumah. 

Abdi 

Aku mencintaimu tujuh puluh ribu kali lebih banyak setelah hari itu.

Setelah kau menyerukan ‘Hidup sang Raja!’ sebanyak ratusan kali di padang panas ketika itu.

Bukan karena aku mencintai rajamu sebesar yang kau lakukan. Melainkan kepal tanganmu yang menjadi penanda tidak takut. Ia mengacung kepal melawan angin. Setidaknya aku mengetahui kau memiliki kesetiaan yang terbungkus selaput. Dengan cairan bening didalamnya yang memurnikanmu.

Bukan karena pula aku mencintai rajamu sebesar yang kau lakukan.

Bahwa dengan enam ribu lima ratus, cintamu pada sang raja begitu mengembang. Begitu menunduk kepala juga jiwamu penuh hormat pada rajamu.

Itulah mengapa aku mencintaimu tujuh puluh ribu kali lebih banyak dibanding sebelum kau berteriak ‘Hidup sang Raja!’.

Kau bertugas menyusun urut bunga dengan gradasi warna yang paling tipis sampai paling kental. Selanjutnya, adalah bagian alfabetis pakaian yang kau susun berdasar kecilnya hingga besar. Lalu kau menggosok lambang-lambang kerajaan: garuda sayap mengembang yang tembaga juga kuningan, dengan braso yang kau persiapkan sejak jauh hari. Agar ketika cahaya manapun bertengger sampai permukaannya, ia akan bersinar.

Bagimu hidup Raja ya Tuanku adalah berkah. Itulah mengapa kau sebut hidupmu yang kau abdikan sebagai ngalap berkah.

Di kala yang lain, matamu tak tertidur semalaman. Kau meraut anak-anak batang lidi untuk kau tancapkan pada gunungan. Dan keesokan harinya kau berjalan berlutut terseok jika bertemu papas dengan sang Raja.

Itulah kenapa aku mencintaimu tujuh puluh ribu kali lebih banyak dari sebelumnya.

Pernah kali kuingat kau berdiri di pintu Mirota. Membawa tenggok penuh bunga potong. Kau membagikan pada mereka yang melintas, seraya mengucapkan: sugeng riyadi.

Bunga potong titipan sang Raja yang menjadi salam bagi rakyat yang disampaikan melaluimu ketika terik panas.

Bunga potong segar itu bahkan berharga dua kali berkah yang kau alap setiap bulan per batangnya.

Itulah mengapa aku mencintaimu tujuh puluh ribu kali lebih banyak sejak saat itu.

Kala yang lebih lain, kau akan berteriak penuh gempita sunyi ketika arak-arakan Rajamu melewati barisanmu. Berteriak gembira ketika air basuhan pusaka cipratannya mengenaimu; lalu mengusap-usapkan ke seluruh badan yang terjangkau tangan.

Itulah mengapa aku mencintaimu tujuh puluh ribu kali lebih banyak.

Bukan karena aku percaya atas apa yang kau percaya soal air basuhan dan semacamnya. Tapi di kala yang paling lain dalam kepalaku, lakumu berbicara: bahwa tak perlulah sebuah mimpi layak dihormati dengan prasyarat kepunyaan hal besar.

Lakumu berbicara: kau mengunduh nikmat juga berkah.

Apa yang mampu menjadikan ruang benderang terang tanpa lampu kristal? Keyakinan seorang tua yang puluhan tahunnya ia jalani dengan mantap hati, dan gemertap tegap laku.

Itulah mengapa aku mencintaimu tujuh puluh ribu kali lebih banyak setelahnya. Dan keesokan yang akan seterus.

*untuk abdi dalem keraton yang berjarik dan kebaya lurik menggendong tenggokk, yang memberiku satu tangkai bunga segar di pintu masuk Mirota Batik 20 tahun lalu.

*repost dari postingan yang sudah nyaris tenggelam 3 tahun lalu