Aku mengenal satu panjarwala. Ia tinggal dalam hutan berpohon konifer dengan daun jarum seragam. Tidak, si panjarwala tidak tinggal dalam bahtera megah dengan layar angin besar. Tidak, ia tidak seperti yang kau dan aku bayangkan. Ia seorang panjarwala yang mencintai taiga dan segala daun jarum yang hijau dan pahit. Dulu dalam waktu yang tidak akan pernah bisa kita ingat.

Ia mengumpulkan banyak sekali mungkin ribuan butir air menggembun yang terbungkus batu kristal dengan sangat kedap. Ia melihat mata kekasihnya yang bening dan tidak menyalang Di sana, yang tidak berpura tidak berprasangka, yang seperti tetes air hasil mengembun semalam, yang bisa kau lihat dirimu sendiri di dalamnya.

Kekasihnya, konon adalah perempuan yang bukan panjarwala. Ia tidak setinggi layar yang tangguh melawan tiup angin laut, ia hanya wanita sederhana yang jika kau melihatnya mengingatkanmu pada daun bawang yang mudah patah dan robek terberai seratnya.

Apapun itu, panjarwala yang begitu tangkas di tengah samudera laut memandang mata perempuan itu begitu hati2 dan tulus. Seolah ialah rahim tempatnya berasal yang mudah koyak jika ia menatap nyalang.

Pria panjarwala pemberani yang takut, dia mencintai semesta kecil pada perempuan itu yang dia toleh intip sedikit demi sedikit dari mata yang mengingatkan dia pada air embun yang bergelatungan di ujung daun jarum setiap sehabis pagi terbit.

Tidak dapat ia temukan mata yang mewujud embun menggelantung di atas puncak layar menjulang, padahal itulah kepanjarwalaan pria itu. Layarnya dalam bahtera manapun adalah identitasnya. Adalah nama baginya yang menjadikan ia ada. Namun tak ada tempat terbaik bagi pria panjarwala selain hutan hujan yang dipenuhi pohon lurus kokoh konifer yang daun-daunnya hidup menjadi jarum dan berkumpul untuk kemudian menghasilkan kelembutan. disanalah, di ujung ribuan jarum-jarum daun menggantung tetes air yang mengembun setiap malam dan bisa ia pandang setiap pagi.

Ia merasa ribuan mata kekasihnya memandangnya dalam penjagaan khas seorang perempuan: mata teduh, lengan merangkul, dan dada gemuk untuk bersandar. Ialah itu kerinduan panjarwala yang sebesarnya, yang tidak ia dapat dari kegagahan panggangan matahari di puncak tiang layar bahtera atau ketangkasan berdiri melawan angin dan hujan membadai di tengah laut lepas.

Kau yang mendengar kisah ini pasti akan bergumam, pria bodoh macam apa yang meninggalkan kegagahan lelaki dengan kulit menggelap hasil pertempaan matahari di tengah laut hanya untuk melankolika embun yang bahkan bisa dibuat kapan pun dari air yang menggantung di ujung jari. Pria laut manapun akan mendapat lautan penuh air, bukan hanya tetesan embun yang melewati semalam tanpa pejam mata untuk hanya menggantung di ujung daun jarum.

Rumah sebenar-benarnya seorang pria adalah kegagahan kerja keras dalam nama besar bukan penghitungan kemayu embun di ujung daun.

Pria panjarwala menyalak garang. Rumah sebenar-benarnya pria adalah penjaga bagi setiap embun yang dicintainya, lalu mengkedapkannya dalam kristal, agar ia abadi. Agar setiap pagi ia tak jatuh sia-sia ke tanah, dan kegagahannya tak lebur hanya dalam satu pagi.

Advertisements

One thought on “Panjarwala

  1. Brilliant!
    Mendongengkan alam dg cara yg epic..
    Tp penggunaan bhsa’y terlalu berat bg orang2 awam yg tidak suka membaca 😁😁

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s