Hari ini semua orang iba pada Engeline. Bocah cantik yang dicari. Bahkan dua menteri turun andil pencarian. Ia meninggal. Ternyata ia tidak menghilang ataupun diculik. Ia dikubur dibawah tumpukan sampah bersama bonekanya. Di halaman rumahnya sendiri.

Berita beredar. Lalu pembaca murka geram. Mengumpat menghakimi memvonis si ibu angkat. Dikatakan orang gila, manusia biadab, juga kerasukan setan.

Jari-jari mereka mengumpat. Menyumpahi si pembunuh. Menyuruh pembakaran hidup-hidup.

Saya teringat Jasih. Ibu yang kurang lebih sama. Dalam cerita Catatan Pinggir, Jasih–yang kisah nyata. Goenawan Mohammad, alih-alih mengutuki Jasih sebagai ibu biadab yang membakar dirinya setelah membakar anaknya; ia mengutuki dirinya sendiri sebagai pembunuh.

Denpasar bukanlah titik yang terasing dari peradaban dan hingar bingar. Ia teramat dekat dengannya. Kita seharusnya bertanya, apa yang membawa Engeline dan entah siapa pembunuhnya dalam drama mengerikan yang mengakhiri nyawa gadis kecil itu.

Hal yang teramat sering kita lupa: manusia penuh benci adalah dulu yang cintanya begitu tumpah pada manusia lain.

Kejahatan dan orang jahat adalah proses evolusi dari kejahatan lain.

Maka alih-alih mengumpat mengutuk pembunuh Engeline, saya akan mengumpat diri saya yang paling pertama. Bukan hanya karena kita menangis dan merasa jantung teriris membaca kisah Engeline artinya kita tidak turut andil dalam kematiannya?

Sebagian kalian akan dengan jumawa, bahkan mencubit anak semanis itupun tak pernah berani.

Saya selalu berpikir, dalam setiap kejadian– yang orang anggap sebagai kejahatan — selalu ada andil saya dalamnya: orang sekarat dipukuli karena kedapatan mengutil beberapa bongkah roti, disaat yang sama saya (dan tentu kalian) menghabiskan ratusan kali lipat roti yang ia curi utk seteguk minuman.

Begitupun Engeline dan kematiannya. Saya yakin ada andil saya dan juga kalian dalamnya. Kita terlalu lebih peduli pada kisah operasi kecantikan di Asia Timur, lalu beranggapan bahwa semua jiwa sama makmurnya dengan yang kita lihat di televisi. Dan, setelah mayat Angelina ditemukan, kita akan mengumpat paling lantang dan paling ketus, sebagai solidaritas kemanusiaan.

Kita lupa. Dan akan selalu melupakan. Bahwa jiwa penuh kebencian adalah dulu hati yang begitu tumpah ruah akan kasih. Ia pun korban dalam cara yang tidak pernah kita ketahui, dalam cara yang bagi kita tidak cukup diberikan umpatan simbol solidaritas. Dalam cara yang bahkan kita bertepuk tangan atas kelucuan kisahnya.

Ingatlah sesekali, Kali yang menangis pilu pada Brahma: tubuhnya yang bau amis dukacita, jiwanya yang busuk berak sapi. Ia hanya ingin berhenti menjadi jahat. Ia lelah membawa dukacita.

Ialah yang asali: tak ada manusia terlahir jahat.

Advertisements

2 thoughts on “Engeline, Hari Ini

  1. Baguuus bangeeet!!! Bukan kamu kalo gak selalu melihat masalah dari sudut pandang yang beda. Selalu punya sesuatu yang beda ƪ(ˇ▼ˇ)-с<˘⌣˘)

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s