Dalam sebuah perjalanan, maka kau akan melihat sebuah perjodohan. Setidaknya itu yang sempat aku percayai selama bertahun belakang.

Dalam sepersekian detik perjalanan, matamu akan menangkap sesuatu. Orang berjalan berlari, atap rumah yang dicat dengan gambar merek soda, pohon tua, atau pedagang berteriak menjaja mendasar dagangan.
Dan setiap sesuatu yang kau peroleh dalam perjalanan dan sesuatu yang kau temui dalam perjalanan; adalah berjodoh denganmu.

Herakleitos teramat sering mengingatkan: nikmati saat terbarumu. Ketika kau kembali di masa kemudian, semua telah berubah. Hakikat perjodohan telah bergeser. Meski yang kau lihat dan temukan masih sama.

Begitupun hari ini. Dalam perjalanan kereta sebelas hari. Di Ulan Bator aku menemui pria dengan mata segaris, dengan topi bulu.

Ia menyampaikan sebuah kata yang samar kudengar ‘bin jopir’ seraya menunjukkan sebuah arah.

Adalah pertanyaanku apa itu bin jopir. Arah yang ia tunjukkan mengarah pada kumpulan pinus yang daun-daun jarumnya berwarna merah.

Ia menunjukkan arah itu seraya menangkupkan kedua tangannya, ditempelkannya pada pipi kanannya yang kisut dimakan pengalaman.

Tergesa ia mengeluarkan sepotret lusuh wanita muda. Pipinya isi, lengannya gemuk, mata segaris. Khas penduduk lokal Ulan Bator. Potret hitam putih kekuningan yang dimakan waktu. Sama seperti pria tua ini, wanita dalam potret mengenakan topi bulu. Ia juga mengenakan mantel selutut dengan menyangga setongkat kayu didepan kursi.

Bin jopir.. Bin jopir.. Ia menunjuk potret. Tetes-tetes air menitik pelan dari matanya yang segaris. Ia menangis.

Bin jopir. Menunjuk seraya ia mengarah kumpulan pinus jarum merah. Telungkup kedua telapaknya di pipi.

Bin jopir tidur diarah kumpulan pinus jarum merah.

Bin jopir.. Bin jopir..

Titik tetes temetes kedua lalu ketiga. Mata segarisnya makin menipis. Sembab lembab kelopak tipisnya.

Bin jopir bin jopir.

*******
Bin jopir bin jopir..

Adalah kata sandi penuh keistimewaan yang kupanggilkan pada perempuan yang kupancangkan tiang keyakinanku akan cinta kencang-kencang. Padanya kupercayakan harapan. Padanya kueratkan pelukan keyakinan juga penjagaan. Padanya aku musnahkan ketakutan. Hingga padanya keberanianku yang lelaki kusembahkan. Aku berani menantang dunia deminya.

Ia menungguku dengan penghitungan jarum-jarum daun pinus merah setiap hari. Setiap helai daun jarum, setiap namaku agar selamat pula ia sebut. Begitu seterusnya. Ia menjaga agar keberanian lelakiku berkobar. Ia menjagaku dalam jarak yang ia jalani telan sendirian.

Aku akan menikahinya. Itu janjiku. Aku akan memuliakannya. Dalam serupa sederhana ikrar pada bumi untuk menjaga anak bumi yang begitu kucintai: bin jopir milikku. Menghadiahi kemuliaan sebagai seorang istri yang lenganku rengkuhkan dengan kokoh.

Suatu saat setelah aku menyiangi semua duri yang akan menggoresnya setiap kali waktu. Itu janjiku.

Suatu kali yang tidak pernah biasanya: dengung doa bin jopirku tidak lagi kencang dibisikkan jarum daun pinus merah.

Hitungan helai doa berhenti terucap.

Bin jopir tertidur lelap dalam pengharapan dan doanya yang selalu kencang menggema. Ia dikudang oleh doa bumi yang menjalar melalui tanah, batang, yang menyembul menelusup pada daun jarum pinus merah. Begitulah ia damai dalam pengharapan.

Bin jopirku tertidur. Lalu tertidur tak pernah terbangun. Digenggamnya bunga yang ia kumpulkan agar serupa ia seorang pengantin.

Dan hari ini aku beritahukan rahasia yang puluhan tahun kusimpan pendam perih sendiri. Pada seorang pria muda yang berasal dari negeri jauh. Aku memilih membocorkan rahasia pada ia yang tak memahami bahasaku, tapi memahami perasaanku.

Ia datang kemari dalam sebuah perjalanan sebelas hari. Persinggahan keretanya di Ulan Bator membawa perjodohan pada kisahku. Aku mempercayainya dalam ketidakpahaman. Pria muda dari negeri jauh berjodoh denganku. Dengan kisah bin jopir, kekasihku.

Dalam setiap hati, menanggunglah ia sebuah kekelaman yang sunyi. Yang tidak ia umumkan dalam keramaian. Yang dapat dirasakan dengan mendalam oleh hati lain yang berjodoh denganmu.

Bahwa perjodohan sebagaimanapun akan dengan ikhlas akan saling menemukan. Meski dalam sepersekian detik yang tidak pernah kau sadari. Apalagi kau syukuri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s