Apa yang akan kau pikirkan mengenai hidup tanpa harapan? Bahkan untuk dirimu sendiri. Tak pernah menginginkan cita, tak sanggup bahkan mengumbar duka. Semua tak kau mengerti, semua tak pernah kau sadari terjadi.

Gadis itu putih bersih. Bibirnya tipis, hidungnya maju. Matanya khas entah bahkan ku tak sanggup membahasakan. Ia tak dapat berbicara tapi ia bersuara.

Ia hidup dalam sebuah bola bundar yang berwarna semburat kadang putih kadang toska tipis yang menyerupa asap berpindah. Ia tak mengenal hal lain selain musik. Suara yang berganti. Nada naik turun. Gemerincing instrumen. Ia mengenali itu dengan baik. Suara berbicara padanya, selayak ia berbicara pada suara.

Ia gelisah. Hatinya redam meremuk, jika sekali waktu tak ia dapati riuh ramai suara musik di dalam dunia bola bundarnya. Tangisnya pecah. Ia ingin meracau. Tapi sekali ini, lagi-lagi hanya mampu ia bersuara, bukan berbicara.

Namun kapan kita terlalu gegabah mengira ia tak dapat berpikir dan sepi?

Mungkin saja dalam dunia bola bundarnya ia dapati taman penuh ayunan dan jungkat-jungkit, dengan labirin palma yang batangnya merah. Mungkin pula ia ciptakan sebuah bangunan belang jingga, putih, merah, nila, hijau berselang seling dari kembang gula. Dimana didepan taman mengalir sungai berisi teh melati hangat yang selalu berhasil menerbitkan binar pada mata kecilnya.
Hanya karena ia tak memiliki teman satupun sepanjang hidupnya, tak berarti hidupnya hitam hening tak ramai.

Dalam-dalam di dunia bola bundarnya, riuh ramai naik turun suara cakap canda, juga nyanyi dendang semua kebaikan yang menjadi temannya. Seruling, gendang, gitar, biola memainkan kodratnya masing-masing disana tanpa perintah tanpa aba-aba. Aduhai elok.

Apalagi yang hendak engkau pintakan di negeri seindah itu?

Hanya karena ia tak mampu mencerna apa yang mampu kau cerna, segala alam pikir mewah yang kau banggakan; maka kau akan dengan jumawa berkata: kau begitu karena tak mampu berdoa.

Dalam-dalam di dunia bola bundar yang tak pernah kau pahami keluasannya, selalu terdengar: gumam-gumam lembut tanpa henti. Seluruh kebaikan semesta berkumpul, berkoloni, berkembang biak– menjadi ratusan ribu pendoa tanpa henti. Menjadikan si gadis pemilik dunia bola bundar begitu bahagia tanpa jeda.

Melebihi seonggok hal yang para jumawa pikir selalu pamerkan dan monopoli: memiliki harapan dan doa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s