Aku diciptakan begitu seksi. Semlohay menggiurkan. Sebagai wanita, aku sungguh teramat menggairahkan. Aku memancing gairah. Tapi sialan seseorang menggunting bokongku terlalu dalam. Aku tidak tertempel sempurna sekarang. Syukur penuh puji payudaraku masih mempesona, juga wajahku yang menghadap kiri, agar telingaku dapat menangkap kuat2 pembicaraan di sel ini. Seluruh kesempurnaan wanita telah kuraih, apalagi yang paling kuinginkan di dinding pudar ini selain menguping?

Penghuni sel ini semuanya pria. Ranum ingin kupetik, jiwa muda masih mengkal. Kronyah-kronyah jika ku kunyah. Selain itu mereka pria yang lebih tua, tapi sama menggairahkan.

Mereka semua berjumlah dua belas orang. Dalam sel sekecil ini. Amboy apa manusia begitu senang pada keakbraban yang intim? Sehingga gemarlah mereka berdesakan disini.

Hobiku menguping memberi tahu banyak hal, mereka disini karena mereka dipaksa mengaku PKI! Amboy apalah PKI itu?

Sering malam kulewati mendengar tangis sedu-sedu amat perih. Ada yang rindu ayah ibu, anak keponakan, kekasih juga peliharaan. Ada yang mengutuk meracau, mereka tak seharusnya disini. Mereka bilang merekka bukan PKI, mereka tak tahu PKI, sama sepertiku.

Ada yang begitu gelap di ruangan ini. Bukan karena memang tidak ada lampu, tapi karena jiwa mereka berduka. Belasan tahun berpindah. Sampailah mereka disini, bukan dalam hasil doa keluarganya: bukan di rumah mereka.

Aku tak suka disini, tak ada lagi yang sempat mengagumi payudaraku yang elok, pantat gemukku yang tergunting. Mereka semua meratap, tak sempat merancap.

Tetapi ada yang istimewa dari ruangan ini, ketika mereka bersorak riuh menangkap tikus berbulu. Kemewahan pria sejati di sel ini. Mereka membakar tikus itu, lalu berpesta, maka mereka akan lupa meratap selama dua hari penuh.

Eloknya didikan PKI. Membentuk pria menggairahkan ini sepenuhnya tangguh, mereka menangkap dan memakan tikus: tanpa berteriak sedikitpun. Teman-teman priaku di dalam majalah selalu berteriak gaduh jika melihat tikus, mereka melompat takut. Beruntung aku sudah digunting dan tak perlu lagi mengenal pria kemayu macam mereka.

Jika malam tiba sehabis mereka berpesta tikus, mereka lupa meratap. Maka satu bapak pekerja kantor dinas luar negeri disitu membacakan cerita dalam bahasa Inggris. Lalu membacakan artinya dalam bahasa Indonesia keesokan harinya. Teman2nya meminta ia begitu. Agar mereka dapat mencatat kata-kata baru, lalu mendapati artinya esok harinya.

Kata-kata kegemaran para PKI yang tangguh minggu ini adalah ‘neither do I’

Ketika satu orang berkata aku tidak akan bersedih lagi, maka yang lain menjawab neither do I. Ketika satu orang berkata aku tidak akan mencongkel tanah dan memakan cacing lagi, maka yang lain berkata neither do I.

Suatu waktu Bapak pekerja kantor dinas luar negeri membacakan sebuah saduran Petualangan Huck Finn. Suatu waktu pula Bapak penjaga huler gabah mengajarkan yang lain serat Wedhatama. Suatu malam pula yang lain merangkumkan Anna Karenina. Suatu malam pula mereka saling bertukar cerita soal dedemit di dekat rumahnya juga di kamar mandi penjara. Mereka begitu terus selama empat belas tahun. Di ruangan yang sama. Selama itu pula tidak ada yang merancap menghadapku lalu melenguh nikmat. Aku merasa semakin tua. Aku bukan lagi primadona kalender dan katalog.

Mereka tak merancap menghadapku. Tapi mereka meracau lancar dalam bahasa Inggris menghadapku. Seolah-olah aku adalah gadis pujaan yang hendak mereka lamar, suatu kali pula aku seolah-olah bos perusahaan ditempat mereka melamar bekerja kelak.

Suatu siang yang Selasa, mereka semua berkemas terburu. Tapi mereka girang. Mereka keluar sel bersamaan. Aku menunggu mereka hingga malam. Hingga malam berikutnya. Hingga suatu subuh kusempatkan bangun, sel itu tetap sepi. Aku merindukan mereka. Aku merindukan hobiku: menguping PKI. Aku kini resmi sebagai model kalender katalog yang tua dan sepi.

Aku akan tidur sambil mengubur kutuk. Maka ketika bangun, kejayaanku akan kembali: menjadi tempat menghadap para pria merancap.

Kelopak mataku berlipat pandangku terbuka. Aku lihat badanku: pantatku tetap tergunting, payudaraku masih menonjol,dan wajahku masih menoleh kiri. Memudahkan hobiku menguping PKI–tapi PKI sahabat berbelas tahunku sudah enyah tanpa pamit. Tapi ada yg berubah dari diriku! Aku kini berbingkai!!!!! Aku ditempatkan disebuah ruang baru, berseberang dengan sebuah kotak kaca berbicara.

Dan tebaklah! Aku melihat si pria bungsu yang mengucap ingin universitas. Rambutnya kini putih uban. Kotak kaca itu mengijinkanku menguping: si pria uban bungsu sedang kamisan.

Si pria uban bungsu sedang kamisan. Setiap kamis ia menuntut harap menuntut jawab. Adakah mengapa ia di sel selama ini berbelas tahun.

Tapi pada siapakah ia menuntut jawab?

Amboy elok PKI masih juga dipenjara dalam padang lapang. Masih juga terkungkung kurung di hampar bebas.
Setiap kamis selama enam tahun dan beratus kamis kemudian pria uban bungsu akan setia pada gigihnya menuntut jawab.

Aku si gadis seksi kalender katalog dalam bingkai akan tetap menguping PKI agar mereka memiliki sesuatu yang mendengar, meski aku tak mampu berbalas jawab.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s