Aku mengetuk kakiku pada datar yang kau lihat sebagai lantai. Ketuk-ketuk tak bersuara. Kenyataannya ia melayang. Ia tak berdasar, tak juga menyangga berat tubuhku. Aku menapak melayang, tapi tak terjatuh.

Kain samping yang melilitku berkibas kecil. Ada angin hangat meniup. Nafas bergantian para pengamat yang seolah mengerti. Mereka menafsir seolah Tuhan.

Aku sesekali bersyukur nafas-nafas itu menghampiri. Mereka mungkin tergiur pada sembulan payudara dari kemben beludruku. Atau mungkin mereka menerka gerakan apa yang kupasang, yang menggiring pada nama sebuah tarian yang mereka kenal.

Sesekali waktu nafas-nafas mereka begitu menjadi penyelamat. Aku begitu kedinginan. Bukan karena kemben yang membungkus dadaku hingga perut. Tapi sesekali waktu, tempat ini menjadi hidup.

Mereka bilang aku adalah mahakarya. Dalam sebuah bingkai emas. Dengan ukiran kecil mendetil. Aku adalah pusat dari semesta seni. Goresan tangan dan cat terbaik menghasilkanku. Tangan Tuhan yang bekerja langsung dalamku. Maka jadilah aku seindah ini. Aku mahakarya.

Aku mahakarya yang dipuja seling puji tiada henti ketika goresan terakhir cat dioleskan pada jariku yang melentik tari. Aku diperbincangkan oleh kalangan cerdas. Agar mereka saling memukau manusia lain hanya dengan membicarakanku. Kritikus dan seniman saling bersautan memujiku. Para empunya harta bersaing angka mendapatkanku. Aku akan hidup dalam ratusan bahkan lebih tahun mendatang.

Lalu setelahnya aku dihukum. Sebuah harga yang harus aku bayar. Berdiam dalam ruang besar. Digantung permanen pada dinding. Digunjingkan ketika pagi dan siang. Lalu gelap hitam ketika malam. Hanya hantu-hantu yang berkelibat-kelibat didepanku.

Ada hal yang kemudian menyadarkanku: dengan hidup ratusan lebih tahun mendatang, tak berarti aku mendapat puja puji lebih banyak dari yang mampu aku ingat.

Meskipun aku mahakarya, aku dijatuhi vonis bertahun ratus lebih lama dari kemampuan manusia cerdas mengingatku. Bahkan ketika aku masih dikurung dalam bangunan megah gelap ini, manusia di masa depan mungkin tidak lagi mengingatku.

Surat kabar tak lagi mengulas keindahanku. Karena manusia sibuk membahas energi untuk menghidupi layar terang berkedip yang dapat berbicara di tangan mereka.

Selagi mereka melupakanku, aku masih tetap hidup dan menggantung dalam bingkai emas. Dalam ruang besar pertanda masa lalu.

Kami berkumpul disini sebagai mahakarya. Gedung megah sebagai penanda pengingat. Namun sebenarnya kami dikumpulkan untuk dilupakan.

Tempat ini adalah pekuburan bagi mahakarya dengan cat minyak. Aku dan ratusan bingkai gambar –yang mereka sebut mahakarya– adalah nisan. Bagi pekuburan yang mewah. Sebuah monumen penanda pengingat. Dengan sebuah tujuan: untuk dilupakan dan tak dikenal.

*respon atas All The Rowboats – Spektor

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s