Kremlin siang itu. Malaka yang baru saja sampai Moskow pagi tadi. Menunggu di sebuah sudut Lapangan Merah dengan kepul asap kopi dalam gelas kertas. Dalam suratnya yang terakhir, tepat tanggal ini, sahabat satu ideologinya, Trotsky akan menemuinya disini.

Kremlin, sebuah bangunan besar impian Pangeran Yuri akan bangunan megah. Mausoleum besar tidak menakutkan yang mengagumkan abad itu.

Monumen penanda dan persiapan kematian: nisan megah dan gereja. Penebusan dosa dalam kamar kayu: pengakuan dan penghapusan. Maka sebenarnya kematian tidak perlu terlalu dipersiapkan dalam empat bangunan megah katedral.

Sejarah berulang dan tidak akan pernah jujur. Bagi mahaguru ideologi mereka, Marx, ia sang pemenang mendapat hadiah merancang sedemikian cerita sejarah yang akan hidup.

Bagi sebagian banyak cerita, kubah di puncak Santo Basilika tidak pernah menyertakan Kazan, juga Tartar yang menjadikan Kazan hampir sepenuhnya lupa disebut lalu dilupakan.

Tan Malaka berpikir sebentar, sembari menyesap teguk kecil kopi yang mulai hilang kepulannya.

Pria tua dengan mantel hitamnya menghampiri. Legenda komunisme yang mahsyur. Trotsky.

Kelak, atas buah pikirnya, ditempat ini akan dibangun patung Lenin, yang selama ini disangganya dari belakang hingga menjadilah ia mahsyur dan dikenang dalam patung monumen.

Jabat kencang tangan mereka mantap saling genggam. Kedua pria yang saling melegenda di negerinya. Bedanya: Jika Lenin adalah otak komunisme Rusia, maka Trotsky adalah batang otak yang menjadikannya tetap hidup; Tan Malaka melegenda ketika ia mulai tak ada.

Bahkan kedatangannya ke Moskow adalah perjalanan seorang buron.

Namun keduanya datang dan bertemu di Kremlin bukan karena Komunisme yang ketika itu di Indonesia mencekam. Bukan pula untuk saling mendiskusikan ideologi atau revolusi.
Ketika itu mereka mungkin hanya akan bergunjing soal borjuis yang menggelitik mereka.

Trotsky datang sebagai tuan rumah yang mengantar turis yang sedang melakukan lawatan buron ke negerinya. Mengantarnya ke taman bunga di Kremlin, lalu tak sengaja menceritakan perselingkuhan masih menggairahkan di masa tuanya dengan si mahsyur Frida Kahlo. Ia ingin memetikannya salah satu kembang paling bersinar untuk dihiaskan pada kepang lilit Frida.

Tan Malaka tersenyum. Romansa semacam itu telah hilang baginya. Dirinya hanya seorang terasing. Ia hanya alien bagi kisahnya sendiri. Namun yang lebih menyedihkan baginya adalah, ia tak memiliki pengaruh yang menyihir rakyat sebesar yang dimiliki Soekarno muda yang flamboyan dan tampan.

Ia adalah radikal penyendiri. Ia bagai hantu. Menghilang dan datang sesukanya. Ia menjalankan revolusi dari negeri jauh. Ia ramai dibicarakan, tapi ketika manusia banyak ingin membuktikan kehadirannya, ia raib seolah tak pernah ada.

Terkadang seorang revolusioner yang mengakar bertingkah seolah dirinya monster Lochness. Memunculkan sebagian lehernya, lalu menghilang di kedalaman air.

Dalam persembunyiannya, ia melengenda namun sendiri. Tan Malaka yang sendiri.

Dalam persembunyiannya, Trotsky hangat dalam percakapan kiri juga soal seni dengan pelukis muda menggairahkan.

Maka memilihlah Tan Malaka siang ini di Kremlin. Ia ingin mengingat dirinya: ia tak pernah perlu mempersiapkan kematian. Tak juga perlu menandakan kematiannya.

Baginya Kremlin, adalah mausoleum juga perayaan. Semua yang ada disini: Lapangan Merah, bunga, Santo Basilika — semua soal perayaan kematian.

Ia tak perlu merayakan hal macam itu di negerinya: karena ia tak pernah memutuskan hidup dan terjamah.

Maka kematian hanya ada bagi yang pernah hidup.

Tan Malaka di negerinya, abadi. Tak terlibat dalam keterlanjuran sejarah. Karena ia memutuskan tak pernah hidup, maka tidak akan pernahlah ia mengenal kematian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s