Kupercaya apa yang pernah dikatakan kekasihku, bahwa hujan adalah segerombolan pasukan dari langit yang menuju bumi.

Setiap gemericik tetes yang sampai ke bumi adalah gemertap derap pasukan yang menghentak tanah.

Apakah yang menjadikan mereka begitu gigih setiap kali mengunjungi bumi?

Perhatikan apa yang terjadi pada hujan, tetes pertama membentur tanah, lalu pecah ia berlari menyusup tanah. Diikuti pasukan lainnya, membelah diri mengecil menyusup pori tanah.

Namun tahukah kau? Dalam seribu nasib yang seragam, akan ada satu takdir yang menjadikan sesuatu berbeda, unik, dan teramat istimewa.

Dalam seribu ayam yang berdaging putih, akan menetas ayam yang berdaging hitam, yang menjadikannya teramat unik dan diburu. Teramat magis menyihir.

Begitupun pasukan hujan. Ribuan teman dalam pasukannya bernasib sama: tetesnya menyentuh tanah, membelah diri mengecil, dan menyusup pori tanah– lalu ia lah mengambil andil dalam kehidupan.

Akan ada satu pasukan yang bernasib berbeda, bukan kerana ia sial tak mujur. Tapi karena ia beruntung dan istimewa. Ia–sang tentara hujan mendapat hadiah menyaksikan keajaiban lain.

Ia mendapati dirinya tak membelah diri dan menyusup pori tanah. Ia terhempas pada lutut kaki kecil seorang gadis. Alih-alih menghapusnya, gadis itu memindahkan tetes airnya pada ujung jarinya dan menempatkannya di sela bulu roma lengannya. Ia berbicara pada tentara hujan itu: bulir airmu begitu sempurna indah, meski kupindahkan, kau tidak rapuh lalu pecah. Kau pasti pemimpin nasib baik diantara ribuan nasib baik lainnya. Mereka bilang aku cacat. Aku hanya memiliki lutut kaki tanpa telapak. Tapi aku menari lebih lincah dengan lutut dan tanganku. Aku bergembira dua ratus kali lipat.

Tentara hujan menimpali: nasib baik bagi pasukanku adalah penumbuh kehidupan. Membelah diri dan menyusup pori tanah, agar tetumbuhan terangsang, maka hadirlah hidup.
Nasibku berbeda, begitu pula kau gadis cantik. Cinta bumi tak pernah berkurang sedikitpun meski apa yang kau miliki berbeda dengan ribuan hal sama yang kau lihat.

Aku adalah pasukan tentara yang diutus dari langit. Fitrahku tetap sama menumbuhkan kehidupan. Kini meski aku tak dapat menyusup pori tanah dan menumbuhkan kehidupan, aku perlahan akan terserap panas pori dan romamu gadis cantik. Maka aku akan menumbuhkan keajaiban. Apa yang akan kau pintakan? Sepasang kaki mungil yang tumbuh menjadi jenjang yang pintar menari? Sebutkan.

Tidak tentara air. Aku tak ingin itu. Aku hanya ingin lututku sedikit lebih keras dan kuat, agar ketika ku menari di tanah berbatu, lututku tak perlu menderita tertusuk tajam kerikil batu. Aku tak ingin menukar hadiah yang sama indahnya diisi cinta bumi juga semesta, dengan hal yang ribuan orang anggap sempurna. Karena apa yang melekat padaku sebaik-baiknya hadiah yang tangan semesta terampil mengkadonya. Menyusuplah ke dalam poriku, tujulah lututku. Lindungi aku dari tajam kerikil disana. Perisai tentaramu akan sangat membantu.

Begitulah kisah ini dimulai. Kekasihku menceritakan kesaksiannya. Ia mengikuti wajib militer pasukan hujan. Ia adalah bulir air yang turut menguap dari kolam hias penuh ikan warna. Dan aku adalah si teratai jingga yang mekar. Ia menguap menuju awan untuk dilatih menaklukan angin, dan akan kembalilah ia menuju bumi untuk: membelah diri lalu menyusup tanah menumbuhkan kehidupan; atau terpercik ke atas roma manusia, menyusup pori dan menciptakan keajaiban.

Advertisements

4 thoughts on “Tentara Hujan

  1. Setiap yg ada di bumi selalu memiliki arti,paling tidak untuk diri sendiri…disetiap ketidaksempuraan,pasti mampu menjadikan salah stu penghuni bumi menjadi sempurna….loooooove this,u doin great anak manis ☺

    Like

  2. i like this very much, wanitaaaaaa!! two thumbs up!! pemilihan katanya bagus, sarat akan makna dan dikemas apik. Keren! Good job!

    “Dalam seribu nasib yang seragam, akan ada satu takdir yang menjadikan sesuatu berbeda, unik, dan teramat istimewa.”

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s