Aku mencintaimu tujuh puluh ribu kali lebih banyak setelah hari itu.

Setelah kau menyerukan ‘Hidup sang Raja!’ sebanyak ratusan kali di padang panas ketika itu.

Bukan karena aku mencintai rajamu sebesar yang kau lakukan. Melainkan kepal tanganmu yang menjadi penanda tidak takut. Ia mengacung kepal melawan angin. Setidaknya aku mengetahui kau memiliki kesetiaan yang terbungkus selaput. Dengan cairan bening didalamnya yang memurnikanmu.

Bukan karena pula aku mencintai rajamu sebesar yang kau lakukan.

Bahwa dengan enam ribu lima ratus, cintamu pada sang raja begitu mengembang. Begitu menunduk kepala juga jiwamu penuh hormat pada rajamu.

Itulah mengapa aku mencintaimu tujuh puluh ribu kali lebih banyak dibanding sebelum kau berteriak ‘Hidup sang Raja!’.

Kau bertugas menyusun urut bunga dengan gradasi warna yang paling tipis sampai paling kental. Selanjutnya, adalah bagian alfabetis pakaian yang kau susun berdasar kecilnya hingga besar. Lalu kau menggosok lambang-lambang kerajaan: garuda sayap mengembang yang tembaga juga kuningan, dengan braso yang kau persiapkan sejak jauh hari. Agar ketika cahaya manapun bertengger sampai permukaannya, ia akan bersinar.

Bagimu hidup Raja ya Tuanku adalah berkah. Itulah mengapa kau sebut hidupmu yang kau abdikan sebagai ngalap berkah.

Di kala yang lain, matamu tak tertidur semalaman. Kau meraut anak-anak batang lidi untuk kau tancapkan pada gunungan. Dan keesokan harinya kau berjalan berlutut terseok jika bertemu papas dengan sang Raja.

Itulah kenapa aku mencintaimu tujuh puluh ribu kali lebih banyak dari sebelumnya.

Pernah kali kuingat kau berdiri di pintu Mirota. Membawa tenggok penuh bunga potong. Kau membagikan pada mereka yang melintas, seraya mengucapkan: sugeng riyadi.

Bunga potong titipan sang Raja yang menjadi salam bagi rakyat yang disampaikan melaluimu ketika terik panas.

Bunga potong segar itu bahkan berharga dua kali berkah yang kau alap setiap bulan per batangnya.

Itulah mengapa aku mencintaimu tujuh puluh ribu kali lebih banyak sejak saat itu.

Kala yang lebih lain, kau akan berteriak penuh gempita sunyi ketika arak-arakan Rajamu melewati barisanmu. Berteriak gembira ketika air basuhan pusaka cipratannya mengenaimu; lalu mengusap-usapkan ke seluruh badan yang terjangkau tangan.

Itulah mengapa aku mencintaimu tujuh puluh ribu kali lebih banyak.

Bukan karena aku percaya atas apa yang kau percaya soal air basuhan dan semacamnya. Tapi di kala yang paling lain dalam kepalaku, lakumu berbicara: bahwa tak perlulah sebuah mimpi layak dihormati dengan prasyarat kepunyaan hal besar.

Lakumu berbicara: kau mengunduh nikmat juga berkah.

Apa yang mampu menjadikan ruang benderang terang tanpa lampu kristal? Keyakinan seorang tua yang puluhan tahunnya ia jalani dengan mantap hati, dan gemertap tegap laku.

Itulah mengapa aku mencintaimu tujuh puluh ribu kali lebih banyak setelahnya. Dan keesokan yang akan seterus.

*untuk abdi dalem keraton yang berjarik dan kebaya lurik menggendong tenggokk, yang memberiku satu tangkai bunga segar di pintu masuk Mirota Batik 20 tahun lalu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s