Aku masih mengingat kala itu yang begitu jauh dari sekarang.

“Des, ambilkan pelepah kelapa itu, aku akan menunjukkanmu sebuah wayang”

Kala yang begitu jauh dari sekarang.

Aku masih bisa mengingat, kulit Sjahrir yang begitu cepat menggelap tertempa matahari Banda Neira. Kata mereka para kawan Sjahrir, matahari disini sembilan kali lebih banyak daripada yang berada di Jawa.

Aku, Des kecil. Belajar berhitung dalam bahasa Inggris langsung dari Sjahrir. Begitu besar aku terlambat tahu, Ia adalah seorang mahsyur. Kemahsyurannya meluas laut. Melampaui Banda Neira.

Mereka bercerita, Sjahrir ditawan disini. Di pantai ini. Tapi mereka pasti membual.

Sjahrir sempat bertengkar dengan Hatta, setidaknya yang kuingat ada dua hal:

1. Sjahrir yang begitu menikmati pengasingannya disini: bermain dan menjadi guru dengan anak-anak pantai sepertiku, sehingga sempat menolak kepulangannya ke Jawa– dan itu menyusahkan Hatta.
2. Sjahrir membelaku ketika aku tak sengaja yang begitu lincah berlari lalang kesana kemari, sehingga aku menyenggol kopi yang tumpah mengenai buku Hatta– bagi Hatta buku adalah harta seorang Hatta.

Dan anak nakal sepertiku yang membuat pengasingan nampak lebih semarak atau juga justru lebih sepi.

Sering aku menduga, kenapa ada orang begitu bergembira ditempatkan dalam pengasingan. Atau karena Banda Neira teramat menawan?

Ketika aku sedikit lebih besar dan mulai mengerti apa arti sebuah pengasingan, Sjahrir bagiku terlampau menikmati dan berbahagia disini. Atau karena lagi-lagi, Banda Neira teramat menawan?

Pengasingan bagiku adalah–meskipun ini hanya bayanganku sendiri yang mendefinisikannya– sebuah kutukan menjadi alien yang terjatuh ke bumi. Banyak manusia yang kau lihat, banyak tempat baru kau jamah, namun tak ada yang mengenalmu atau mengerti bahasamu. Dan itu mengerikan.

Pernah sekali waktu Sjahrir menceritakan begitu berapi pada kami anak muridnya, soal Waterloo. Kisah yang teramat heroik dan dahsyat. Namun baru kupahami ketika aku membaca ulang pada awal usia 20 tahunku. Sjahrir membutuhkan teman berbicara.

Jika kau menyadari sekelilingmu: semakin penuh sesak isi kepalamu akan pengetahuan, maka semakin ingin kau berbagi. Tak peduli apakah apa yang akan kau bagi cukup dimengerti. Atau justru tidak.

Pernah pula sekali waktu, Sjahrir menulis begitu tekun dan lama. Lalu setelah kutanya apa yang Ia tulis, jawabnya hanya: soal impuls yang kuceritakan pada istriku.

Lagi-lagi aku masih tercengang, Sjahrir mengapa terlihat teramat bahagia dalam pengasingannnya.

Dan kisah ini — jangan kalian salah paham dahulu– bukanlah soal Sjahrir yang ribuan orang mengisahkannya. Ini adalah soal aku. Mungkin kehadiranku adalah pelengkap Banda Neira dalam pikiran Sjahrir: artinya aku membuatnya bahagia.

Jika kalian belum paham siapa aku, maka belumlah kalian cukup mengenal Sjahrir. Kisah ini bukan pemberitahuan dan nampan informasi. Kisah ini hanya pemantik. Agar kau dan aku mencari tahu. Siapa Sjahrir juga siapa aku.

Advertisements

2 thoughts on “Banda Neira dan Seorang Siapa

  1. Beberapa kalimat pertama udah enak beut bacanya, makin masuk makin enaak dibacanya *awas beda fokus*

    Intinya makin sering nulis makin bertambah kemampuannya, makanya terus semangat yah (҂’̀⌣’́)9

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s