Bagi Saya, hubungan interpersonal kakak dan adik lebih besar perannya dalam membentuk siapa saya sekarang. Bukan karena saya tidak menghitung cinta orang tua saya pada saya. Tapi hubungan kakak dan adik lah yang membentuk postur jiwa saya, disamping cinta orang tua yang menjadikan pribadi saya paling ceria seisi rumah.

Basuki Abdullah, tangan terbaik yang pernah Tuhan titipkan di negeri ini. Tangan terbaik pula yang cukup mampu menggambarkan emosi saya dalam hubungan kakak beradik dengan tidak berlebihan. Perbedaannya, saya seorang adik, dan saya menggendong. Tentunya Basuki Abdullah tidak akan keberatan jika ada pertukaran peran.

Kita, tentunya akan melihat lukisan ini bukan merupakan yang seharusnya. Potret yang agak melenceng. Anak-anak seharusnya tidak semurung itu. Tapi kembali lagi, bahwa tidak semua anak-anak dilahirkan ke dunia dengan bekal yang sama.

Bagi saya, si kakak– yang saya rasa adalah saya, yang sebenarnya merupakan adik– turut sembab matanya. Ia menenangkan si adik yang menangis. Ia mengambil tangis si adik.

Dan tulisan ini bukanlah sebuah analisis seni. Basuki Abdullah terlalu mahadewa untuk saya komentari.

Ini hanya sebuah ungkapan terima kasih. Karena tangannya mewakili emosi berpuluh tahun kami. Ia terampil membagikan bekalnya, dan sampai dengan cantik pada saya.

Seperti kakak saya. Yang selalu berbagi bekal. Yang selalu saya rela tukarkan dengan sembab mata saya.

Advertisements

One thought on “Kakak dan Adik – Basuki Abdullah 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s