Pagi libur yang srengengenya cemlorot. Pak Ageng santai di lincak depan. Mengawasi Beni Prakosa yang memainkan kapal-kapalan. Sambil menunggu Mas Joyo, si bakul penggeng eyem. Beni yang alih-alih menemani Pak Ageng–padahal justru yang sedang dijaga– akan duduk manis menurut. Karena pertaruhannya adalah sate usus panggang yang termahsyur. Apalagi yang Beni butuhkan jika ia akan mendapatkan sate usus yang begitu mlenuk dan berminyak. Maka sementara pagi, ia menurut apa yang dikata Pak Ageng. Karena bapak dan ibunya, dirjen kitchen cabinet keluarga Pak Ageng; Mister Rigen dan Nansiyem sedang uprek didapur, menyiapkan jajan pasar suguhan tamu beserta ubo rampenya.

Pak Ageng hendak menjadi tuan rumah arisan siang ini. Yang datang para Profesor. Mister Rigen sempat ndak pede. Masakannya apa iya ketrimo di lidah para Profesor.

Menunya eyem penggeng Mas Joyo didampingi salad dengan dressing sambal brambang asem — atau yang dahulu Pak Ageng pesan di United Airlines dalam perjalanan San Fransisco ke Honolulu disebut sebagai Javanese Dressing, lalu obyok-obyok daun mbayung, dan urap trancam. Tidak lupa tempe garit .

Pendampingnya, minuman yang pas dikala panas: es asem juga es beras kencur. Semua diracik Mister Rigen juga Nansiyem.

Ya meskipun semua menggiurkan, Mister Rigen masih tidak pede. Lha kan di Indonesia sedang masuk ramai es yang lembut enak sekali katanya, namanya Hagen Daaz. Para Profesor tamu Pak Ageng ya mestinya kesukaannya es seperti itu. Apa masih iya mau melirik es asem dan es beras kencur.

Mister Rigen yang van Pracimantara lantas hilang pedenya karena produk yang diucapnya harus dengan coro londo.

Lho yang jelas pasti rasanya gak ada sepersen segernya es asem apa es beras kencur.

Pernah kali pertama produk Hagen Daaz masuk pasar Indonesia, Pak Ageng dapat kesempatan nyicip. Lalu ya beliau cerita, rasanya gak jauh-jauh dari es puter yang sering Beni kejar.

Namun ya tetap untuk urusan pusaka kuliner di rumah Pak Ageng, hanya Mister Rigen yang menjadi ahlinya, yang kadang diselingi penggeng eyem Mas Joyo– yang selalu sedih dikira dijotak oleh Pak Ageng jika sedang dinas ke luar negeri.

Sudah jam setengah sepuluh. Arisan sebentar lagi dimulai. Tamu mulai datang. Para Profesor dengan para istri. Buah tangannya? Jangan ditanya. Black forest, taart, puff pastry, juga tiramisu.

Untungnya, Mister Rigen siap amunisi dengan lemper, getuk lindri, sosis solo, cara bikang, pukis, klepon, dan roti kulmbeng.

Mister Rigen pun heran, Pak Ageng sering coro londo inggris cas cis cus, masih juga doyan makanan ndeso macam ini. Apa ya gak takut jadi kikuk jika harus ngobrol dengan bule?
Pak Ageng mempersilahkan tamunya yang para Profesor, menikmati sajian chef bintang 5 Michellin dari Pracimantara: Mister Rigen. Seraya membuat aturan: dirumahku harus istirahat memakan taart dan puff pastry, kita nikmati apa yang negeri ini punya.

“Ini belum sepersen kekayaan Indonesia lho.” seraya mengemplok bulatan klepon dan tersenyum.

****

*ini bukanlah tulisan Umar Kayam. Bukan sketsa beliau yang termahsyur. Ini adalah apresiasi kerinduan saya akan karya Beliau. Saya menggunakan tokoh-tokoh dalam sketsa-sketsa Umar Kayam.

Masa kecil saya ditemani Umar Kayam. Beliau menyoroti hal-hal sederhana namun berarti besar. Salah satunya makanan, dalam setiap sketsa maupun tulisannya, beliau mengajarkan–khususnya saya– untuk tidak menjadi bagian bangsa yang minder. Memakan makanan bangsa lain, tidak menikmati namun untuk faktor gengsi. Umar Kayam begitu rendah hati. Meskipun tidak pernah bertemu muka, bahkan melihatnya di televisi, Beliau memberi peran penting dalam pemikiran saya soal Indonesia dan budaya. Meskipun saya tidak tumbuh dalam masa-masa Umar Kayam ramai diperbincangkan.

Bapak saya, sering membacakan keras-keras sketsa Umar Kayam ketika siang dikala mati lampu. Dengan nada dan aksen yang teramat sesuai dengan yang Umar Kayam tuliskan. Tanpa sadar, Bapak saya juga memperkuat kecintaan saya pada Indonesia. Di sela pembacaan sketsa Umar Kayam, Bapak saya sering berhenti pada istilah-istilah yang bagi saya asing. Entah itu nama tarian, makanan, maupun peribahasa.

Entahlah, jika anak seusia saya begitu membekas pada Hello Kitty, Barbie, Mini Mouse, maka saya beruntung tidak memiliki kesempatan memiliki itu semua. Sketsa sederhana Umar Kayam merubah pemikiran saya. Sketsanya memahat perlahan jiwa saya. Bahwa satu pesan besar dari kesederhanaan ceritanya: cintai Indonesiamu dengan sebagaimana dirimu.

*atas kerinduan teramat sangat pada karya Umar Kayam.

Advertisements

2 thoughts on “Sketsa Imitasi: Sebuah Kerinduan pada Umar Kayam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s