Dalam sebuah ruangan, akan ada selalu hal yang esensial. Menjadi penentu babak dalam kisah. Namun bukan tokoh utama yang menjadi pusat pujian.

Dalam pendopo ini, tentunya tokoh utama akan merupakan saka jati. Dengan ukir kecil mendetil. Naga, kembang kemboja, garuda yang bersisik ular. Jika kau sentuh, akan merindinglah romamu. Semua mendekati nyata. Bahkan dengan mata tertutup, kita akan paham apa yang kita sentuh.

Namun ada kalanya, hal yang menghidupkan jiwa sebuah ruang bukanlah hal megah yang mencolok banjir pujian. Dapat apa saja selain itu. Sesederhana ketel nasi liwet yang tak putus mengepul yang didirikan diatas tungku yang tak putus menyala.

Jika kita perhatikan, di satu sudut pendopo yang selalu menyala dan hangat sumup panas tungku; ketel nasi liwet itu akan berubah merah. Pemanasan tak henti membuat besi maupun baja akan terlihat melunak seperti dodol.

Dalam kelunakan yang dodol, ketel nasi liwet akan menunjukan sebuah pesan– atau kesimpulan– atau perasaan yang beriring dengan manusia yang berada disana.

Pendopo itu selalu ramai. Digunakan untuk acara segala.

Ketika anak-anak berjingkrak jingkat ayu juga gagah dalam sinjang menari, ketel nasi liwet yang lunak seperti dodol wajik akan mengukir dirinya sendiri mengelilingi lingkar badannya dengan untaian karet gelang, yang bersamaan dengan panas api tungku membuat ukiran untai karet gelang meliuk naik turun bagai diayun dalam lompat sapintrong.

Kala yang lain, ketika tahlil, pada hari ketujuh, ketel nasi liwet akan membentuk ukiran pada lingkar badannya serupa lintasan komet, yang semakin atas semakin menipis lalu hilang.

Kala yang paling jauh, ketika malam pukul tujuh. Tungku nyaris habis api. Ketel kelihangan sihir menjadikan dirinya serupa dodol. Ia tak sanggup mengukir gambar untai karet gelang melingkar ataupun lintasan komet.

Kali yang paling pertama kala itu orang lupa memasak. Beras tidak dituangkan dengan air dua buku ke dalam ketel. Tungku lupa ditambahkan kayu bakar.

Padahal, masyarakat sekitar pendopo berjanji pada orang tua-orang tua dari orang tua-orang tua orang tuanya untuk menjaga tungku tetap cukup api, dan ketel nasi liwet panas selunak dodol. Agar anak dan sedulur mereka tercukupi pangan.

Kala itu yang kali pertama. Orang-orang lupa.

Hantu-hantu yang berdiam lama disana mengetahui kisah tungku dan ketel liwet ini sejak orang tua-orang tua dari orang tua-orang tua orang tua orang tertua disini. Mereka iba. Lalu membantu meniup tungku agar tidak kehabisan api.

Kala itu kali yang pertama sejak kesetian orang tua-orang tua dari orang tua-orang tua orang tua orang tertua disini menjaga api dan kelunakan dodol pada ketel.

Orang-orang sibuk ternyata, menjaga nyala Muzdalifah dan Jodha Akbar dalam kotak yang bisa menyetrum jika tanganmu basah atau terciprat kuah gulai.

Advertisements

6 thoughts on “Janji pada Ketel Lunak Dodol

  1. Kadang aku penasaran dengan apa isi kepala gadis cantik ini, buah pikirnya menelurkan karya tulis yang indah seperti ini.

    Tulisan bermakna dalam, lebih cenderung multi tafsir, tapi aku suka!

    Like

      1. ternyata masih banyak berjuta kata yang sesungguhnya tidak aku ketahui dan mengetahuinya lewat tulisan kamu. im greatful!

        Like

  2. Sangat rapi, jelas, penggambarannta juga detail. Referensi ke jodha akbar dan musdalifah itu satire atau ada cerita yg lbh dalam dari itu yg gak gue mengerti?

    Like

    1. Gak ada cerita dalam kok sainal. Cuman memang dua topik itu yg lg sangat hodddd bgt di tlepisi. Orang lupa segalanya krn tlepisi. Makasi tampan udah baca :*

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s