Satu masa ketika malam sehabis Isya, masih riuh nyanyian..

Yo prokonco dolanan neng njobo
Padang bulan, padange koyo rino
Rembulane sing ngawe-awe
Ngelekake ojo podo turu sore.

Berulang sembari lompat. Tepuk-tepuk girang.

Dan lagu nyanyian itu tidak semata cerita. Kala yang dulu sekali, Bapak dan Ibuku kala kanak-kanak, bersaksi dengan bumi pertaruhannya: bintang dan bulan begitu telanjang menampakkan. Mata kecil mereka dapat melihat. Permainan berjingkrak di halaman ketika malam adalah mungkin.

Sebelum listrik–penemuan yang mempengaruhi abad-abad setelahnya– menyelamatkan dan menjajah suatu desa.

Bintang dan bulan dengan sesungguh menampakkan diri.

Dan sekarang bintang tak akan lebih dari satu atau dua dapat kita tangkap dengan mata telanjang. Karena yang paling terang dekat bulan bukanlah bintang. Ia planet. Selama ia tidak berkedip, bukanlah ia bintang.

Kita kehilangan mereka terkadang. Atau justru kita yang menghilangkan mereka.

Tanpa jutaan lampu yang serentak menyala, langit akan menjadi padang luas yang dipenuhi lebih banyak jutaan kunang yang kedip kelipnya bergantian– kunang-kunang yang sekarang hampir menjadi mitos. Karena ia hanya hadir dalam udara yang bersih masih. Sejuk tanpa mesin dan freon. Tanpa kepul tanpa asap.

Bintang: cahaya dari masa lalu yang setia tersampaikan. Kelipnya percakapan semesta.

Pertanda sebuah kebesaran kekuasaan.

Itulah mengapa pada saat yang sangat lalu,

Yo prokonco dolanan neng njobo
Padang bulan, padange koyo rino
Rembulane sing ngawe-awe
Ngelekake ojo podo turu sore; akan didahului dengan shalawat dan puji-pujian.

Manusia dan semesta bercakap berbincang secara rutin. Manusia tanpa kebaruan di masa dulu, teramat beruntung.

Kebaruan dan keterlanjuran membuat manusia hilang ingatan. Kita tidak sendiri dalam semesta.

Kebaruan dan keterlanjuran membuat tudung pada mata kita.

Bahwa anak-anak dimasa sekarang akan menganggap bintang kecil di langit yang biru amat banyak menghias angkasa kerlap kerlip hanya sebuah dongeng kanak-kanak karangan kesepakatan semua orang tua.

Tidak ada baginya yang lebih nyata dari sebuah cahaya kerlip notifikasi.

Bahwa, tanpa kita pernah sadari, sekarang saat ini, malam ini, masih tetap ada cahaya bintang yang terlihat kecil, menempuh jarak bertahun, untuk sampai pada mata kita– namun tak tampak. Terhalang tudung kebaruan dan keterlanjuran.

Dan bintang yang terlihat kecil hanya akan dianggap dongeng, yang dilagukan.

Bintang kecil dilangit yang biru amat banyak menghias angkasa aku ingin terbang dan menari jauh tinggi ke tempat kau berada.

*untuk Aby – si skywatcher.

Advertisements

3 thoughts on “Bintang Kecil

  1. Harta tak terukur; saat tengadah ke langit malam dengan jelas terlihat gemintang dan kita hirup udara segar sembari embun malam membasahi jemari <3<3

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s