Pagi selalu tidak pernah akan selesai diceritakan. Meskipun pagi yang tidak ada apa-apa. Tapi jika mau mendekat pada tetumbuhan, udara dengan kualitas terbaik akan perlahan menyusup ke tenggorokan lalu parumu. Udara yang digodok tak henti. Tetumbuhan yang semalaman tak menutup matanya.

Lalu masihkah bagi kita, itu adalah pagi yang tidak ada apa-apa?

Sehabis sahur, kita tidur.

Kita bermimpi.

Banyak dari kita akan merancang menu terbaik untuk sore nanti. Pembuka puasa. Hadiah perjuangan. Salah satu dari kita nanti sore akan seperti biasanya: menanak nasi aking dengan lalap daun ketela tanpa sambal dan lauk.

Banyak dari kita sehabis sahur: meneruskan mimpinya. Salah satu dari kita sehabis sahur: memulai perjalanan ke sekolah menaik turun bukit. Gelap. Bercelana dan rok merah. Yang terdepan dan paling belakang menggenggam oncor. Obor api. Agar di akhir perjalanan, mereka sampai tepat sebelum pukul tujuh pagi.

Ada ibu penjual gaplek menangis sedu. Ia tak tega memakan dagangannya sendiri. Terlalu mahal untuk dimakan sendiri.

Ada anak penjual kertas saham menangis sedu. Ia kesal menangis memaki karena kulit ayam tak begitu kering pekerja dapur goreng.

Ada anak dan ayah bersahur dengan bacaan niat. Lalu kembali memeluk dalam gerobak. Tanpa ada yang ditelan. Yang utama saat itu bagi mereka: mengurangi gigil.

Sebagian banyak dari kita: nasi aking, tepung gaplek, peluk dalam gerobak adalah menu yang mustahil akan menjadi tema dalam mimpi sehabis sahur.

Sepertinya kita salah. Semuanya, bagi salah satu dari kita bukan mimpi.

Puasa bagi salah satu dari kita adalah sepanjang tahun. Pelindung dari kutuk nasib beda.

Puasa bagi sebagian besar kita adalah perayaan tahunan yang berujung pada festival besar: berduyun bondong meninggalkan kota.

Puasa adalah sebagian bagi kita, perayaan tantangan kekuatan. Salah satu bagi kita: menjumput sedikit rasa yang tidak pernah kita paham. Lalu menjadikan bersyukur. Meskipun atas pagi yang terlihat tidak ada apa-apa.

Advertisements

2 thoughts on “Pagi yang Tidak Ada Apa-Apa

  1. Aku tenggelam, tenggelam lagi dalam tulisan si cantik ini.

    Selalu suka cara pandang, cara pikir dan cara kamu menuangkan semua dalam tulisan.

    Tapi ini ku yakin belom semua koq, kamunya bisa lebih bagus lagi.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s