Seorang anak menggambar di buku bekasnya, berusaha mendeskripsikan apa yang sedang dibacanya: Menjelajah Gurun. Cawi, sebutlah begitu kita memanggilnya, ia tengkurap di lantai dekat pintu keluar jemuran belakang.

Cawi kesulitan menggambar chott. Ia ketakutan. Alih-alih meneruskan gambar, Cawi membaca lebih dalam…lebih dalam…lebih dalam. Dan lantai keramik tempat ia tengkurap telah berubah gurun. Pasir bertiup-tiup, satu dua butirnya masuk matanya. Ia mengedip-ngedipkan matanya.

Dalam jarak setengah jam perjalanan di depan, hijaunya chott nampak berkilau. Ia teramat takut, bayangan asing soal chott begitu membuatnya takut.

Lapisan garam yang terkadang lunak setipis lembaran roti tawar, bisa membunuh siapapun. Termasuk Cawi yang meskipun masih berbadan kelas dua sekolah dasar.

Ia teramat takut. Karena tak pernahlah terbayang ada sebuah danau garam yang begitu rapuh menghisap, dan setelahnya kembali tenang seperti tak pernah terjadi suatu apa. Di padang gurun yang semuanya pasir. Ada satu anomali. Dan setiap anomali asing, akan membuat mereka–terutama Cawi yang tidak pernah memiliki pengetahuan soal chott– ketakutan. Amat takut.

Ia memanggil semua memori ketakutannya: agar chott tak lagi terlalu menyeramkan baginya. Ia panggil semua ingatan menakutkan: rambut mengurai keatas bertiup-tiup diatas pohon jambu air, pria berbaju safari di depan pagar setiap pukul empat pagi, dikeramasi bapak ketika ia nakal, geliat ulat bulu yang merambat pelan, uget-uget ulat di sela daun genjer, resrespo yang bergerak geser dalam diam di teras belakang, dan tentunya tes membaca hijaiyah di sekolah. Ia memanggil semuanya. Agar kumpulan ketakutannya mengalahkan misteri chott yang menakutkan. Dan tidak satupun mengalahkan ketakutan pada chott.

Hijaunya berkilau. Dari arah seberang, ia melihat Kara dari Nemsi, Halef si haji palsu, dan Sadek kuncen chott!

Kudanya meraba-raba kaki ke lantai chott. Kuda berjalan lebih stabil daripada kaki manusia di atas kerak garam. Perlahan mereka menyeberangi kerak garam. Sampai tiba pada bagian paling buruk chott: gang sempit kerak garam selebar dua jengkal!

Cawi hendak jalan mendekat: kakinya tertanam di pasir. Ia memicingkan mata: rombongan itu makin dekat sampai sisi seberang.

Cawi berdoa semoga kerak garam sepenuhnya mengering.

Dua detik kemudian, Sadek si kuncen chott yang berjalan paling depan; roboh. Kepalanya berasap setelah bunyi ledakan satu kali. Kudanya panik. Terjerembab menerobos kerak garam tipis. Sadek tertelan. Kuda lain panik, dan satu kakinya menerobos kerak. Kara dari Nemsi meraih bukit garam: ia selamat. Ia berlari menyelamatkan Halef. Setelahnya, matanya liar nyalang memandang sekeliling mencari tahu: siapa yang menembak Sadek.

Ia melihat satu-satunya manusia yang berdiri disana: Cawi yang kakinya tertanam di pasir.

Cawi semakin ketakutan–bukan lagi karena takut menyeberangi chott, tapi karena tatapan dan bentakan Kara dari Nemsi yang selama ini amat ingin ia temui.

Cawi menangis takut. Ia menangis. Dari kejauhan terlihat pusaran angin: dalam lima belas menit akan ada badai pasir. Cawi menangis. Ia merubah dirinya menjadi semut merah raksasa, dan menyusup ke dalam gundukan pasir.

Terus ia berenang-berenang dalam pasir. Terus terus.

Sampailah ia pada pohon jambu air. Tempat ia melihat rambut menjuntai mengurai di atas kumpulan daun ketika maghrib. Ia melihat kawanan semut dengan ukuran semut sebenarnya menghampiri, membawakan jambu air terbaik. Menjamu Cawi dalam nampan mini juga gelas berisi air gula aren dalam cawan yang lebih mini. Dengan kaki jarumnya, Cawi menitik air dari cawan, lalu menjilatnya.

Dalam hati ia tertawa girang: ia dianggap dewa disini. Ia berpikir akan tinggal lebih lama, hari ini seingatnya adalah jadwal tes huruf hijaiyah. Ia akan tinggal lebih lama sebagai semut raksasa memakan jambu air dan meminum gula aren.

Hari semakin sore, saat maghrib ia ingat ketakutannya akan pohon ini: rambut bergelombang yang terurai mengumpul seperti pohon berombak-ombak menyamar daun.

Cawi ketakutan. Ia mengompol–atau lebih tepatnya kencing yang membasahi seluruh badannya. Menjadikan badannya lengket seperti gula cair. Ia ketakutan. Jarak rumahnya hanya tiga puluh langkah dari pohon itu.

Dilema berat: jika ia tinggal di pohon itu, ia takut pada si rambut yang mengombak-ombak mengejek. Jika ia pulang, ia harus menghadapi tes huruf hijaiyah.

Cepat-cepat ia berlari kerumahnya. Jika ia pulang, ia harus berangkat menghadapi tes menakutkan itu. Cepat-cepat ia menyusup rumah. Berganti kemeja putih dan rok merah. Berlari ke sekolah. Mendapati teman-temannya mengantri di depan meja guru untuk di tes huruf hijaiyah. Satu temannya melihatnya, berteriak histeris: semut raksasa memakai seragam sekolah dasar!

Seisi kelas berlari kaget ketakutan. Dalam teriak dan langgang lari isi kelas, beberapa detik kemudian kelas benar-benar kosong.

Cawi tertawa girang dalam hati: Asikkkkkk! Tidak ada tes hari ini!

*cerita dan tokoh tiga orang melintasi chott dan terjerembab ke dalamnya diambil dari buku Kara Ben Nemsi I: Menjelajah Gurun.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s