Ada sebuah mega pabrik. Yang tiang sakanya setinggi leher brontosaurus. Memancang julang, tinggi begitu tinggi.

Bukan seperti pabrik lainnya, entah kaca, mobil, kain, atau pengalengan makarel. Bukan yang seperti satu itu.

Mega pabrik yang menjadi cerita dalam kisah ini adalah tidak pernah membuat apa-apa.

Mega pabrik ini tidak beratap dan berdinding. Hanya ada satu pancang yang menancap berbentuk L terbalik. Di sisi kanannya banyak gancu. Juga tatah dan palu. Juga besi tajam pemecah es batu. Begitu banyak. Teramat banyak.

Di tiang L terbalik yang memancang kokoh menancap cakar dalam-dalam tanah; ada sebuah benda teramat aneh menggantung.

Serupa kue tambang yang legam begitu hitam. Hitam yang teramat. Namun membusuk. Seperti hal basah yang kau simpan dalam-dalam kelembaban yang teramat kering. Kelembabannya menghisap habis kebasahannya. Menjadikannya nyaris busuk. Dan mengering menghitam dipermukaannya. Mengeras.

Setiap harinya, ada ratusan orang mengerubungi serupa kue tambang yang menghitam busuk: masing-masing mereka menggenggam tatah, palu, gancu, atau pemecah es batu.

Semuanya bertelanjang dada. Mereka menatah menghancurkan kue tambang yang tergantung di pancang L terbalik.

Teramat besar. Teramat membatu.

Setiap tatah yang menghancurkan ujung terdasar kue tambang yang menyentuh tanah: adalah kumpulan kerja keras ratusan tenaga.

Masing-masing yang datang kesana untuk menghancurkan kue tambang yang menggantung di tiang pancang L terbalik: memiliki misinya masing-masing.

Setiap dari mereka, pembuluh darah hijau di lengan kiri mereka tertali pada kue tambang yang menghitam membatu.

Setiap dari mereka datang atas dirinya sendiri: untuk memutuskan pembuluh nadi hijau mereka dengan kue tambang raksasa yang menghitam membatu.

Mereka menatah, memukul palu, mengetukkan gancu pada ujung yang paling dasar menyentuh tanah dari kue tambang.

Semua menatah dan berteriak “Lindungilah kami oh Tuhan dari Iblis yang Engkau ubah menjadi batu!”***

Setiap ketuk palu, hancur remahnya akan terbawa parit, lalu digiring anak sungai, terpecah delta, hingga sampai segara.

Bagian yang paling tak terkisahkan adalah: mereka begitu ingin terbebas. Mereka mengetukkan tatah dan palu memecah kue tambang yang membatu. Dalam setiap tatah, tak semua memukul bagian yang membatu. Mereka akan menemukan bagian yang berlendir bernanah. Tak jauh dari sana: uget-uget ulat pemakan bangkai.

Bangkai. Artinya: kue tambang raksasa itu pernah merupakan ia yang hidup.

Dan setiap uget ulat yang keluar dari sana mengisyaratkan satu: segala yang tak terlihat dari hal yang membatu sedang belajar terurai– menjadi hal baru atau justru tiada.

Terkadang bahkan seringkali, mata tatah akan memendek lalu habis lebih dulu sebelum mereka sempat memutus temali pembuluh nadi pada kue tambang raksasa.

Terkadang pula, yang sering paling jarang: temalinya terlepas dan memanjat ke puncak pancang untuk merayakan kegirangannya.

Pernah satu kali, seorang tua yang kehabisan nafas menatah kue tambang. Begitu nafasnya selesai, temalinya terurai buka sendirinya.

Pernah pula di waktu yang begitu dekat: seorang muda telah begitu payah sampai pada saat ia merobek temali tipis antara pembuluh nadi dan kue tambang raksasa– ia tak memutusnya. Ia gemar memelihara luka.

Lalu pada saat yang paling selalu: mereka setia tanpa henti menghancurkan setiap serpih remah kue tambang yang mengikatnya.

Hingga pada akhirnya, mega pabrik itu akan kembali sepi tak bersuara. Mereka akan dengan girang memutus tali, tak sempat memutus tali, atau telah sampai pada waktu memutus tali–tetapi ia membiarkan tetap tertali.

Terkadang, luka begitu gemar mereka pelihara– meski perlahan pembuluh nadi mereka yang akan tertarik perlahan lalu robek. Seperti si tua dalam kisah ini.

***kalimat tsb merupakan doa Reis Hassan nakhoda kapal ketika menghadapi ombak didepannya. (Kara Ben Nemsi I)

Advertisements

2 thoughts on “Palu Tatah Kue Tambang

  1. Sepertinya ini sesuatu yg glumi, kerasa banget 😦

    Banyak pake kata ganti dong biar gak udah terlalu banyak ngulang kata yayayayayyaya

    Japri aaah

    Like

    1. Sengaja biar bingung. Jangan manja! *eh kok nyolot*

      Nanti kucoba bikin yg lbh cerah ceria ya suhuuuu. Maklum atuh nuju glumi keur periyot 😦 *lha curhat*

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s