Ada lembar-lembaran benang kasur keluar dari telingaku. Beberapa terikat tak mati menyisakan lubang sebesar lingkar jari. Beberapa lagi terikat pada potongan kayu sepanjang telapak tangan.

Aku dalang boneka.

Benang-benang itu kugunakan untuk mendalangi gerak juga laku-laku boneka dalam panggung: dalam tempurung kepalaku.

Pentas tunjuk dalam panggung ini begitu singkat. Tidak lebih dari tiga puluh kedip mata.

Akan ada dua babak dalam setiap kali pertunjukan yang dapat dibolak-balik pentasnya tanpa membingungkan penonton. Dan hanya dapat satu penonton yang dapat menonton pentas setiap kali pertunjukan. Karena tak memungkinkan serombongan manusia berduyun menonton; karena pentas hanya dapat terlihat dengan cara bertatapan denganku–si dalang.

Setiap kali satu pertunjukkan, aku mengenakan beban biaya pada penonton sebanyak dua piring swike setengah matang. Yang akan langsung ku makan saat itu. Kemudianlah katak-katak goreng tadi berlompat jingkrak-jingkrak dalam panggung.

Penonton tak menyangka swike goreng yang ia sajenkan tadi berubah menjadi pemain pentas kelas atas, dengan gerak tari mengagumkan.

Diantara semuanya, ada satu yang paling menonjol. Pemegang lakon paling utama. Lembing.

Sebuah lembu tua yang mengaum. Saat katak-katak swike goreng sajen penonton tadi sedang girang berjingkrak, saat Lembing mengaum: mereka tersedot lenyap ke mulut Lembing.

Lalu Lembing memulai pertunjukannya: sebuah babak tanpa awal tanpa akhir, sebuah babak yang dapat ditukar diulang tanpa merubah cerita.

Boneka, pohon, rumah, rumput, semua menari digerakkan benang. Menari mengelilingi Lembing. Lembing memintal benang. Lembing memasak kaldu. Lembing bernyanyi. Lembing mengayun tampah. Tak ada dialog tak ada musik.

Lembing memetik kembang sepatu: memasangnya di sela kekupingnya.

Lembing memutus benang penghubung dalang pada dunia pentas itu. Saat itulah pentas tunjuk berakhir. Penonton bertepuk seraya mengusap air yang temetes dari matanya.

Lembing mengeluarkan benang baru dan menjulur keluar telinga dalang. Dan pada pentas berikutnya Lembinglah yang akan menentukan, siapa yang akan terikat benang dalam pentas, dan bermain peran jingkrak jingkat dalam panggung. Dan sebenarnya selalu begitu.

Karena, aku adalah dalang yang berpura-pura.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s