Aku mengetahui. Dan aku yang mengetahui itu adalah sebuah pengetahuan. Pengetahuan bahwa ada seorang atau dua atau tiga atau banyak orang yang membicarakanku, ketika tulang keringku terasa gatal.

Tapi permasalahannya adalah keterkadangan yang membingungkanku.

Terkadang gatal pada tulang keringku yang sebelah kiri. Terkadang yang lain, gatal pada tulang keringku yang sebelah kanan.

Permasalahannya yang lain adalah, aku tidak tahu gatal pada bagian sebelah mana yang merupakan pembicaraan baik atau sebelah mana yang merupakan pergunjingan.

Selalu seperti itu setiap kali tulang keringku gatal.

Permasalahan terbesar adalah: bagaimana cara menggaruk tulang kering. Fibulamu tak dapat kau jangkau dengan garuk kukur yang melegakan.

Gatal bukanlah hal yang menyakitkan, tapi menyiksa kala tidak dapat dituntaskan–dengan garuk kukur yang melegakan.

Dan setiap kali fibulaku terasa gatal, aku hanya dapat menduga dan lalu membiarkan misteri gatalnya tulang keringku menguap seperti uap dan asap. Menduga– apa yang sedang dibicarakan orang tentangku dan pujian atau gunjingankah yang sedang di bincangkan soalku.

Semua akan menjadi misteri. Dan aku akan membiarkannya menguap seperti uap dan asap.

Sampai pada satu hari yang tidak biasa**: aku mengetahui apa yang tak pernah aku ketahui. Aku mendapat jawab dari yang selalu aku duga dan tebak.

Aku mendapat jawab:

Ketika tulang kering sebelah kiriku gatal, orang sedang memujiku juga mengingat hal baik tentangku. Mereka membicarakan lentiknya bulu mataku, lesungnya pipiku, pekatnya mataku, renyahnya tawaku, nikmatnya singkong ungkep buatanku. Juga hal lain seperti seorang teman yang mengingat bahwa aku pernah memberinya penghapus berbentuk kura-kura ketika kami sekolah kelas dua. Hal lain lagi seorang anak yang mengadu pada ibunya dengan riang mengatakan aku memetikkan jambu di pohon yang tak dapat ia raih.

Aku mendapat jawab:

Ketika tulang kering kananku gatal, ada pergunjingan ringan soalku. Bukan yang terburuk. Hanya gunjingan ringan seperti kaus dan sepatu yang kukenakan tak sesuai senada. Soal pemulas bibir yang kusapu tanpa cermin–berantakan. Tentang jawabanku yang begitu bodoh dan asal pada guru. Tentang payudaraku yang tak normal–berukuran seperti ibu teman-temanku.

Namun kala yang tak pernah biasa: tempurung lutut juga langit-langit mulutku gatal bersamaan.

Ternyata itu menunjukkan kecemasan, cinta, kekecewaan, juga kasih. Bersamaan. Juga doa dan ketulusan.

Aku mengetahuinya bukan dari ramalan dan pengetahuan ajaib yang datang dari antah mana. Aku menyaksikan.

Tempurung lutut dan langit-langitku gatal, tepat ketika grafik turun naik membentuk jarum di monitor yang disambungkan ke badanku ketika aku berbaring makin merunduk. Semua yang disana cemas, menangis, dan berdoa.

Karena kali yang pertama aku mengetahui rahasia yang tidak dapat aku ketahui ketika membelakangi: aku memilih tampil sembunyi melihat sedikit lebih lama. Sebelum jarum menaik memuncak menggembirakan. Karena perasaan paling indah melegakan selain garuk kukur pada gatal adalah: mengetahui dicintai.

*Terinspirasi dari salah satu adegan Ally McBeal yang mengatakan jika tulang keringnya gatal, dan ia sedang dibicarakan olehh Billy dan Georgia.

**Pada satu hari yang tidak biasa– kalimat yang selalu diucapkan oleh teman saya, Oky Sinchan untuk merujuk pada kesabaran menunggu hari yang kita anggap istimewa dan dinantikan.

Advertisements

One thought on “Garuk Kukur Tulang Kering

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s