Aku mengenal sebuah cerita. Sebuah dongeng menakut-nakuti anak-anak sepertiku untuk menjauhi pematang atau tanah basah sawah ketika sudah petang. Awalnya kupikir sebuah dongeng. Sebuah cerita pura-pura para ayah juga ibu yang gemar membohongi. Awalnya kupikir begitu. Nyatanya tidak.

Di tengah sebuah petak sawah. Berdiri bangunan. Tembok permanen. Pintu. Jendela. Genting merah oranye. Di sebelahnya pohon puring warna merah lis hitam. Juga pohon bunga kamboja yang tinggi: penanda kemistisan yang indah.

Ada seorang ibu yang tinggal disana. Yang setiap hari meninabobokan sebuah makam.

Diselimutinya makam itu dengan selimut wol kembang-kembang warna biru–seolah suaminyalah nisan itu: yang memang suaminyalah yang berbaring disana.

Setiap pagi, siang, dan malam disiapkannya dua porsi makan. Satu untuk si ibu dan satu untuk si makam–suaminya.

Dibacakannya cerita atau berita atau juga sekadar tajuk rencana Kompas. Tapi kata si ibu, suaminya–makam itu–paling gemar dibacakan cerita petruk gareng yang terbit di Kedaulatan Rakyat setiap hari Minggu.

Disapunya setiap pagi lantai makam juga nisan dari tanah tipis juga debu. Disekanya dengan air hangat nisan papan nama pria yang teramat dicintainya.

Anak-anaknya sesekali datang membawakan perbekalan bagi si ibu untuk berkemah dalam rumah yang makam: beras, tempe koro yang belum putih, abon ayam, lilin, sabun mandi, juga krim ekonomi. Hari itu, si ibu mengirim SMS pada anaknya, meminta perbekalan spesial. Karena hari itu adalah (seharusnya) ulang tahun si suami. Ia akan merayakannya di atas makam. Si ibu meminta jenang upih juga nasi tumpang kegemaran ayah dari anak-anaknya yang harus dibeli di Pasar Ngijon.

Karena hari itu adalah hari spesial–ulang taun suami yang teramat dicintainya–maka si ibu berpakaian cantik. Atasan brukat hijau muda dan bawahan jarik parang yang amat cantik membalut kaki.

Setelah perbekalan istimewa dan tak biasa hari itu sampai: jenang upih dan nasi tumpang dari Pasar Ngijon.

Si ibu bersila menjejer-jejer makanan kesukaan suaminya dulu. Tak lupa dibikinkan teh tubruk Tjatoet yang direbus di ceret sampai umup.

Pesta ulang tahun untuk suaminya segera dimulai. Dibukanya bungkusan daun pembungkus nasi tumpang, diirisnya jenang upih yang gurih dan pulen.

Sambil terisak, si ibu mengunyah sajian itu satu persatu. Mengusap-usap keramik makam yang letaknya tepat disebelah ranjang ia setiap hari tidur.

Si ibu bukan bersedih. Ada ketegaran yang tidak pernah runtuh bahkan oleh kematian: cinta yang menunggu.

Si ibu tahu betul suaminya yang teramat dicinta telah pergi. Pergi dan tak akan pernah pulang ke rumah yang mereka habiskan waktu berpuluh tahun: itulah alasan ia membangun rumah baru dengan makam suaminya didalamnya.

Ia tahu suaminya telah pergi dan tak akan kembali–tapi ia tetap menunggu. Si ibu percaya satu hal bahwa cinta tak harus mati menyusul jasad yang menyatu tanah.

Sejak kecil si ibu selalu percaya, bahwa manusia hanya mampir ngombe di dunia. Manusia hanya mampir sebentar di dunia untuk menelan satu atau dua teguk air kemudian melanjutkan perjalanan: setelah jasad menyatu tanah–wallahualam.

Hari itu si ibu memantik harapan kecil: saat ulang tahun suaminya mungkin saja mau mampir untuk sekedar minum teh Tjatoet yang direbus ceret hingga umup, juga ditemani bekal nasi tumpang juga irisan jenang upih–untuk meneruskan perjalanan.

Dan jika tidak, si ibu akan setia dan kembali pada cintanya yang menunggu–seperti biasanya: meninabobokan makam. Sembari dalam hati memohon doa pada Gustinya, agar si suami yang teramat dicintanya, tidak kehausan dibawah sana.

*terinspirasi dari kisah nyata: hal yang hampir serupa, seorang ibu yang mendirikan dan mendiami rumah di tengah sawah didalamnya dibangun makam sang suami–di sebuah desa di Jogja, satu lingkungan dengan rumah Nenek dan Kakek saya dari Bapak saya.

Advertisements

2 thoughts on “Meninabobokan Makam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s