Selalu akan ada yang bersembunyi di balik sebuah kekejian dan muslihat. Di balik semuanya, segala usaha payah hanya tertuju pada sebuah tahta. Atau mahkota megah. Atau perisai baja berbalut emas. Selalu ada yang menyokong dari belakang.

Seperti Nero yang gemar bernyanyi. Menjadi penguasa Roma kala sulit: ketika Roma terbakar nyaris habis.

Seperti Nero yang gemar menyawang wajah pada apa saja. Cermin dan kaca patri. Dan mengukir wajah dengan lekuk ombak rambut pada sekeping koin yang dicetak masal.

Ada yang menyangga tegaknya kaki Nero: Seneca– si penulis skenario dan sutradara.

Akan ada selalu otak yang bersembunyi dibalik tahta–menyetir dan membelokkan: kecerdasan ataupun muslihat.

Nero yang mahsyur gemar bernyanyi juga pesta diotaki cendekiawan masa itu, menjadikannya pemimpin yang dihujani segan, disokong guru bangsa: Seneca.

Namun Nero yang mahsyur menggilai seks mengubah nasib yang tak terjangkau mencapai sebuah tahta megah, disokong ibu yang ambisius bermuslihat: Agrippina.

Agrippina yang rupawan dan perayu:
menikahi pamannya, Claudius– Kaisar Roma. Dan menjadikan putra kesayangan Agrippina yang gemar bernyanyi dalam pesta sebagai sesatunya putra mahkota–Nero: karena anak sang kaisar adalah wanita–Octavia, yang dinikahi Nero.

Selalu akan ada muslihat dan kecerdasan yang tidak berhenti bekerja dalam sebuah tahta. Muslihat tidak akan pernah selesai bagi manusia yang menjadi bagian kelompok bermimpi seragam: tahta dan kuasa.

Hakikatnya: tahta adalah seharusnya sebuah peruntungan yang terbuka. Mempersilahkan bagi siapa saja yang beruntung dan mampu–bukan yang bermuslihat.

Nero pada akhirnya harus membuat lenyap nyawa ibunya, Agrippina si Agvstvs dengan tiga kali upaya terlebih dulu dengan alasan: tahtanya terganggu turut campur Agrippina.

Juga sebenarnya: turut campur lebih besar datang dari gurunya yang penyair dan ahli hukum– Seneca yang agung.

Tahta yang benderang silau menjadikan Nero lupa: bahwa ada muslihat yang lebih menjatuhkan daripada muslihat yang licik mematuk dengan racun bisa–kecerdasan dari orang pintar yang terselubung.

Agrippina yang perayu dan haus kuasa membuat Nero terancam. Seneca yang penyair dan tenang membuat Nero diayun nyaman dalam kidung nyanyian.

Nero lupa bahwa tahta adalah sebenarnya diawali dengan kekhawatiran yang penuh cemas: membuat ibunya menikahi Kaisar, dan dirinya menikahi putri Kaisar– juga pembunuhan.

Nero alpa akan kecemasan yang sebenarnya harus dicemaskan: kecerdasan yang diam-diam membuatnya menjadi boneka tali.

Ditarik, diayun, digerakkan, sehingga tangannya melambai-lambai menggapai, melunglaikan kaki, menggeleng mengangguk.

Bahwa Nero yang boneka tali dan Seneca dalang tali– hanya cerita masa lalu. Bukan berarti cerita itu punah. Justru menganak menggurita semakin banyak.

Tahta hanyalah wajah penuh kosmetika– dibaliknya: ada kecerdasan yang lebih bahaya dari muslihat yang harus dicemaskan sejak awal.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s