Adalah sebelumnya: kala yang menghilang jangkauannya dari ingatan.

Sebuah kisah dituturkan. Tentang air yang gemericik cantik. Mengayun tenang. Membasuh menghadiahi segar.

Dalam sebuah telaga: yang berlumut hampa sentuh.

Adalah kala yang ingatannya melupakan. Teramat jauh. Begitu lama.

Kisah air gemericik yang setia menggelombang riak kecil: mengayun-ayun angin. Mendinginkan bumi dan kelopak anggrek juga langit perak tembaga.

Sebelum semuanya– gemericik air yang tenang membasuh basah– menjadi gelembung-gelembung panas. Mendidih marah. Mengepul kepal. Umup beribu kali. Menjadikan kulitmu menggelembung mengandung nanah. Air yang riaknya tenang gemericik, pernah dingin dan hangat: sebelum mendidih menuai gelembung panas penuh benci.

Telaga yang berlumut: kini kuali umup.

Namun manusia kala itu: melempari batu kerikil–meredam amarah telaga. Kebencian adalah pernah sebuah bagian kisah sebelumnya: anak kandung gemericik sabar yang membasuh perih luka– yang dikhianati pengharapan dan belas kasih.

Dan kisah ini akan setia pada telaga: namun kali ini memanaskan bumi yang terlampau beku– melayukan anggrek dan mewarnai langit hingga timah.

Dan manusia akan melihat dari jauh: melempar kerikil dan batu– meredam amarah panas air telaga. Dan menghukumnya dalam penghakiman: kebencian tak pernah boleh ada. Padahal manusia lupa: pengharapan dan belas kasihlah yang mengerami gelembung panas penuh benci.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s