Teramat banyak hal magis di dunia ini. Bukan perkara sulap menghilangkan kelinci mengganti dengan merpati atau kembang warna-warni. Teramat banyak hal magis yang sebenarnya tidak magis yang pikiran kita hanya mampu menjangkaunya sebagai pengalaman magis. Kita lupa, manusia merupakan juga semesta kecil. Dan dalam semesta akan ada selalu hal atau tempat atau penglihatan yang tidak terjangkau oleh pengetahuan yang kita anggap paling mumpuni untuk mengetahuinya– bahkan apa yang ada dalam diri kita.

Perlahan, seseorang akan berjalan tertatih-tatih menuju sebuah keterangan dan petunjuk. Mengalami hal-hal magis dan menakjubkan. Yang hanya akan dapat dialami dan dirasakan benar oleh alam spiritual– bukan dapat dijelaskan.

Mari kita samakan persepsi; kemagisan yang akan kita bicarakan bukan soal sisi magis kuku dan rambut jenglot yang terus memanjang padahal ia sebuah boneka kisut menakutkan, bukan soal pesulap, bukan soal kemampuan menghilangkan diri, bukan soal penarikan mustika safir atau pusaka keris dan kujang, bukan soal penampakan genderuwo, bukan soal penglihatan anak-anak indigo, bukan soal ereup-ereup, bukan soal banyak sekali yang bukan soal hal magis yang dimaksud disini.

Ini adalah soal syukur. Soal nikmat. Soal pengharapan. Soal sabar. Soal berbicara. Soal pengulangan. Soal memaafkan.

Kita tentu pernah mendengar mitos soal bukalah sebuah kitab atau buku, dimanapun. Halaman berapapun. Paragraf yang manapun. Tunjuk satu kalimat, kalimat itu akan membisikkan sesuatu padamu: dan merubah hidupmu selamanya. Tentu, tak semua orang percaya pada kitab-kitab yang seberapa bagian orang mengganggap itu adalah kumpulan legenda dan sihir. Tapi, kitab yang sebagian orang lain menganggap penuh dengan pertentangan logika– berhasil menyembuhkan dan memberikan pengalaman magis bagi saya pribadi. Bukalah pada titik manapun, percayai sungguh-sungguh: dan apa yang kau baca akan mengubah hidupmu. Mengubah seluruh pandanganmu sebagai manusia dewasa. Mengubah pandangan soal pertolongan dan penyembuhan.

Kita tentu, akan menganggap itu sebuah kebetulan yang dicocokkan. Maka ulangilah dengan cara yang sama. Ulangi terus. Lalu terus. Menerus.

Bahwa kepercayaan kita yang paling purba akan mengatakan: tidak ada teka-teki tanpa petunjuk. Dan cara sederhana yang penuh magis itu memberikan petunjuk. Membuka jalan. Menerangkan yang gelap. Menebus yang tertahan. Bahwa, betapa Tuhan Maha Baik.

Kala yang lain, kemagisan sebenarnya kita alami dalam cara yang lain, yang lebih terang tapi tersembunyi bagi mereka yang tak mau melihat. Apa kalian pernah merasakan sakit yang teramat sangat, kecewa yang menggumpal, dan menghasilkan asap yang berkumpul di dada sampai kerongkongan. Apa yang paling kau butuhkan saat itu? Ya! Menangis.

Alangkah betapa berat pelepasan sakit tanpa menangis. Perasaan dan kecewa yang menggumpal menjadi asap akan begitu ribuan kali menyakitkan tanpa berhasil kau keluarkan tangis. Ketika kau mendapatkannya– menangis dengan lepas– tanpa sadari kau akan tertawa bahagia. Dan berterima kasih. Atas tangis yang berhasil pecah dan melegakan.

Jadi berapa banyak dari kita yang mengalami sebuah tangis sebagai hal yang magis dan ajaib? Sebagai sebuah pengalaman yang lebih merupakan hadiah bagi mereka yang telah putus harapnya.

Manusia berlomba menghindari tangis– yang selalu simbol kemuraman dan penderitaan. Tanpa tentu mereka sadari: menangis bisa merupakan hadiah dan ganjaran baik atas penahanan amarah dan buah baik kesabaran.

Lebih besar dari semuanya: ketika kita mampu menjangkau sebuah kepercayaan baru– sebaik-baiknya perlindungan datang dari yang sedekat nafasmu: Tuhanmu.

Tuhan tentu bagi kita sejak dulu merupakan sosok. Bisa benar bisa tidak. Bagi kita yang sebagian lain, Tuhan akan merupakan sebuah pengalaman mengalami.

Tidak akan pernah kita bisa menemukan Dia dimanapun tanpa mencari dalam dirimu sendiri. Dan Tuhan yang kita alami akan selalu terlihat begitu mengagumkan membuat jatuh cinta, daripada Tuhan yang digambarkan dan disosokkan.

Yang paling menakjubkan dari semuanya: ketika kita berhasil berbicara pada Tuhan yang kita alami, dengan secara magis pula, seluruh gumpalan penuh luka yang mengasap hitam di dada hingga kerongkonganmu akan perlahan terbasuh–atau Dia basuh?

Bahwa cinta adalah sebuah penerimaan. Kala yang lebih lama dari sekarang, kita berlari menjauh, mengkhianati Maha Pemelihara dengan kesombongan dan keyakinan diri sendiri. Dan ketika seluruh dunia menolakmu, menjadikan dirimu seperti gumpalan rambut rontok yang akan pertama kali disapu– Dia, Maha Baik yang Maha Pemelihara, merentangkan tangan selebar semesta- memeluk dan meyakinkan: Jangan bersedih hati. IngatKu banyak-banyak, agar hatimu tentram. Aku akan mengangkat beban yang memberatkan punggungmu.

Maha Baik akan melanjutkan: Aku tidak pernah meninggalkanmu atau membencimu, walau kau pernah berlari menjauh sangat lama, dan menutup mata ketika Ku menatap.

Bahwa, cinta adalah selalu soal penerimaan dan merawat luka dengan setia. Maha Baik dan Maha Pemelihara, hanya padamu hamba memohon kesembuhan, padaMu Maha Penyembuh.

Jadikan aku jatuh cinta lebih dalam lagi, lebih dalam lagi. Lagi. Hingga tenggelam. Karena Engkau Maha Baik.

Advertisements

One thought on “Jatuh Cinta: Magis Spiritual

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s