Tuhan menguasai, itulah mengapa ia selalu satu-satunya Maha Kuasa. Penguasaan atas timur juga barat. Penguasaan atas tasbih-tasbih yang tak pernah henti dirapal oleh setiap sudut bumi dan tinggi langit.

Tuhan menjadikan dirinya setiap arah kemana kita menghadap.

Tuhan Yang Maha Sibuk.

Dia menjadi arah setiap kita menghadap. Dia mendengar ribuan juta hati yang merapal ucap pelan juga lantang doa. Bersamaan. Dalam satu ketika. Dia menenangkan jiwa-jiwa yang mengadu–dalam keluh khusyuk. Saat yang sama pula akan ada ratusan juta hati lainnya yang berjingkrak sorak penuh syukur, berterima kasih. Tentu pada Dia, Sang Maha Sibuk.

Saat yang hampir bersamaan, akan ada jiwa-jiwa yang menentang. Membicarakan dengan percakapan kosong. Melupakan bahkan menganggap Dia tak pernah ada. Selalu tiada. Mengumpulkan bukti ketiadaan sosok. Tentu, hal yang seperti itu juga menyibukkan Sang Maha Sibuk. Dia Yang Maha Teliti, meneliti setiap bisikan dan setiap yang terlantang.

Bahwa selalu Maha Murah Hati nya Dia. Mempersilahkan pengembalian segala setiap urusan padaNya.

Kita tentunya sering mengeluh, soal betapa merepotkannya mengurus orang tua kita yang sedang sakit, memelihara anak yatim, mengasihi kaum papa, memberi makan mereka yang lapar, menjadi relawan tak berbayar, membantu orang cacat– dan ribuan daftar hal merepotkan lainnya; tanpa pernah kita sadari bahwa sebenarnya jika kita melakukannya– urusannya bukan soal kita sedang membentuk hati sepolos patuh malaikat– tapi kita sedang membuat Tuhan semakin sibuk. Bagaimana bisa? Kita sedang mengembalikan urusan yang tentunya merepotkan (lagi-lagi) kepada Sang Maha Sibuk.

Bagaimana bisa?

Lupakan variabel keikhlasan dalam daftar hal merepotkan yang coba kita susun diatas–kita tidak akan pernah bisa mengukurnya. Dan mari semakin sibukkan Tuhan perihal pengukuran keikhlasan, dalam kata lain, ikhlas bukan perihal urusan kita sebagai makhluk.

Yang menjadi garis bawah dalam kegiatan merepotkan yang– syukur satu saja dapat kita lakukan: sebenarnya kita sedang memberikan pinjaman baik pada Tuhan– artinya, kita sedang semakin menyibukkan Tuhan dengan perihal pengembalian pinjaman.

Soal pemeliharaan dan penunaian hal merepotkan diatas, kita akan selalu beranggapan kitalah pelaku yang menjadi tokoh baik hati. Padahal kita lupa, kita sedang mengembalikan kembali urusan hal merepotkan kembali pada Tuhan. Kita selalu semakin menyibukkan Tuhan. Kita hanya meminjamkan pinjaman baik. Dalam apapun itu.

Itu baru satu perkara: manusia. Makhluk yang paling sombong juga keji yang selalu banyak meminta.

Jangan lupakan kesibukan Tuhan memeluk satu persatu makhluk di setiap sudut bumi juga sampai titik paling tinggi langit. Setiap tasbih atasNya selalu Dia hitung teliti.

Tuhan kita teramat sibuk. Tapi teramat penyayang juga murah hati– sehingga tak pernahlah ia hentikan kesibukannya untuk berlibur atau sekadar tertidur.

KesibukanNya yang pasti diam-diam dikerjakan, selalu tanpa kita sadari: menjaga kita dalam sejarak nafas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s