Kenal orang yang teramat sangat suka tidur dan menutup mata?

Jangan terlampau cepat menyebut dia malas.

Ingat salah satu episode Ally McBeal *lagi-lagi* (maklum baru pertama kali nonton setelah diputar ulang di Fox sekarang, dulu waktu serial itu berjaya, saya masih kecil banget belum ngerti nonton begitu selain Ulil tokoh ulet di cerita Si Komo) — ada satu nenek menggugat (atau digugat ya, lupa) pada negara. Karena dia merasa tidak mendapat haknya sebagai warga negara untuk dapat bantuan medis dari rumah sakit. Apa bantuan medisnya? Membuat dia tertidur!

Jadi, si nenek ini meminta rumah sakit untuk menyuntikkan sejenis obat untuk membuat dia tertidur lama. Rumah sakit menolak, dengan alasan obat tersebut membuat orang tertidur dan bisa mematikan organ dan apalah intinya membahayakan. Oleh karenanya si nenek menggugat.

Pertanyaanya: kenapa si nenek begitu ingin dibuat tidur yang lama? Rasa sakit fisik akibat penyakit? Bukan juga.

Jawabannya: karena si nenek ingin bermimpi.

Dan ketika dia tidur, si nenek hampir selalu senyum bahagia. Alasannya hanya karena nenek ini ingin bermimpi. Si nenek sudah tidak memiliki sanak keluarga. Suaminya, laki-laki yang teramat dicintainya sudah meninggal. Si nenek selalu bertemu dengan suaminya di mimpinya: berdansa, piknik di taman, memasak, dan menjadi muda.

Ada kalanya tentu, si nenek mimpi buruk; ia mengakuinya. Tapi, baginya tertidur dan bermimpi jauh lebih ia sukai untuk dihadapi dibandingnya alam sadarnya yang tidak menawarkan apa-apa di masa tuanya yang tinggal sebentar lagi.

Dan kebahagiaan hatinya yang ia mampu raih adalah dengan mata tertutup dan kesadaran diletakkan sebentar.

Saya, lalu teringat seorang teman, Aby, dia selalu mengatakan: hal-hal terbaik akan kita rasakan dengan tepat dan benar juga utuh, ketika mata kita tertutup.

Barusan, sejak sehabis maghrib sampai cukup malam, saya duduk-duduk di teras. Sehabis siram-siram kembang: ada yang menyadarkan saya. Ada wangi berbeda– seperti wangi teh melati, juga seperti wangi pisang yang segar, kadang seperti nagasari baru matang, kadang seperti kembang kemuning. Wanginya teramat baru. Ternyata itu adalah wangi dari bunga tanaman (semacam) lidah buaya, yang tidak berduri dengan lis kuning dan loreng hijau ditengah. Bunganya berbentuk seperti yang saya ingat ketika kecil– bunga pembersih botol, bentuknya seperti alat pencuci botol– dengan kelopak kecil seperti bulir-bulir jeruk.

Wangi yang teramat baru yang menyihir itu ternyata bisa saya resapi wanginya dalam jarak setengah meter, tentunya dalam keadaan mata tertutup, menghirup dalam.

Anehnya, ketika saya dekati, menempelkan hidung saya pada bunga itu, dan melihat lekat-lekat: tidak tercium wangi apapun!

Itu baru satu contoh kecil kesaksian mata tertutup itu justru membuka penglihatan.

Selain itu, tadi ada banyak suara jangkrik dan angin yang pelan. Syahdu. Syahdu ketika mata saya tertutup dan benar-benar memasang telinga. Ketika saya buka mata, yang terdengar hanya suara kentongan bambu tukang baso tahu. Percaya gak percaya. Ya itulah. Mata tertutup itu membuka penglihatan yang lain.

Ada lagi, satu lagi. Suara adzan. Bersahut-sahutan. Tutup mata. Yang terdengar akan membuat merinding. Karena kita akan merasa: seluruh semesta sedang saling berlomba memuji dan bertasbih. Kita akan merasa maha kecil dibanding Maha Agung. Suara yang kita dengar akan magis. Karena terbayang setelah suara yang berseru lantang bersahutan setelahnya: akan ada ribuan juta orang mengikuti memuji bertasbih dan menyembah tokoh utama dalam seruan itu– Sang Maha Agung.

Coba buka mata ketika bersahutan adzan: yang terdengar hanya suara teriak yang tersaring serak-serak karena pengeras suara yang bergeser-geser. Susul menyusul paling lantang saling berlomba.

Setidaknya, itu yang saya alami dan percayai: mata tertutup membuka penglihatan.

Ingat Imogen Heap bilang: more you look less you see, close your eyes!

Begitupun dalam berdoa. Atau perihal-perihal yang mengasah rasa. Pencapaian kebahagiaan. Sugesti diri. Bersyukur. Menghayati nikmat. Menenggelamkan kesedihan. Mengalihkan rasa sakit. Semuanya. Perihal rasa. Lakukan dengan mata tertutup.

Karena hidup tak selamanya dijalankan dengan cara kerja mekanis. Yang menjadikanmu menjadi manusia adalah perihal rasa. Yang hanya bisa kau isi dalam-dalam, atau dangkal bahkan tak mampu kau ciduk.

Berdialoglah dengan dirimu. Dengan alam. Dengan suara. Dengan keinginan dirimu sendiri. Tubuhmu–yang bahkan hanya mati tanpa ruhmu– kadang lebih mengetahui perihal yang paling rahasia, dibandingkan diri kita sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s