Jadi, kebaikan pagi ini diberikan oleh Mang Someah penjual bandros. Bagi yang tidak tahu, bandros adalah sejenis kue dari daerah Sunda dengan adonan tepung beras encer yang didalamnya terdapat banyak sekali serutan kelapa, dimasak dalam cetakan cekung setengah lingkaran. Rasanya asin. Berbeda dengan daerah Jakarta, kue hampir serupa disajikan dengan gula. Bernama kalau tidak salah kue rangi.

Mang Someah selalu someah. Someah adalah bahasa sunda untuk sikap seseorang yang selalu ramah pada siapapun, selalu tersenyum, dan terbuka memberikan kebaikan.

Mang Someah selalu melewati depan rumah orang tua saya setiap paginya. Sejak dulu, Mang Someah berjualan bandros. Beliau sering bercerita pada saya sejak kecil, sampai saya seusia ini, Mang Someah jika berpapasan atau melihat saya dari jauh di jalan komplek, selalu lebih dahulu menyapa ‘Bade angkat kuliah neng? Sok sing pinter didoakeun ku Mang’. Selalu begitu. Padahal Mang Someah itu usianya jauh lebih tua dibandingkan Bapak saya. Tapi tentu, dengan someahnya Mang Someah akan dengan ceria menyapa saya duluan jika melihat saya dari jauh. Saya reflek menjawab ‘Muhun Mang bade kuliah. Punten ih Mang, saya gak ngelihat Mang. Malah Mang yang nyapa duluan.’

Tentu Mang Someah akan menyapa dengan someah, ‘Ah wios Neng, bukan masalah. Da nuju sedekah Mang ge. Nentramkeun hate. Sanes masalah umur. Ari bageur jeung silaturahmi mah ka saha wae’

IHHHH! Pengen nangis ya bacanya. Mang Someah makasih lho. Saya dapat pelajaran.

Dari dulu saya selalu berpikir, gimana caranya saya sedekah, lha uang juga masih dikasih Ibu Bapak, masih sekolah. Buat jajan sendiri aja kokoreh. Ibaratnya begitu. Gimana ya caranya sedekah kalau gak punya uang.

Satu teman pernah bilang bersedekah dengan kebaikanlah.

Mang Someah menegaskan. Dengan stabilo. Dengan font yang di bold. Dengan garis bawah. Dengan huruf kapital: sedekah paling sederhana dan tapi tentunya besar adalah dengan awal mulanya tentu– someahlah!

Lalu tadi pagi, saya dengan girang jajan bandros. Entah kenapa, kalo jajan bandros sama Mang Someah ini bawaannya girang bahagia. Mungkin karena beliau jualannya tulus penuh senyum ramah, dan juga suka nambahin bandros sampai tiga biji. Hahaha.

Ingat soal nambahin bandros ke orang yang jajan; kebaikan Mang Someah belum berhenti dong untuk diceritakan.

Pernah suatu ketika saya mau berangkat kuliah pagi-pagi. Jalan cari ojek, eh ketemu Mang Someah lagi ngetem mematangkan bandros sambil cingogo. Menyapa seperti biasa ‘Angkat kuliah Neng?’ Terus saya memutuskan, jajan bandros ah! Untuk sarapan di kampus. Dan setelahnya ada tiga anak datang, ‘Mang, meser sarebueun, tapi tilu nya mang’. Untuk diketahui, harga umum bandros Mang Someah adalah Rp. 500 per buah. Dan Mang Someah malah memberikan empat untuk harga seribu ke tiga anak ini. Anak-anak itu girang berlari setelah dapat bandros.

Mang Someah cuman ketawa girang ngomong pada saya, ‘Meni bingah nya Neng. Mang mah menyenangkan orangnya dengan bandros saja bisanya. Sedekah neng ini mah untuk hate Mang’

Jadi ingat lagi kan, Tuhan itu Maha Kaya, Dia tidak butuh apa yang kita punya. Apa yang kita sedekahkan itu sebenarnya untuk diri kita sendiri!

Cerita Mang Someah belum selesai. Tadi, ketika saya jajan, Mang Someah seperti biasa bercerita. Jadi, komplek rumah Ibu Bapak tempat saya numpang sejak bayi ini ada di satu komplek standar perumahan. Ada tujuh komplek. Saya di komplek kedua, dan berbatasan langsung dengan komplek enam dan satu. Ada banyak jalan yang membuat komplek ini saling tembus. Dan Mang Someah ini, ceritanya sedang curhat. Kalau jalan menuju komplek enam yang berbatasan langsung dengan komplek dua itu dipagar tinggi dan di portal. Yang intinya, pedagang gak bisa lewat. Apalagi Mang Someah dengan tanggungan pikulannya. Orang berjalan kaki saja tidak bisa.

Disitu saya berpikir ‘Kok gitu amat ya. Jalan ditutupin, orang gak boleh lewat. Lha dia lewat jalan orang lain’

Berbasis pengetahuan agraria sewaktu sekolah, ada prinsip sakral dalam hukum tanah: tanah harus memenuhi fungsi sosial– artinya tanah apabila keberadaannya menghalangi orang lain, pemilik tanah harus menyediakan jalan bagi orang-orang yang terhalangi. Termasuk soal jalan, apabila telah ada jalan, maka jalan itu harus dapat digunakan oleh siapapun demi kemanfaatan–asas sakral juga dalam hukum.

Dan penutupan jalan sehingga tidak bisa dilewati orang lain, merupakan penutupan jalan sedekah juga sebenarnya bukan?

Sedekah, akan selalu dan sebaik-baiknya adalah merupakan hal yang kita tidak pernah sadari bahwa itu bersedekah.

Mang Someah mengajari saya. Meskipun tak pernah sedikitpun beliau berniat mengajari. Apalagi menggurui. Sikapnya yang tidak beliau sadari sudah sangat penuh pembelajaran bagi yang melihat. Bahwa sedekah bisa sesederhana ini, dengan kebaikan lebih banyak dari satu peti emas.

Maka musnah sudah kekhawatiran saya yang tidak memiliki harta benda berlimpah sehingga tidak bisalah saya bersedekah.

Maka, saya memulai dengan menyiram kembang juga tanaman. Saya mau bersedekah bagi makhluk yang tak henti bertasbih. Semoga beberapa tetes air yang saya ambilkan dari keran — yang sebenarnya air juga berasal dari langit dan diturunkan oleh Maha Kaya — membuat makhluk hijau tidak kehausan. Karena mereka tak henti bertasbih.

Jadi sebenarnya saya tidak mengeluarkan apa-apa. Saya mengambil untuk diri saya sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s