Manusia selalu percaya pada kisah nyata. Selalu suka membaca penderitaan nyata. Selalu suka mengasihani. Dan inilah sebuah kisah teramat nyata: Tanaman puringku mati. Daun-daunnya menggulung kering. Padahal warnanya begitu indah. Merah lorek dengan semburat kuning dan ceplok hitam semu hijau. Padahal ia yang terkuat selama ini. Daun kering mati yang menggulung masih menempel pada tonjolan batang masing-masing mereka menginduk. Batang ramping yang menjulang sedang itu belum rela melepas duka cita. Padahal telah habisnya hijau daun darinya. Ia tak dapat hidup lagi. Satu-satunya yang mungkin bagi puring itu adalah melepaskan kematian lalu menunggu ketumbuhan yang baru. Yang menerbitkan harap. Batang itu masih enggan melepas duka cita. Tanaman begitu penuh hal tak terduga. Hari ini ia menjulang gagah, daunnya hijau sempurna, bunganya segar mencolok; esok hari ia hanya onggok layu yang berputus asa. Ada yang lain soal cerita tanaman yang– percayalah mereka menjalani hidup yang sama keras denganmu. Ada sebuah pohon bunga kertas dalam pot semen putih yang teramat gagah. Batang dan rantingnya kokoh. Ia tersimpan di pojok paling sulit dijangkau– artinya paling semakin mustahil lah akan ingat untuk kusiram. Sebelum yang paling berat pohon ini jalani, ia telah perlahan meranggas. Ujian terberat hidupnya adalah ketika permukaan tanah juga sebagian rantingnya tersiram cairan semen dan mengeras. Setelahnya dapat ditebak, daunnya habis gugur. Hanya ada ranting dan batang yang masih tetap kokoh kayu. Entah mengapa, Bapak tidak memutuskan untuk menggunakan pot gagah itu dengan tanaman lain yang lebih subur menarik, tidak juga menyimpan pot itu dengan bangkai batang ranting semakin belakang. Bapak justru meletakkannya merapat pagar. Tepat dibawah tetesan atap– jika air hujan turun. Bapak dan kami masih menyimpan harapan atas pohon itu. Dan kami menyaksikan keajaiban. Setelah beberapa minggu hujan tidak henti– di ujung terluar ranting yang paling jauh, tumbuh satu daun hijau. Setelahnya menyusul daun lain, semakin banyak, semakin banyak. Dan semua ranting semakin penuh. Kami menyaksikan keajaiban yang ditempa nasib juga penerimaan atas hal pedih. Atas sendiri. Atas ketakutan berputus asa. Kami menyaksikan keajaiban ayat. Apa yang telah mati dapat kembali hidup ketika air dari langit menyentuh tanah. Bukan hanya itu, bukan hanya daun hijau yang kembali hidup dari ranting batang yang kering seperti imitasi. Tapi juga renik, serangga, dan cacing dalam tanah. Tanah yang tandus berdebu akan menelurkan semua itu setelah tetes air diturunkan langit dan menyentuhnya. Tetumbuhan tak pernah selesai berkisah. Seperti hidup manusia, mereka pun diuji. Mereka pun mati. Mereka pun bertahan dan berharap. Sebagian lain bermain drama. Awal mula tulisan ini dimulai dengan duka cita pohon puring. Maka harus kita lihat keunikan lain tanaman. Sebagian darinya, sama seperti kita. Kerap berpura. Bersembunyi dalam hal yang nampak dukacita. Adalah sebuah kamboja jepang. Dengan batang sebesar kaki ayam, juga batang ranting yang sebesar jemari bayi. Daunnya? Sebesar daun kelor. Amat kecil. Terkadang, daunnya sebagian besar kering menguning. Begitu amat menyihir dan mengundang belas kasih. Menampakkan ketidakberdayaan. Seolah-olah dalam satu kali musim, ia akan tinggal onggok kisut. Siapapun yang melihat akan penuh iba. Tanaman, seperti yang semoga kita percaya dan ketahui– sama seperti manusia. Mereka lapar, mereka menderita ketika diuji siksa, mereka haus, mereka berharap, mereka kesepian, mereka tegar, mereka bertasbih, mereka berpura-pura, mereka bermain drama, mereka bermuslihat. Kamboja jepang ini, bermuslihat. Bersembunyi dalam topeng duka cita. Menjual ketidak berdayaan. Padahal, dalam hitungan hari, ia menelurkan kembang yang teramat cantik. Paling cantik nyala warnanya diantara teman-temannya. Jika kamboja jepang lain akan hanya berwarna merah jambu juga kuning tipis, si kamboja jepang penuh drama ini berbunga merah nyala kelopaknya rekah nyaris kembang sepatu. Ia paling menawan dan bahagia. Ia bermuslihat. Agar ia mendapat siraman air lebih banyak. Karena ia penuh duka cita. Padahal ia sedang diam-diam menikmati keindahannya sendiri. Ia adalah kembang paling bahagia diantara semua pot bunga yang berjejer merapat pagar. Tanaman tentu, seperti yang harus kita percayai, karena tulisan ini berkata begitu: adalah seperti manusia. Ada yang cepat berputus asa. Ada yang selalu tegar menantang nasib dimanapun dia hidup. Adalah sebuah pohon liar. Akan banyak sekali ditemukan di Babakan Siliwangi. Anak-anak kecil mengenalnya dengan pohon ‘darah-darahan’. Karena pohon ini akan terus berbunga yang dengan cepat berubah berbuah. Selalu dan amat banyak. Buahnya seperti tomat namun sebesar kacang hijau. Jika kita pecahkan buahnya, akan keluar cairan serupa darah. Pohon darah-darahan ini teramat tangguh. Ia tumbuh tinggi begitu cepat. Setelah awalnya tercerabut habis sampai akar. Kini ia hampir setara tinggi dengan palma merah. Meski liar kami tidak memusnahkannya. Ia menghiasi. Ia selalu tumbuh. Ia yang paling tangguh. Seperti manusia: ia yang paling tangguh adalah ia yang paling bebas menjalani hidup. Tanpa naungan. Pohon darah-darahan selalu berbuah dan berwarna. Batangnya kokoh. Daunnya seperti jari daun mapel yang terpisah. Ia liar dan tak diinginkan. Tak berharga jika dikembangkan. Tak akan dibeli jika dijual. Tak akan mati jika tak disiram. Tapi bukankah itu asal mulanya ketangguhan? Ia bisa karena tanpa naungan. Tanpa topeng duka cita. Tanpa ketidakberdayaan. Bahwa dimanapun nasib menumbuhkanmu. Maka hidup seharusnya tetap berbunga lalu cepat berbuah terus menerus. Meski ia liar dan tak diinginkan. Maka sekarang, berduka citalah untuk pohon puring merah. Semoga batangnya merelakan lepas kering daun yang menggulung. Kembang kertas yang menyaksikan keajaiban, kamboja jepang yang penuh muslihat, dan pohon darah-darahan akan semua menjadi seperti puring. Menggulung kering, juga onggok kisut. Bagaimanapun caranya mereka memperjuangkan hidup. Mereka, juga kita manusia. Akan berakhir sama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s