Lusa adalah selalu hari istimewa. Selalu sehabis riyoyo di lapang, aku melipat pakaian shalatku dengan senang. Menyelipkan ke dalam lipatan sajadah dengan bagian lembut terlipat diluar, agar tulisan ‘Memperingati seribu hari meninggalnya Mbah Kromo Madya’ yang tersablon di bagian bawah, tidak terlihat dari luar.

Selalu sehabis riyoyo, aku senang bersentuhan sekian detik dengan bulir air yang masih terbungkus menggelantung di setiap ujung bunga semak lapang.

Selalu sehabis riyoyo, aku senang mengingat lusa. Mengundang memori lusa sehabis riyoyo tahun kemarin.

Sehabis riyoyo lalu manusia lain akan pulang dengan sendal baru menggesek tanah aspal menuju rumah keluarga besar. Terisak dan berusaha keras meneteskan air mata menciptakan syahdu ketika mencium tangan. Memohon maaf lahir dan batin tanpa sedikitpun bergetar rahangnya karena sesal.

Sehabis riyoyo tentu orang akan menyalami sesiapa pun yang mereka temui di jalan dan setiap belokan. Lalu setelahnya menyantap nasi padat dalam anyaman janur.

Aku mengikuti itu semua. Mencium tangan berpura-pura menahan haru. Memohon maaf lahir dan batin dan menggetar-getarkan rahang memunculkan sesal yang senyata mungkin. Lalu menggelepar kekenyangan karena makanan bersantan.

Sehabis riyoyo selalu itu. Dan tak pernah ada yang begitu istimewa selain lusa sehabis riyoyo.

Lebaran ketiga; lusa sehabis riyoyo adalah selalu sakral bagiku. Pengembalian diriku sendiri pada ketidaksadaran.

Rekreasi dan tamasya yang setiap tahun aku tunggu dalam gelisah.

Bahwa rekreasi paling menghibur dari segala yang pernah ditawarkan peradaban adalah dengan mereduksi kesadaran. Entah dengan cara mabuk arak, meraih orgasme, terjun dari ketinggian, menyelam di kedalaman, atau tertidur dan bermimpi.

Bagiku, tentu yang paling membuat diriku yang selama ini bersembunyi kembali setelah penantian setahun adalah dengan juga mereduksi kesadaran. Dengan menyambut yang ada pada lusa sehabis riyoyo.

Lusa sehabis riyoyo adalah tentu lebaran hari ketiga. Kala keluarga lain mengadakan bahalalan satu trah keluarga di salah satu rumah keturunan yang rumahnya paling besar.

Pada saat hari yang sama: lusa sehabis riyoyo, aku memilih mendandani diriku dalam kostum sepagi mungkin. Menebalkan celak mataku. Menebalkan pulas merah bibir. Meronakan nyala merah pada pipiku yang meninggalkan noda seperti dicubit. Menggambar kumis dengan pensil alis juga menegaskan jambang palsu yang melingkar mendekati pipi.

Memakainya aku rompi hitam dengan lis dan ornamen emas diatas kaus warna kulit yang kukenakan dahulu. Celana hitam serupa. Kupasangkan gelang kaki yang berbunyi kencring.

Kupasangkan menjepit di masing-masing lenganku hiasan kuningan serupa ujung sayap garuda. Terakhir kupasangkan ikat kepala yang ujungnya mencuat keatas– menunjuk langit.

Menyan sudah dibakar. Pecut sudah dilecutkan pada tanah berkali-kali. Musik juga tabuh gamel sudah memanas.

Aku keluar sebagai seorang jathil. Menari melepaskan diri. Menyerahkan kontrol pada tubuhku sendiri. Mereduksi kesadaran. Melepaskan yang tertahan.

Jiwaku melesat. Meninggalkan semesta rasa sementara. Tubuhku menari. Menurut dan menghamba pada tabuh gamel. Mulutku mengunyah kembang.

Aku sudah ndadi. Aku telah menjadi.

Dan tamasya tahunan menemukan diri bukan hanya diikuti mereka dan aku yang berkostum juga kosmetik. Mereka yang melihat, memandang dari kejauhan– kesadarannya dilepaskan, sadarnya diletakkan, maka menari dan menghamba pada tabuh gamel. Menagih kembang. Dan jiwa-jiwa yang memilih untuk bertamasya akan bergabung tanpa komando tanpa berbaris. Mereka akan menghambur dan berbaur. Kesadarannya diletakkan sebarang bentar.

Inilah kehausanku yang selalu aku damba. Lusa sehabis riyoyo. Tak selalu tempat yang sama, tapi dengan waktu yang selalu tentu: lebaran ketiga– lusa sehabis riyoyo.

Akan ada sekelompok manusia yang menabung penuh payah sejak lama, mengumpulkan urun bersama: agar tabuh gamel dengan tarian tanpa sadar juga wangi kembang mengudara di desanya.

Manusia, selalu akan mencari sebuah pelepasan sejenak. Beristirahat dari duka lara juga hidup yang teramat rutin: menaruh sebentar kesadaran dan menari bebas tanpa malu.

Manusia, selalu, akan membutuhkan tamasya yang magis. Menyihir dan tak terbahasakan. Yang hanya jiwamu yang mengerti– tapi tubuhmu turut relaksasi, melayang. Orgasme, mabuk, berdoa, atau menjadi jathil.

Manusia, akan selalu membutuhkan pelarian juga rekreasi jiwa. Pembasuhan spiritual. Mengalami yang transenden. Dengan macam ribuan cara.

Akan ada sekelompok jiwa yang berbondong mendamba pelepasan sejenak. Dalam tamasya tahunan. Dahaga akan dituntaskan. Jathilan membuka pintu: lalu jiwa yang siap meletakkan kesadaran sebentar dipersilahkan masuk. Selalu ketika lusa sehabis riyoyo.

*riyoyo = Shalat Idul Fitri
*terinspirasi dari Ibu yang habis bercerita beberapa hari lalu di kampung kami selalu ada hajatan desa berupa tanggap jathilan di tiap hari ketiga Idul Fitri
*terinspirasi dari SisPaYudo sedulur saya yg kata-katanya termahsyur: reduksilah kesadaranmu.

Advertisements

One thought on “Jathilan

  1. Tamasya jiwa, kita memang perlu melepas sejenak semua beban, lalu menari lepaaas.

    Tarian yang memang hanya kita yang tahu, hanya kita yang mengerti, saat kita menari semua lepas, lalu berganti lega sesaat.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s