Aku mengenalnya sebagai sosok yang unik. Tidak ada yang berbeda. Penampilannya, pembawaan, pembicaraan; semua sama dengan anak murid lain: seperti tertarik pada dunia bisnis dan kapitalis.

Perbedaan akan mulai kita sadari dari buku-buku yang ia bawa jinjing sesekali: Nh. Dini, Romo Mangun, Ayu Utami, juga ajaran-ajaran sosialis gereja.

Pertanyaan akan muncul bagaimana seorang boru Lubis ini dapat hadir dalam ruang kelas yang membahas perlindungan konsumen, hardship dalam perdagangan internasional, kontrak diam-diam, arbitrase, atau soal perijinan.

Ia pindah dari kampus ternama sekali di Bandung menuju kampus agak ternama: tempatnya ia lulus dan mendapatkan bekal.

Intuisiku berbicara: segala yang ia dapatkan di ruang kelas akan menguap tak terpakai. Ia akan menempuh jalan berbeda. Ia akan berbahagia dengan cara yang ia tentukan sendiri– di tengah hiruk pikuk dunia yang menyibukkan segala sendi pada satu hal: uang.

Dia seorang kakak perempuan bagiku. Aku mengenalnya sejak aku menjadi murid baru. Ia seusia kakak kandungku yang kedua. Kami dekat dan berbincang banyak hal karena perihal kami memiliki satu kesukaan: buku yang tidak dibaca semua orang.

Dengannya aku memiliki teman menghadiri acara-acara yang teramat murah hati disajikan Bandung setiap hari: bedah buku, resital piano, pemutaran film langka, pembahasan filsafat, pementasan teater atau pembacaan dramatis. Kami terkoneksi. Kami bercerita.

Bercerita apapun, soal mimpi-mimpi kami yang kecil–ya sebagian orang akan menganggap mimpi kami begitu remeh dan kecil: hidup di kota kecil yang sepi dan tidak pening kepalanya setiap hari mencari uang.

Selepas lulus dari sekolah, ia pergi ke kota seribu acara budaya: Jogjakarta. Disana ia memberikan dirinya sendiri hadiah besar: menghabiskan sebanyaknya waktu untuk menikmati setiap sudut Jogja, membaca sebanyaknya buku, menghadiri sebanyaknya pentas kecil dan pembahasan, menemui sebanyaknya orang baru.

Ia puas menghadiahi dirinya sendiri dalam kota yang menawarkan kesederhanaan sekaligus kemegahan yang mahal.

Sekarang, ternyata ia belum selesai menghadiahi dirinya sendiri dengan kebahagiaan–yang membuatku, adiknya– meringis iri.

Hati-hati Kak. Temukan bahagiamu di negeri jauh timur.

Hati mulia akan membuatmu bergetar. Seorang anak perempuan yang merantau mencari ilmu dan kawan dari utara Sumatera menuju Jawa–mengelilinginya hingga puas. Sekarang, tepat sekarang, pagi ini– ia menginjakkan kaki di titik terindah negeri ini: Papua.

Membawa harapan juga kemesraan syahdu pada ibu pertiwi–yang dititipi bumi negeri seindah ini.

Mengandung harapan, menyapih asa, dan membesarkan jiwa anak-anak Papua– dengan satu harapan: bahwa anak di ujung timur harus menjadi cahaya yang pertama kali muncul menjadi sinar memancar di nusantara.

Bahwa, ia datang untuk menegaskan kabar gembira: ‘anak-anak Papua begitu cerdas dan penuh semangat, Trias. Kau akan kagum dan kaget betapa berbedanya anak-anak di Jawa belajar. Tak akan segembira penuh semangat anak Papua’.

Mengajarkan mandi, mengenal warna, berbincang dalam Bahasa Indonesia, bercakap singkat dalam Bahasa Inggris.

Bahwa kakakku yang teramat unik berbeda menunjukkannya: ia teramat istimewa. Di kala teman lainnya menjadi pengacara korporat yang begitu cepat kaya raya: ia terbang ke negeri jauh timur. Berdiam di atas gunung. Tanpa sinyal tanpa interaksi dengan Jawa.

Membawa bekal ikat rambut warna warni: hijau, oranye, merah, kuning, biru– agar anak Papua tak lagi hanya mengenal warna terang juga gelap.

Aku bahagia untukmu Kak. Atas hidupmu yang teramat indah kau pilih. Berkebun di gunung dan bermain berlari setiap hari ditemani Papua yang teramat indah.

Bahwa kita menyaksikan satu lagi bukti: tak perlulah mimpi harus diseragamkan untuk berbahagia.

Kita hanya perlu memiliki hati yang sedikit merunduk bumi– maka secepat itu kita akan bahagia.

*untuk kakakku R. Karlina Lubis. Jangan lupa berkirim surat. Selamat berbahagia. Jawa akan merindukanmu.

Advertisements

2 thoughts on “Boru Papua

  1. Kalau begitu, aku beruntung sempat mengenalnya. Atau mungkin semesta menyembunyikan maksud dari ini semua.

    Salam untuk dia.

    Dari aku yang merindukan dikejutkan oleh semesta.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s