Sahabat saya , Dian, suatu malam menangis terisak. Ia menceritakan sesuatu. Ia terharu akan sebuah perjalanan yang terlewatkannya. Perjalanan sahabat-sahabatnya. Yang baginya telah mencapai garis lampau yang sanggup kami bayangkan sekitar sebelas tahun lalu.

Ia haru bahagia menyaksikan kenaikan kelas bagi jiwa seorang Hari. Sahabat kami. Ia bertransformasi. Ia hijrah. Ia menempuh perjalanan. Dan Dian agak bersedih hati: ia merasa sedikit sesal karena tidak menjadi saksi atas perjalanan sahabatnya menjadi manusia baru.

Mari bercerita.
Ada tiga orang sahabat yang akan menjadi daftar teratas saya memintakan keselamatan atas mereka. Daftar teratas saya meminta pertolongan untuk membuat tertawa. Daftar teratas saya atas orang-orang yang menyadarkan saya bahwa saya dipelihara dalam kebaikan di bumi: Hari, Dian, Della.

Hari, yang ditangisi Dian suatu malam adalah seorang anak laki-laki dari sebuah keluarga. Yang selalu lebih banyak bermimpi dari kami semua–yang mencapai hampir semuanya. Hari menjadi yang selalu ia bayangkan sebelas tahun lalu. Ia mendapat semuanya yang ada dalam daftar keinginannya. Material dan imaterial. Tapi bukanlah itu yang membuat kami para sahabatnya teramat bangga padanya: ia melakukan perjalanan panjang untuk hijrah mendekat pada yang seharusnya dekat.

Beberapa hari lalu, kami– Hari dan saya bertemu. Kami berbagi kisah soal sebuah penemuan. Betapa ia gembira mendengar sebuah kabar dari saya. Dan betapa saya gembira bergetar mendengar apa yang telah ia alami dan lewati. Kami berbicara banyak hal: soal Tuhan, soal kasih, soal mimpi, soal ibadah, soal ketetapan diri.

Ia menceritakan banyak sekali hal yang membuat rahang juga kulit saya bergetar halus. Soal ibadah yang mabuk. Soal pengharapan. Soal penyerahan diri. Soal kebaikan Sang Maha Baik. Soal perjalanan. Soal hijrah yang baik. Soal keyakinan. Soal keinginan hal baik yang masal.

Dalam sebuah ziarah spiritual yang teramat penuh kekaguman dan membanjir hal baik menggetarkan, ia pulang dengan satu pelajaran besar: tidak akan berguna suatu mimpi– jika pencapaiannya menyakiti orang lain.

Dan baginya, perjalanan akan selalu sebuah pembelajaran seumur hidup. Yang menyenangkan penuh kepasrahan–yang merupakan pelajaran terbesar juga yang dialami Dian.

Dian, berminggu kemarin memeluk saya dalam sebuah pelukan tulus. Terisak. Ia menceritakan kisah perjalanannya. Yang melelahkan penuh batu. Ia mengalami sebuah keputusasaan besar. Kala bertahun lalu: ia menjadi yang paling terpuruk. Tertolak bahkan oleh hampir seluruh dunianya–kecuali Sang Pemilik Hidup. Ada hal yang tidak dapat dipaksakan oleh usaha geram manusia kecuali kepasrahan yang nyaris layu kepada Pemilik Hidup. Dian menemukan satu titik kepasrahan: tidaklah tepat berharap pada manusia yang penuh kekejian dalam hatinya. Ia berserah. Ia berserah dalam kesabaran yang baik. Dalam tangis yang tumpah hingga habis. Lalu ia merasa menjadi dirinya yang sama sekali lain–juga keadaan yang sama sekali lain: sebuah penyembuhan total. Sebuah kerumunan kebaikan mengelilinginya sejak itu. Berdamai dengan dirinya juga kesalahan yang melukai.

Sahabat kami yang lain: Della. Wanita cantik yang teramat tangguh. Ia yang paling tangguh diantara kami. Selepas SMA, ia pergi ke pulau jauh. Merubah semuanya. Menyelamatkan keluarga. Dengan tabah dan ikhlas. Dengan bekal penuh cinta pada ibu–menjadi pengusap atas setiap tangis remaja yang rindu tanah kelahiran, juga teman dan tawa khas anak remaja. Della adalah kumpulan ribuan kesetiaan dalam sebentuk badan perempuan. Ia setia pada apapun yang ia cintai: keluarganya, sahabatnya, dan keyakinannya atas tampak baik seorang manusia.

Della mengajarkan banyak sekali hal: berbaikhatilah pada mereka yang menyakitimu. Bekal sakitmu yang kau dapat sekarang, akan menjadi pengingat: jangan sakiti orang lain–karena kita pernah tahu apa itu sebuah sakit.

Della adalah seorang perempuan yang selalu berpegang teguh dalam janji. Dalam kesetiaan. Dalam pengorbanan yang selalu senang hati ia berikan pada apapun hal yang menjadi bagian cintanya. Persahabatan baginya adalah sebuah tiang. Sebuah kaki yang menjadikannya tegak.

Diantara kalian semua: Hari, Dian, Della– aku mencintai kalian sama besar. Kalian tidak pernah lebih kecil daripada yang lain bagiku–karena Tuhan menjadikan kalian berkah untukku serupa sama besarnya. Kalian adalah manusia yang dititipkan Tuhan sebuah tugas: mengawalku dalam kebaikan sejak sebelas tahun kemarin dan puluhan tahun hidup mendatang. Tangan Tuhan bekerja memeliharaku melalui kalian. Maka sekarang dan seterusnya: kalianlah akan berada dalam daftar teratas kala aku memohonkan keselamatan.

Semoga kalian selalu bahagia. Semoga semesta menjaga dan memenuhi ingin kalian. Semoga gembira suka cita duniamu, akhiratmu.

Semoga terang semua bingungmu. Semoga panjang usia kebaikan dalam hidupmu.

Semoga terang semua gelapmu. Semoga ditemukan jalan atas ketersesatanmu. Semoga semua orang memiliki sahabat seperti kalian: agar damai hatinya, terjaga batinnya, terobati ketakutannya, terusap tangisnya, tertambah tawanya.

Tuhan akan selalu menjaga kalian–dan manusia lain yang seperti kalian: yang penuh ketulusan menularkan hal baik, yang bersabar ketika diuji, yang berserah ketika habis air mata basah, yang berprasangka baik pada hal setelah detik kalimat ini kalian baca.

Betapa besar syukur atas nikmat: persahabatan ternyata bukan sekadar mitos. Dan kalianlah para pemeran utamanya.

Untuk sahabat terbaik saya,

Harry Patra
Dian Rachmawati
Della Ayu Octianti.

Advertisements

2 thoughts on “Para Pemeran Utama

  1. Ini terlalu berlebihan bagiku, Trias. Aku bukanlah apa-apa. Aku hanyalah sebutir debu yang terombang-ambing terbawa angin.

    Aku masih butuh kamu, dan selalu seperti itu.
    Kau lihat? Aku ini lemah.

    Dengan segala kerendaha hati, aku ingin berterima kasih, karena kamu telah mau menghabiskan waktu juga isi pikiran, untuk menuangkan sebuah cerita pada laman ini.

    Kamu tahu, bagiku tiada artinya jika seorang penulis terkenal menuliskan kisah tentang hidupku. Karena bagiku, tulisan seorang sahabat seperti ini, yang begitu berarti melebihi cinta Dante kepada Beatrice Portinari.

    Liked by 1 person

  2. Dan gw menangis baca ini di tengah kesibukan kerja saat ada audit 😢😢

    Akhhhh Trias Yuliana Dewi
    I’m so lucky for being your friend,, not only friend even a best friend but like a sister..
    Makasih udah bisa nerima aku apa ada’y tanpa pernah liat dan menjudge layak’y beberapa orang yang sempat mengaku dirinya teman bahkan sahabat..
    Terima kasih karena tetap menjadi orang yang sama walaupun terlalu banyak jarak dan waktu yang tlah lewat..

    Terima kasih untuk selalu menjadi nyonyanyah yg sllu aku kenal

    Muchhhhhhlovessss 😘😘

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s