Naniura. Kupikir ini makanan jepang seperti sashimi. Tapi Naniura itu matang tanpa dimasak. Tidak seperti sashimi yang kau makan bulat-bulat basah dan dingin. Naniura matang karena masam. Seperti kebijaksanaan wanita atau pria yang rambutnya mengabu-abu.

Aku Centhini. Aku perempuan. Aku senang masturbasi. Karena kupikir satu-satunya hal yang dapat membuatku merasa lega penuh gembira adalah tanganku sendiri. Jari-jari tanganku sendiri.

Aku tinggal di sebuah rumah yang terbuat dari kayu-kayu peti kemas yang kurangkai-rangkai. Aku tinggal dengan seekor burung kepodang yang ukurannya menyerupai anak sekolah dasar. Sialnya aku, aku hanya tinggal bersama kepodang berukuran anak sekolah dasar yang kuberi nama Lindan. Kau tahu sebuah rahasia? Ia bisa bicara. Sumpah mati ku ingin memanggil cenayang ketika pertama kudapati ia berbicara meminta nasi hangat untuk teman makan naniura. Ya, dia begitu tergila-gila pada naniura. Kupikir, naniura lah yang menjadikan Lindan pandai berbicara juga memerintah. Naniura mengandung sihir.

Tapi aku sekaligus bersyukur Lindan bisa berbicara, setidaknya aku tidak lagi menghabiskan waktu untuk masturbasi sampai klitorisku lecet. Aku bisa berbicara apa saja pada Lindan. Meskipun ia hanya akan berkata ‘lalu…?’ selain kata ‘lalu’ dia akan fasih dan lancar berbicara setengah memerintah meminta naniura dengan nasi hangat.

Salahkan Pak Amir. Pria berkacamata yang tinggal dua rumah diselingi kebun jagung setelah rumahku. Suatu hari yang siang terik, ia datang memberi naniura. Aduhai elok aroma dalam piring itu. Ia datang sebagai perkenalan atas kepindahannya ke lingkunganku.

Ia pria yang bersahaja. Rambutnya agak keriting ia sisir ke belakang, tak terlalu tinggi, dan di lengannya ada bekas luka yang terlihat. Ia selalu menghisap pipa cangklong yang berasap. Tatapannya tajam galak.

Beberapa kali kulihat ia membawa alkitab ketika berjalan. Tapi tidak pada saat datang kerumahku. Tangannya repot membawa sepiring penuh naniura. ia memperingatkanku, bahwa rasanya agak asam dan pedas. Juga ia dengan ramah memberi notifikasi awal padaku kalau-kalau aku kaget dengan rasanya: ikan dalam naniura tidak dimasak. Dengan gembira hati kuterima. Cepat-cepat kumasak nasi untukku dan Lindan. Kusiapkan piring untuk kami berdua. Suapan pertama: ia meledak dimulutku. Asam, pedas, rangu, entah apalagi yang begitu kuat. Aku merasakan pula ada rasa kecombrang disana. Entah siapa yang begitu jenius meracik semua ini.

Aku keluar dari pulauku ini hanya dengan sekali suap. Aku melihat Lindan, piringnya bersih! Semuanya tandas. Sial! Lindan duduk bersandar. Dia seperti kemlekeren. Mampus kau kepodang tak tau malu! Habiskan semua makan siangku.

Tak berapa lama ia berbicara seolah memerintah: Centhini aku mau yang seperti ini lagi, buatkan untukku.

Dalam hati aku membatin, aku menginginkannya lebih juga kepodang sialan!

Pagi-pagi sekali aku siapkan adonan rempeyek kacang dan rebon. Aku ingin menyogok Pak Amir agar ia mau melakukan transaksi. Aku mau membeli mantra naniura ajaib yang Lindan dan aku makan kemarin. Atau bertukar. Atau berguru. Atau apapun itu.

Satu toples penuh berisi rempeyek kacang dan rebon siap kuantar ke rumah Pak Amir. Aku sengaja membuatnya untuk Pak Amir. Kuketuk pintu rumahnya; tak berapa lama Pak Amir keluar dengan ramah mempersilahkan aku masuk. Tanpa percakapan basa-basi, aku mengajukan penawaran transaksi yang kurencanakan. Setoples penuh rempeyek kacang dan rebon lezat yang baru selesai kugoreng ditukar dengan selembar kertas berisi mantra resep naniura.

Ia tersenyum. Dan hanya berkata: carilah kecombrang dan asam jungga.

Lalu ia mengambil toples berisi rempeyek yang kubawa. Dan menjanjikan seminggu kemudian ia akan menuliskan mantra naniura dengan sangat presisi dan mendetil agar aku tak kebingungan.

Sebelum pulang aku bertanya: Pak Amir tua, asam jungga apalah itu?

Ia tersenyum dan berkata: Carilah anak manis.

Aku pulang ke rumah dengan bekal pertanyaan. Aku menyuruh Lindan terbang ke pasar Kamis dan mencari asam…. Ah asam apa tadi yang dikatakan Pak Amir? Asam jungga, asam janggu, asam jaggu, asam jugga, asam juggu, asam jagga, jangga janggu? Apaaaaaa? Aku tak bisa mengingatnya!

Aku berlari lagi ke rumah Pak Amir, mengetuk pintunya berkali. Tak ada sautan. Ah mungkin ia telah berangkat bekerja. Nanti saja senja atau besok pagi sekali ku datang lagi.

Aku perintahkan Lindan si kepodang rakus pergi ke pasar mencari dan menanyakan pada semua pedagang asam semua yang tadi kusebutkan. Aku harus mendapatkannya sebelum minggu depan. Sebelum mantra yang dijanjikan Pak Amir dituliskan dan kudapatkan.

Setiap hari si kepodang bongsor tak pernah mendapatkan asam jangga janggu yang kuminta, yang disyaratkan Pak Amir. Sehari dua lalu seminggu belum kudapatkan. Belum juga kudapati Pak Amir setiap kuketuk pintunya. Aku sangat perlu bertemu dengannya, untuk menanyakan asam jungga janggu jagga jaggu junggu jangga mana nama yang benar agar si kepodang bongsor bisa menanyakan dengan benar kepada pemilik los di pasar yang ia temui.

Sudah hampir satu minggu kurang satu hari. Aku gelisah. Sudah lama aku tak berdoa. Aku ingin berdoa malam ini:
Tuhan semoga Pak Amir lekas pulang. Agar jika ia tak memaafkanku yang tak menemukan asam jangga janggu jagga jaggu, Ia mau memberi tahu apa nama asam yang benar. Agar ia mau menuliskan mantra ajaib naniura yang membuatku jatuh cinta dan teramat gelisah. Semoga aku memiliki mantra itu Tuhan. Semoga aku dapat menikmati cintaMu dan berkah semesta melalui naniura di lidahku. Tuhan, amin Tuhan.

Hari ini tepat seminggu sejak transaksiku dengan Pak Amir. Pagi sekali kuketuk pintunya dengan lagi-lagi membawa satu keranjang berisi tomat dan rambutan yang masih hijau kupaksakan petik; aku membutuhkan untuk menyogoknya kalau-kalau Ia marah aku dan Lindan tak menemukan asam jangga janggu.

Tak ada jawaban saut kuketuk berkali. Pintu Pak Amir tak pernah terbuka.

Lindan si kepodang bongsor dan aku gontai mengayun kaki pulang. Kami membiarkan pintu kami terbuka. Aku tak bernafsu lagi masturbasi atau bercerita pada Lindan. Tidak juga kepodang bongsor itu yang selalu menagih makanan untuk ia kunyah. Tidak pula ia ingin terbang mencari jambu yang bekas digigit codot yang ia sukai karena manisnya. Ia ingin menjemput mantra naniura yang Pak Amir janji akan berikan.

Agak malam, datang motor dengan dikendarai seorang pria memakai baju safari berkaca mata. Ia mengantarkan selembar kertas. Yang terselip diantara halaman Alkitab. Alkitab milik Pak Amir!

Kemana Pak Amir?

Kepala Pak Amir yang rambutnya keriting klimis tersisir, pecah tertembak. Ia masih memeluk Alkitab itu dan mantra yang ia janjikan padaku. Ia memenuhi janjinya!

Lemas aku terduduk. Aku senang karena mantra yang kuimpikan berhari kini ditanganku, nyata dapat kusentuh kuremas. Aku juga merasa hancur hati, perasaanku ingin meledak, paru-paruku rasanya membanjir sungai iluh. Aku harus menumpahkannya. Aku mrebes mili tak berhenti. Aku membaca kertas polio bergaris tulisan tangan Pak Amir dengan tinta hitam tulisan garis bersambung. Ia menuliskan mantra naniura lengkap dan mendetail, berurutan kronologis pembuatan bumbu, peletakan bahan, sampai komposisi setiap tetes bumbu yang harus kumasukkan. Dan puji semesta leganya pikiranku yang gelisah, asam jangga janggu jagga jaggu yang tak kutemukan itu adalah ASAM JUNGGA! Pak Amir menuliskannya dengan jelas dan besar. Asam jungga inilah yang mematangkan naniura tanpa api.

Dibalik mantra itu ada surat lain Pak Amir yang dituliskan untukku:

Centhini, anak baik dua rumah setelah kebun jagung tetanggaku.

Mantra ini saya turunkan padamu, agar kelak kamu menjadi penyihir naniura yang dapat menerbangkan jiwamu ke tanah lahirku tanpa api. Betapa senang gembira mengetahui ada anak manis di negeri sesubur ini menukar rempeyek kacang dan rebon untuk mantra yang bahkan kujual di tanah lahirku tak pernah terbeli.

Makanlah apa yang sanggup kau makan, kenyataanya tak ada yang tak sanggup kau makan: Indonesia yang teramat murah hati menyediakan semua untukmu. Indonesia yang begitu baik hati. Tanah dan air yang mengenyangkan perutmu. Yang membuat bumi lain iri hati akan merica, kunyit, jahe, dan ribuan lain termasuk asam jungga. Yang tak mampu kita lakukan dari Indonesia hanya menyebutkan ribuan macam hadiah tanah bumi ini.

Makanlah apa yang moyang-moyangmu racikkan untukmu anak manis. Agar terus terkenang bumi indah Indonesia yang baik hati menyuguhkan makanan bagi raga dan jiwa sesiapapun yang mencintainya.

amir-di-Harlem-e1395850967926

Penyihir naniura,
Amir Sjarifoeddin Harahap.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s