Malam itu, malam tanggal 16 bulan yang sama Agustus ke delapan dalam tahun seribu sembilan ratus lebih sudah lama; Sjahrir tidak bisa tidur setelah ketukan di pintunya–kabar penuh getar: besok kita akan merdeka. Ia hanya tersenyum penuh gemilang girang duduk menghadap meja dengan daun jendela kayu yang terbuka: memandang langit tingkat pertama. Bersyukur dan memohon. Berharap sekaligus takut.

Malam itu lebih sunyi dari kebiasaan yang mampu diingat malam lainnya: lebih hening, lebih redup. Sehabis tarawih: tadarus dipelankan, dibaca meresap dilambankan. Zikir lebih banyak disedekahkan banyak sekali hati: Yang Pengasih Yang Penyayang–sejumlah yang tidak dapat terhitung.

Shalat malam lebih banyak didirikan dan dipelihara: takut juga harap saling melampaui– telah pukul 00.01: tanggal 17 bulan yang sama Agustus ke delapan tahun seribu sembilan ratus lebih sudah lama.

B.M Diah menyebarkan berita juga kabar gembira dalam bisik pelan di tengah malam: negerinya yang amat mereka cintai dalam hitungan jam akan segera menyandang sebuah kata merdeka. Negerinya yang amat ringkih menanggung tangis selama ini akan memutus deritanya sendiri.

Dan malam itu akan semakin panjang bagi sebagian banyak:

Pasti sehabis sahur Ahmad Subarjo gelisah menunggu subuh. Selepas proklamasi selesai dalam rumusan; pukul 4 pagi– ia memilih tidak tidur. Bahkan kurma bekal sahurnya hanya ia habiskan satu–sebagai syarat jumlah ganjil.

Wikana menahan kencingnya malam itu: agar dalam duduk diamnya bayang merdeka sebuah negeri yang amat dicintainya tidak hapus hilang.

Syahrudin merancang rencana mencurangi Jepang: besok ketika habis selesai proklamasi dibacakan ia akan mencuri pakai telegraf Jepang– menyebarkan kabar yang teramat menggembirakan: Indonesia negeri kita sudah merdeka!

Bagi sebagian lain yang lebih banyak: rumah-rumah lain akan sama sibuknya sedari malam. Menyiapkan pakaian terbaik untuk besok proklamasi: kebaya brukat, batik tenun, kemeja katun jepang, atau baju lurik bekas peninggalan embah. Memanaskan setrika arang, hingga tercium aroma sate tanpa daging dan kecap, hanya hangus panas yang sangit: menggosok pakaian. Bagi sebagian lain: nanti pagi adalah lebih mendebarkan daripada upacara khitan atau pinangan pertama; karena negerinya yang ringkih akan sebentar lagi menjadi merdeka: gagah di atas kakinya sendiri.

Subuh itu: dalam doa yang lirih sekali dirapal, banyak hati sujud yang hanya empat kali menjadi sedikit lebih lama. Sujud yang hening tidak terlalu khusyuk: banyak hati kala itu meminta dalam bayang agar negerinya yang ringkih segera kembali gagah– dalam sebuah pembacaan ikrar penegasan.

Sudah tentu, sebelum habis subuh, Suhud menyiapkan tiang bambu: tempat menitipkan ikat sehelai kain merah diatas putih– bendera pertanda tegas sebuah negeri. Suhud juga Sudanco Latief pasti berdetak kencang debar jantungnya: salah satunya diam-diam melatih derap kakinya seolah upacara bendera. Salah satunya diam-diam melatih kerapatan jari tangan ketika menghormat menghadap tiang dengan kain berkibar-kibar. Salah satunya pasti berlatih dengan membawa baki berisi cangkir juga poci: seolah Sang Saka di atasnya.

Sebelum habis subuh ada debar gembira sekaligus panik khawatir–seolah penuh asmara, ia jatuh kasmaran pada kelahiran baru negerinya yang akan habis ringkihnya: Amir Syarifudin sehabis bangun tidur yang sepotong-potong karena ingatannya penuh seperti pemuda kasmaran. Ia terduduk lebih lama di pinggir ranjangnya, membuka balik bolak balik bolak balik Alkitab di tangannya: ia tekun melakukan saat teduh. Ia memohon lebih lama. Agar negeri tanah juga airnya selamat lahir kembali. Sebuah reinkarnasi.

Dan semakin pagi: jantung yang berdegup tidak tenang semakin banyak. Bapak tua berpeci semakin demam tubuhnya: Soekarno. Dan Soewirjo sudah sibuk sepagi itu di rumah Pegangsaan: mempersiapkan upacara juga pengeras suara.

Rumah Pegangsaan semakin penuh: oleh jiwa-jiwa yang sudah muak dalam pembatasan, oleh jiwa yang rindu kepulangan negerinya yang gagah: sebuah penyambutan dari kepergian lama.

Hatta masih bersiap dirumahnya–dengan sayup suara nyanyi yang tidak biasa: sebelah rumahnya memutar piringan bersuara Miss Roekiah yang mendayu menyihir. Hatta memantaskan pakaiannya. Dengan sepatu yang biasa-biasa saja. Tanpa Bally yang akan selalu diimpikannya hingga selesai usianya. Tapi mimpi terbesarnya akan segera mewujud nyata: negerinya yang teramat agung penuh dicintainya akan kembali pulang. Dalam sebuah kemerdekaan yang direbut dijemput. Bukan diberi dan diantar. Kacamatanya menguap embun: inilah akan menjadi pencapaian hidupnya mengabdi. Menghadiahkan hidupnya sendiri untuk negeri yang menghidupinya.

Kala itu tanggal 17 bulan yang sama Agustus ke delapan tahun seribu sembilan ratus lebih sudah lama, saat matahari hendak naik sepenggal.

09:56 pengeras suara yang serak terbatuk-batuk. Bapak tua berpeci yang sedang demam, lupa. Ia berlari dari tubuhnya sendiri. Ia memasukkan api setiap jiwa yang bergetar merindu negerinya yang tertidur, lantang mengucap:

Saudara-saudara sekalian!
Saja sudah minta saudara-saudara hadir di sini untuk menjaksikan satu peristiwa maha penting dalam sejarah kita.
Berpuluh-puluh tahun kita bangsa Indonesia telah berdjoeang untuk kemerdekaan tanah air kita. Bahkan telah beratus-ratus tahun! Gelombangnja aksi kita untuk mentjapai kemerdekaan itu ada naik dan ada turunnya, tetapi djiwa kita tetap menudju kearah tjita-tjita.

Djuga di masa pendudukan DJepang, usaha kita untuk mentjapai kemerdekaan nasional tidak henti-henti. Di masa itu, tampaknya sadja kita menjandarkan diri kepada mereka. Tetapi pada hakekatnya, tetap kita menjusun tenaga kita sendiri, tetap kita pertjaja kepada kekuatan sendiri.

Sekarang tibalah saatnja kita benar-benar mengambil nasib bangsa dan nasib tanah air di dalam tangan kita sendiri. Hanja bangsa jang berani mengambil nasib dalam tangan sendiri akan dapat berdiri dengan kuatnja.

Maka kami, tadi malam telah mengadakan musjawarat dengan pemuka-pemuka rakjat Indonesia, dari seluruh Indonesia. Permusjawaratan itu seia sekata berpendapat, bahwa sekaranglah datang saatnja untuk menjatakan kemerdekaan kita. Saudara-saudara! Dengan ini kami njatakan kebulatan tekad itu. Dengarlah Proklamasi kami:

Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.

Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.

Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 1945
Atas nama bangsa Indonesia.
Soekarno/Hatta

******

Selepasnya: sorak jingkrak pecah mengudara. Tangis jerit juga lirih: haru akan kepulangan sang ibu bumi– Indonesia.

Indonesia yang memutus deritanya sendiri: disokong anak-anak yang haus belai kasih juga lindung gagah sebuah negeri.

Selamat kembali pulang, Indonesia; negeri kami. Negeri kita. Negeriku. Jangan pernah kembali pergi lagi. Bahwa sebenar-benarnya, kami: yang saat itu–tanggal 17 bulan yang sama Agustus ke delapan tahun seribu sembilan ratus lebih sudah lama– masih bahkan belum serupa kecebong, mencintaimu sama besar sama serupa dengan tetua kami yang lebih dulu gelisah malam itu. Menanti kepulangan dari kepergian lama: sebuah Indonesia yang jangan pernah lagi sakit-sakitan.

Kini engkau makin renta usia, inilah doa kami anak-anakmu yang disatukan denyut kecintaan bumi Indonesia:

Semoga Indonesia, tidak pikunlah ingatanmu akan kejayaanmu masa dulu: engkau begitu gagah jaya, begitu ranum menggairahkan, begitu menawan membanggakan.

Semoga Indonesia, tetaplah kokoh kakimu memijak bumi, menegaskan kejayaan dan kekuasaan. Semakin eloklah bumi tempat bertinggal negeri.

Semoga Indonesia, hadirlah selalu dalam denyut juga alir darah setiap anak negeri: agar mereka mengetahui, mereka teramat dicintai dengan hadiah semesta berupa alam seindah ini: dirimu.

Semoga Indonesia, ada ratusan juta jiwa yang rahangnya bergetar juga tangannya mengepal: sebuah penjagaan penuh cinta melihat ketidakadilan di permukaan dan di dalammu.

Semoga Indonesia, setelah kepulanganmu, akan menyusul kepulangan Nusawantara: keelokan yang gagah yang gaungnya menggema seluruh penjuru bumi.

Semoga Indonesia, kau tidak pernah selesai mengusap embun haru atas kebanggaanmu pada kami: pencapaian kami, kecintaan kami, syukur kami, doa kami, dan kerukunan kami– anak-anak negeri.

Semoga Indonesia, ini yang terpenting: semoga tak pernah habislah cinta yang menujumu. Dari segala penjuru. Dari segala sudut yang terlancip.

Karena engkau Indonesia, bukan hanya merah juga putih, tanah juga air, lebih dari itu: engkau Indonesia, adalah denyut nadi kami.

Untuk Indonesia,

Dari anak-anak negeri yang mengamini.

Advertisements

3 thoughts on “Riuh Doa Anak Negeri untuk Indonesia

  1. Amiiiiiiin!!!

    Bacanya bikin nangis. Tulisannya deskripsikan kegundahan, deg-degan ketika akan mencapai kemerdekaan yang sudah ditunggu-tunggu sekian lama oleh Bangsa ini.

    Semoga tulisan ini bisa menginspirasi jiwa-jiwa penghuni Negeri nan elok ini

    Like

  2. Membacanya mambuatku merasakan seolah aku berada pada jamannya. Terbayang akan degup kencang jantung dan waktu petang datang pun membuat sulitnya untuk tertidur. Riuh dan sorak sorai yg memekikkan telinga, tdk disangka 70 tahun kemudian menjadi berbeda.
    Aku berharap mereka yg hidup di jaman yg akan datang, tahu bahwa untuk mendapatkan predikat WARGANEGARA INDONESIA, tidak semudah sekarang.

    Like

  3. Wah ternyata aku belum meninggalkan jejak disini.

    Aku suka bagian akhir dari tulisan ini. Membuatku bergidik dan bertanya kepada diri sendiri, mengapa engkau masih diam padahal negeri ini membutuhkan engkau?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s