Kau akan memahami: betapa begitu sulit memiliki seorang Cici–panggilan kakak perempuan–yang akan mengasuhmu penuh tawa jika kau bersekolah di sekolah yang seperti Ing Te di Bandung. Beruntunglah kami bersekolah di fakultas yang memungkinkan kami membaur lebih dekat. Tanpa warna; kulit putih atau hitam. Mata petet atau bolotot. Sangat kaya atau agak miskin. Pudar semuanya.

Cici saya ini–saya memanggilnya Medusa. Seorang cici cantik yang teramat banyak membawa keceriaan. Ia teramat tegar hati dan menyenangkan–untuk me- dan di- ; tertawakan.

Mengapa Medusa? Dalam bayangan imajiner kami: kepalanya yang besar ia gunakan sebagai tempat memelihara ular-ular yang berkumpul di kepalanya–mendesis dan siap menggigit. Dan karenanya kami selalu tertawa girang karena membayangkannya.

Medusa berusia satu tahun dan satu angkatan lebih tua dibanding saya. Kami berteman akrab–hingga begitu akrab sampai yang ada hanya keculasan–sejak kami satu delegasi dalam tim moot court. Berbulan-bulan kami bersama. Setiap malam sampai sangat malam. Jam satu jam dua. Setiap malam, makan malam bersama: Artomoro, Pecel Racun, cakue mini atau sekadar susu ultra di Premiere.

Tapi keahliannya bukan hanya me- dan di-; tertawakan.

Kepalanya bukan hanya menjadi sarang ular-ular imajiner yang mendesis dan siap menggigit.

Dia wanita yang teramat luar biasa cerdas. Tapi tidak tinggi hati atasnya: berbincang selalu soal hal yang menggembirakan.

Dia wanita yang teramat lembut hati, mengasihi sesiapapun yang ia pandang layak dikasihi–di sisi lain ia akan menertawakan lepas atas ejekan culas pada saya yang dilemparkan teman persekutuannya: Dania Lemon.

Satu sisi: kalian akan terkaget–bahwa dia, Medusa adalah wanita teramat cerdas, lulusan terbaik sekolah Ing Te.
Karena: cara ia berbicara teramat mendayu dan lambat. Cara dia mengikuti pembicaraan terlampau lama juga lamban. Banyak sekali bertanya– ia tertinggal jauh: karena ia terlalu banyak tertawa lepas sepanjang pembicaraan.

Medusaku..meskipun ular-ularmu banyak mendesis siap menggigit– kami sahabatmu teramat mencintaimu.

Atas kebaikan hatimu yang tidak pernah palsu.

Atas ketulusanmu pada sesiapapun yang tak pernah kau tagih kembali.

Atas tawamu yang terlampau gembira–sehingga menjadikanmu banyak bertanya.

Atas kebaikan sabarmu mengajari kami: kecerdasanmu yang teramat luar biasa dan membumi.

Selamat ulang tahun, Medusa.
Semoga seluruh penjuru semesta mengirimkan pasukan kebaikan mengelilingimu.

Semoga usiamu penuh manfaat dan kebaikan yang mengular ekor.

Semoga setiap kasih yang kamu radiasikan kembali padamu.

Semoga menjadilah kamu wanita menawan yang menjadi inspirasi wanita lain.

Semoga setiap orang memiliki hal indah: memiliki sahabat sepertimu–agar tentram hatinya.

Bahagialah selalu, Medusa. Bergembira sebanyaknya. Karena dunia membutuhkan lebih banyak sepertimu: yang tulus menggembirakan manusia lain.

*untuk Medusa. Selamat ulang tahun Christianti Vannya.

Advertisements

One thought on “Medusa Menawan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s