Untuk beberapa kali waktu aku, tentu, menginginkan pengembalian penuh waktuku yang lampau lalu. Untuk beberapa kali waktu aku, tentu, justru menginginkan pengulangan waktu yang tepat sama serupa.

Dan selalu ada pemantik atas kepalamu yang banyak meminta, menagih ingatan. Sunyi yang diam. Atau suara yang bunyi.

Malam yang seperti sekarang–di teras yang masih tiga petak kedepan, keras-keras aku mendengarkan uyon-uyon Nyi Tjondrolukito, yang dari sampul kasetnya: aku membayangkan itulah ia akan menjadi aku berpuluh tahun di depan. Payudara yang semakin montok menggembung naik berdesakan, pipi yang semakin kembung, juga berkebaya dengan sanggul sasak–seolah gusti kanjeng ratu sang permaisuri.

Atau seperti malam yang seperti sekarang–kala itu, aku menghapal juga memilih sendiri naskah drama yang akan kubahas dalam pelajaran Bahasa Indonesia: Subali dan Sugriwa. Di saat teman sepantarku memilih lainnya: Cinderela, Putri Tidur, Angsa Putih, dan tentu, selalu juga tokoh yang akan selalu menjadi dan dianggap paling keji di dunia Bawang Merah dan ibu tiri. Tentu, dalam penghapalanku: aku didongengkan oleh dalang terbaik atas wayang-wayang yang menari jumpalitan dalam kepalaku: Bapak. Yang bercerita soal perebutan Subali juga Sugriwa atas Dewi Tara; atas pertengkaran mereka yang bersaudara; juga terjemahan dari Jawa kromo yang tak pernah bisa kutangkap.

Atau malam yang seperti sekarang: kala itu– Serat Wulangreh– hingganya aku sampai hapal beberapa bait, kisah laku lampah priyayi, nasihat budi baik. Tak menjadi masalah kala itu Serat Wulangreh menjadi temanku membaca sebuah Dostoevsky yang amat mahsyur: kisah Raskolnikov. Juga tentu: sekarang seharusnya Serat Wulangreh menjadi teman baikku membaca novel legendaris yang akan kuselamatkan menjadi warisan masa depan: Para Priyayi, Umar Kayam.

Ajaibnya: panggilan ingatan akan suara pada malam yang seperti sekarang datang dari senyap yang teramat diam. Tidak bersuara. Terlampau diam. Yang mengingatkan kita pada suara yang lampau. Yang menggetarkan kulit juga rahangmu. Yang menggempakan waktu-waktumu. Menggaduhkan isi kepalamu dengan suara yang terpanggil oleh sunyi yang diam. Yang dengan sunyi yang diam–kepalamu tidak akan ikut diam. Ia akan berjungkir jungkit begitu lincah: mencari. Hingga menemu: ingatan akan suara dalam sekarang yang sunyi juga diam.

Berkebalikan dengan suara: suara memiliki semacam peti juga laci. Yang akan mengantarmu pada suatu masa, suatu ketika yang hampir selalu lampau. Mengantarkanmu pada ketika yang jauh dari sekarang. Dapat teramat kecil juga kadang terlampau besar: ingatan masa kecilku bertengger kebanyakan pada hal-hal kecil remeh temeh–ingatanku soal menunggu waktu pukul 3 sore untuk berlatih pencak silat dengan berbekal makanan penuh dalam kantung kertas C59– ini tentunya ingatan tanpa pemantik.

Suara, seperti kataku, memiliki peti juga laci. Ia menyimpan ingatan–dalam ingatan kita, mengingatkan kita akan sesuatu. Jika kita mendengar suara itu, kita terantar ke satu kala yang selalu hampir sudah jauh dari sekarang. Ingatan lalu. Memori lampau.

Lagu pembuka sinetron ramadhan Doaku Harapanku: membuka laci dalam ingatanku, betapa nikmat bertarawih. Waktu itu aku masih kelas dua atau tiga sekolah dasar. Setiap Krisdayanti memulai lagunya: kala manusia ada dalam derita~, aku gegas menghabiskan makan buka puasaku. Bergegas berwudhu, menyiapkan pakaian shalatku, dan berangkat sendiri ke mesjid kala itu. Sendirian. Sesampai di mesjid: masjid masih kosong lowong. Pukul 18:30 kala itu. Aku kecil yang teramat rajin telah sampai memilih pojok dekat pagar pembatas di lantai dua, hingga dapat melihat barisan shaf pria di lantai bawah. Masjid yang teramat kosong lowong: orang-orang masih sibuk berbuka. Aku ketakutan tak ada teman shalat. Tapi aku tetap tinggal: kala itu aku paham nikmatnya shalat–meskipun sepanjang rakaat bacaan hanya bismillah bismillah bismillah dan seterusnya. Aku tidak menemukan kala lain untuk shalat selain kala ramadhan itu. Percaya atau tidak, ketika Krisdayanti mulai bernyanyi: kala manusia ada dalam derita~, aku seperti dipanggil kekasih!

Aku selalu meneguhkan diri kala itu untuk harus berangkat ke mesjid. Apapun yang terjadi! Meskipun sepanjang rakaat aku hanya membaca bismillah bismillah bismillah dan seterusnya. Lalu sampai lupa rasanya melangkahkan kaki untuk hal yang sama–meskipun Krisdayanti sudah menyanyikan: kala manusia ada dalam derita~, sudah selesai sampai habis.

Advertisements

One thought on “Diam dan Suara: Laci Ingatan

  1. Most of the time, memory is our servant. Ingatan – ingatan masa lalu itu menjadi ‘pelayan’ yang membantu kita menjalani hal -hal rutin dalam hidup.
    You just cannot exist without memory. Adanya kita tidak utuh tanpa ingatan.
    Tapi tahu apa yang lebih menakutkan? Bahwa kita sebenarnya tidak punya kendali untuk memilih mana yang bisa terus kita ingat, dan mana yang bisa kita lupakan

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s