Selalu bingung kenapa ya Bapak sama Ibu selalu nonton Nat Geo Wild kalau sedang nonton berdua. Katanya: apik liat ulo dan boyo makan kijang.

Lalu saya ikutan iseng-iseng nonton ulo dan boyo. Adegannya hampir sama semua: ular dan buaya dipantau kamera, melihat bagaimana mereka memangsa kijang atau kerbau atau antelop atau kelinci. Atau kamera memantau sebaliknya, buruan ulo dan boyo, menunggu waktu sampai mereka dimangsa ulo dan boyo. Bagi sebagian lain, termasuk saya di masa lama, menonton itu akan mengantarkan pada kesimpulan: siapa kuat dia menang–survival of the fittest.

Sekarang: saya dengan lantang mengatakan bahwa kesimpulan dalam kepala saya akan berbeda jauh. Bahwa ulo dan boyo yang memangsa kijang, kerbau, atau antelop; bukan sekadar siapa kuat akan menang– melainkan bahwa seberapa banyak ulo dan boyo yang memangsa kijang, kerbau, atau antelop; tidak akan mengurangi atau bahkan menggoncang keseimbangan alam.

Alam akan selalu sanggup memenuhi kebutuhan naluri. Alam hanya akan goncang ketika menghadapi keserakahan makhluk yang pintar dan berpikir.

Tadi, saya pulang melewati Gasibu. Melihat hotel baru (lagi-lagi) yang sedang dibangun. Tepat di atas danau yang dulu begitu sering saya intip-intip ketika naik mobil Bapak jika melintasinya. Airnya hijau tenang dan banyak bebek atau angsa–entah saya tidak tahu bedanya. Dan sekarang, sudah berdiri bangunan sangat tinggi, hotel baru (lagi) yang hampir selesai. Setelah di sekelilingnya, sudah banyak hotel-hotel lainnya yang tiba-tiba berdiri menjulang. Satu hal yang saya pikirkan atasnya: AIR. Darimana airnya? Apakah rumah-rumah sekitar masih bisa mendapat air? Mesinnya cukup kuat mengalahkan ‘sedotan’ mesin hotel?

Saya teringat sebuah dokumenter soal air akibat pembangunan hotel yang secara tiba-tiba. Dan bukan hanya satu hotel. Yang menyebabkan sumber air rumah-rumah sekelilingnya mendadak kering. Karena kebanyakan rumah hanya menggunakan sumur timba, atau mesin penyedot air dari tiap rumah yang bersumber pada satu sumur. Dan sumur-sumur yang berada disana, tidak pernah kekeringan bahkan di musim kemarau panjang, sejak kakek dari kakek dari kakek dari kakek dari kakek dari kakek mereka.

Dan sekarang, karena pembangunan hotel yang mendadak juga sekaligus, mereka benar-benar kekeringan bahkan di musim penghujan. Untuk mandi? Mereka mandi membayar Rp.2000 di pasar. Minum memasak? Membeli air galon. Penghasilan mereka mencukupi untuk itu? Jangan ditanya. Sudah pasti tidak.

Sekali lagi, bahwa tentu, alam akan selalu murah hati, dan menjamu seluruh yang berdiam di atasnya tanpa batas. Memenuhi kebutuhan naluri dengan murah hati. Hewan tumbuhan juga manusia.

Alam hanya akan goncang dan kehabisan jamuan, kala keserakahan sedikit saja dari makhluk pintar dan berpikir: yang sebenarnya keji.

Maka, perlu kita percayai pula, makhluk pintar dan berpikir– tak selamanya keji. Saya akan sebut sahabat saya, Steven Suprantio–Akong. Relawan baik hati di LBH Bandung. Saat ia mengikuti ujian advokat, ia bernazar pada Tuhan juga hukum–hal yang padanya dirinya mengabdi. Pada juga kami sahabat-sahabatnya. Nazar penuh: jika ia lulus ujian advokat, ia akan menjadi (lagi-lagi) relawan dalam memperjuangkan Babakan Siliwangi yang merupakan hutan kota yang diandalkan di dunia agar tidak dialihfungsikan menjadi bangunan yang komersil. Dan tentunya: ia setia pada nazarnya. Ia dan relawan lainnya berhasil. Babakan Siliwangi yang dicintai Bandung terselamatkan. Ia tetap asri dan sejuk. Ia rimbun selalu hijau. Ia mendinginkan Bandung. Ia menjamu kita dengan Bandung yang sejuk ramah–dan Akong juga teman-temannya turut andil membantu alam menjamu kita.

Kadang perlulah kita sedikit merunduk berterimakasih: pada alam yang tak henti menjamu, juga pada makhluk pintar dan berpikir–namun tak keji, yang mengokohkan bumi agar tak goncang, karena keserakahan yang dianggap sedikit.

Advertisements

2 thoughts on “Ulo dan Boyo Tak Pernah Serakah. Kitalah.

  1. Semoga saja, ya, untuk sekarang hanya bisa berdoa semoga, agar tidak didatangi sifat serakah itu.

    Semoga saja juga, ada kesempatan yang diberi-Nya, agar kita bisa membantu untuk saudara. Walau hanya satu lingkup kecil saja.

    Semoga.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s