Mari bercerita. Hari ini adalah hujan pertama yang setelah sekian lama sehingga semua orang begitu senang atasnya: mengupdate status bbm, ngetwit, atau menulis; tentu soal hujan.

Barusan sehabis baca tulisan sahabat saya: http://t.co/PfDihvcvWG , si Mang, yang tentu menulis soal hujan. Yang beberapa poin tentu menggelitik dan mengafirmasi pikiran lampau atau mendatang–yang tidak akan muncul jika tidak distimulasi.

Bagi saya, hujan adalah soal perkara intimasi. Kala hujan: saya tentu membayangkan sebuah selimut atau bed cover yang baru selesai diangkat dari jemuran, masih bau matahari sekaligus molto, yang indera penciumanmu memberitahukan dan merangsang kepalamu untuk berpikir bahwa selimut itu masih hangat matahari ketika hujan malam.

Bahwa hujan adalah soal perkara mati lampu dan lilin. Rumah kami sejak kecil tentu akan sangat akrab dengan mati lampu apabila tiba saatnya hujan. Dan mati lampu adalah sahabat karib lilin batang yang ditancapkan pada wadah lilin kuningan atau kaleng tempat menaruh jarum dan benang ibu dengan cara meneteskan lilin dan menempelkannya kembali hingga keras. Lalu tentu mati lampu dan lilin adalah sahabat karib bocah ‘loba ide’ seperti saya: mendekatkan tangan ke arah api lilin, lalu membentuk elang kelinci anjing atau berbagai simbol yang mampu dibuat kesepuluh jari saya.

Hujan tentunya, di lain hal: adalah perkara perayaan bagi saya. Ketika hujan dan mati lampu, saat itulah saya dapat meniup lilin: berpura sedang ulang tahun dan ditepuki sebaya saya, juga dinyanyikan panjang umurnya serta mulia. Begitu seterus sehingga ibu memarahi untuk jangan terus menerus meniup lilin yang telah dinyalakan.

Hujan bagi yang lain–tentu adalah perkara intimasi pada pengirim hujan. Berterimakasih juga syukur. Atau doa mohon penundaan–agar hujan turun ditunda sedetik kemudian saja setelah ia memasuki rumah sampai dari perjalanan.

Hujan–tentunya adalah buah rimbun ribuan jerih payah. Saya percaya: kenapa hujan turun dalam rintik kecil yang turun satu persatu yang menyerbu berbaris rapi, bukan dalam bentuk segerujug penuh berupa bah yang tertumpah –karena ialah kumpulan doa banyak sekali doa yang meminta agar hujan diturunkan ke bumi.

Saya, kalian yang membaca ini, kalian yang tidak membaca ini, manusia yang berkesusahan air, manusia yang berkelimpahan air, hewan yang jauh air, hewan yang hidup di air, tanaman yang selalu lembab, tanaman padang pasir, semua– kita semua mengumpulkan doa, meskipun entah kapan, agar hujan dikirim turun dengan kadar yang menyehatkan dan menggembirakan.

Bahwa hujan adalah soal perkara intimasi yang jauh kalanya tidak akan bisa kita capai tanpa hujan yang berpayah berlari menuju bumi–dan memberikan orgasme bagi indera pencium kita: sebuah petrichor yang sepersekian detik. Yang sepersekian detiknya direkam otak untuk kemudian dipanggil kembali ketika kala yang akan datang sama terjadi. Sebuah orgasme yang tak bisa dirangsang atau dimintakan–melainkan dianugerahkan. Sebuah petrichor yang merupakan orgasme atas buah percintaan setiap butir hujan dengan tanah kering yang kehausan dipanaskan matahari menerus.

Hujan akan selalu merupakan perkara intimasi– pemanggil pelayan-pelayan: sebuah ingatan, (vide comment Aby dalam Diam dan Suara: Laci Ingatan). Keintiman dengan diri kita sendiri. Dengan Sang Pengirim hujan yang teramat baik. Keintiman dengan isi kepala kita sendiri; saat hujan kita akan membuka satu-satu masing-masing laci dalam ingatan kita. Yang dikomandani oleh suara, wangi, dan basah dari hujan.

Bahwa hujan adalah perkara kelahiran harapan baru. Berhari setelah ini, akan kita lihat kehidupan yang telah kita sangka mati, sebenarnya sedang bersembunyi, dan hujannya yang telah membantu kita mencari.

Advertisements

2 thoughts on “Menggumuli Hujan

  1. Hujan yang membawa kenangan seolah merayu membujuk kita untuk turut merasakan dinginnya tetes demi tetes air yang jatuh dari langit.

    Dia dengan sangat manis berusaha membawa kita pada peraduan, hasrat ingin menari di bawah sentuhan lembutnya seakan memanjakan pada semua kenangan tentang rindu.

    Menyentuh lembut pipi dan membasahi semua tubuh, lalu mengajak kita tuk terus berdansa dengan segala memori yang utuh rapi tersimpan di balik tetes yang membasahi bumi.

    Hujan memang selalu ahli menyimpan kenangan. Aromanya selalu memberikankan banyak kenangan.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s