Beberapa orang pernah mengatakan: tidak akan pernah mengetahui apa rasanya menjadi orang lain, sampai orang itu berdiri di atas sol sepatu orang yang dia maksud.

Mari berbicara dan berpikir.

Mungkin kalian akan berpikir dan berkata, bahwa tulisan ini adalah bentuk subjektifitas saya sebagai seorang subjek yang berkorelasi dan berperan langsung dalam objek bahasan dalam tulisan ini. Bisa jadi ya bisa jadi tidak.

  
Orang gemuk. Pria gemuk. Wanita gemuk.

Berapa banyak ribu film atau sinetron yang menjadikan sosok-sosok berlemak juga bundar–gendut, gembrot, gemuk– menjadi tokoh yang bodoh gemar makan dan episentrum tertawaan juga ejekan.

Orang-orang gendut, gembrot, gemuk menjadi liyan. Yang tidak cukup manusiawi untuk diberi peran sebagai model lingerie atau sebagai orang terpelajar yang cerdas juga mengagumkan. Orang gendut, gembrot, juga gemuk dalam televisi yang bodoh akan selalu menjadi: objek perudungan, atau dalam banyak sekali FTV orang gendut di sekolah hanya akan menjadi orang yang berperan tanpa makna apa-apa selain kemanapun membawa plastik ciki sambil mengunyah. Televisi yang bodoh memberitahu dan menakuti orang-orang yang mungkin dalam gen nya mengalir 90 persen lemak, yang menjadikannya cantik juga tampan.

Berapa banyak televisi yang cukup berani menyatakan bahwa orang gendut, gembrot, juga gemuk bermakna sama seperti mereka yang mengusahakannya. Yang memiliki jauh lebih banyak makna dibanding membawa plastik ciki juga mengunyah.


Televisi memvonis orang gendut, gembrot, gemuk: dunia modeling adalah ladang haram untuk dimasuki. Kita sebut Whitney Thompson dari American Next Top Model cycle 10– badannya bundar padat, wajahnya cantik menawan, ia tidak bodoh dan hanya dapat mengunyah. Ia dapat berpose dan menjadi simbol merek yang manusiawi: tidak semua wanita sepanjang hidupnya memiliki berat badan 42 kilogram.

Ada manusia lain yang eksis dan nyata hadir. Yang gendut, gembrot, gemuk. Seperti saya.

Saya gendut, gembrot, gemuk sejak kecil. Sampai sekarang. Tapi alhamdulilah puji Tuhan semesta raya–kehidupan saya tidak semengenaskan yang digambarkan oleh FTV yang maknanya tidak ada: hanya mengunyah dan mengintili teman gengnya yang cantik dan populer.

Kehidupan saya lebih manusiawi: saya memiliki teman yang memperlakukan saya penuh makna. Saya tidak semata-mata hidup menjadi pusat tertawaan dan ejekan. Saya bertemu dengan orang-orang yang teredukasi bahwa bentuk fisik tidak mendefinisikan bentuk sebuah jiwa. Saya teramat bersyukur: saya dapat ceria dan tertawa bahagia bukan karena saya harus menjadi badut agar diterima teman-teman saya. Saya ceria karena memang saya bergembira menjadi diri saya.

Tapi tidak semua orang gendut, gembrot, gemuk seberuntung saya– bertemu dengan teman atau orang-orang yang teredukasi dan memandang lemak-lemak kami adalah identitas kami yang teramat berharga untuk dicintai.

Saya, bukan tidak pernah bertemu orang yang meremehkan saya dan menganggap saya less-human karena saya lebih berat dibanding wanita lainnya: tapi karena apa yang ada dalam hidup saya lebih bahagia daripada apa yang orang-orang itu lakukan. Saya memiliki banyak sekali orang yang menerima saya penuh cinta.

Tapi bagaimana dengan orang gendut, gembrot, gemuk lainnya? Yang bahkan menganggap dirinya sendiri berada dalam kutukan masa lampau: sehingga terlahir dan tumbuh dengan bekal lemak berlebih bergelambir. Anak-anak juga remaja yang hatinya pilu karena dianggap telah berhenti bahagia karena tidak cantik dan langsing semampai. Anak-anak juga remaja yang berpikir menenggak obat sebanyaknya dengan harapan keesokan pagi ia bangun telah menjadi personil JKT 48. Atau anak-anak juga remaja yang menahan lapar berminggu hingga pucat kuyu: agar tidak bertambah gelambir-gelambir lemak yang menjadikannya semakin liyan semakin monster.

Lemak-lemak kami, dalam tubuh gendut gembrot gemuk– yang secara lantang saya keraskan adalah mengagumkan– bukanlah hal yang membuat orang-orang gendut gembrot gemuk tertunduk malu penuh sesal dilahirkan di dunia. Kami mengagumkan dan menawan sama seperti kalian yang mengusahakannya! Kami tertunduk terduduk malu karena kotak kaca bodoh yang memberitahu seluruh dunia: bahwa manusia yang layak dihormat dipuja adalah wanita-wanita 42 kilogram juga pria-pria dengan perut kotak enam buah.

Majalah juga televisi: yang menyajikan perempuan juga pria mungil halus tanpa cela membuat kami, orang-orang gendut gembrot gemuk, menjadi makhluk liyan yang tak layak, paling buruk sedunia, mematikan mimpi dan harapan, menjadi alien dalam tubuh sendiri.

Berapa banyak dari kalian akan mempertanyakan apabila ada seorang perempuan gendut mendapat kekasih tampan mapan menawan idaman? Berapa banyak dari kalian akan mempertanyakan apabila ada seoran pria gendut mendapat kekasih cantik mengagumkan idaman?

Sebagian banyak dari kita akan bertanya dalam hati, atau kurang ajarnya bertanya langsung: ‘kok mau sih?’

Doublethink.

Doublethink adalah bisa saja menjadi pakem pondasi pemikiran paling populer yang digunakan sekarang ini–tanpa disadari tentu.

Mari berpikir dua kali sebelum berkesimpulan yang cukup satu kali.

Doublethink.
dou·ble·think – /ˈdəbəlˌTHiNGk/
noun
1. the acceptance of or mental capacity to accept contrary opinions or beliefs at the same time, especially as a result of political indoctrination.

Doublethink.
Doublethink is the act of ordinary people simultaneously accepting two mutually contradictory beliefs as correct.

Bagi saya, tentu doublethink akan sesederhana–dalam bahasa saya tentu, merupakan penggunaan pola pikir yang salah untuk menentukan sebuah kebenaran.

Mari menghitung.

Berapa banyak dari kita yang mensyaratkan sebuah syarat atas terpenuhinya sesuatu.

Bahwa, seorang wanita cantik harus berupa serupa sosok yang berbadan kurus, berkulit kuning dan putih, memiliki rambut panjang, berwajah simetris sempurna tanpa cacat, berkaki rata tidak timpang, berat badan tak lebih 48 kilogram, bersuara lemah mendayu lirih.

Bahwa, seorang pria menawan harus serupa sosok yang tampan simetris, wajahnya begitu lelaki, perutnya menggaris kotak enam kali, ototnya muncul, pundaknya bersayap, punggungnya kekar, dadanya tegap, mapan, dan mengendarai alphard.

Diluar hal itu: simpanlah rapat-rapat. Karenanya itu adalah aib dan bukan cita-cita.

Wanita akan kadang lupa diperlakukan sebagai wanita jika ia gemuk, pria lupa diperlakukan sebagai pria jika ia gemuk (ditambah kemayu).

Orang-orang gendut, gembrot, gemuk hanya sepantas serupa punakawan. Emban. Tak pernah menjadi peran utama. Tak pernah menjadi pusat cerita. Tapi sekali lagi itu hanyalah di dalam kotak kaca bodoh yang menuruti pasar tulang yang terbungkus kulit.

Kehidupan, tidak sekejam dan sebodoh itu sayang. Manusia-manusia yang kau akan temui, jauh lebih memahami makna darimu dibanding konsep kotak kaca bodoh yang tak henti menghapus makna dalammu. Undanglah mereka dengan pikiranmu. Undanglah mereka–manusia-manusia yang tak mengalienasikanmu hanya karena lenganmu sebesar paha mereka.

Mulai sekarang: tubuhmu adalah tubuhmu sendiri. Kitalah yang mendefinisikan makna kita– apapun pembungkusnya: gembrot, kurus, semampai, hitam, putih, jangkung, kerdil.

Televisi dan lembar majalah penuh editan bukanlah pengendali tubuhmu.
Maknamu bukanlah pada seberapa tipis tebalnya gelambir lemakmu. Jiwamulah pusat makna.

Mengagumkanlah dengan siapa dirimu. Bukan seperti seharusnya apa bentuk tubuhmu.

  

Advertisements

3 thoughts on “Gembrot Liyan

  1. Aku kotaknya cuma satu doang, dan kurus ( ⌣ ́_ ⌣ ̀)

    Yakinlah setiap manusia dihadirkan dalam kekurangan dan kelebihan masing-masing, dan semuanya indah.

    Bedebah kotak imaji pemisah realita.

    Liked by 1 person

  2. Akhirnya jd sebuah tulisan juga. Dgn tidak mengurangi rasa hormat kepada yang lainnya tp mmg apa yg telah di tuliskan menjadi fakta yang ada di sekitar kita ini.

    Mudah-mudahan banyak yang baca dan jadi inspirasi.

    Like

  3. Harusnya pesan ini bisa lebih banyak dibaca, disebarkan, didoktrin dan viral ke seluruh dunia. Mematahkan konsep salah yang dipromosikan oleh media. Cantik itu punya spektrum luas bukan hanya sekedar jadi standar media. Bravo Yasooo..

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s