Pagi adalah tentu sebuah kegairahan yang meledak dan stabil, seharusnya. Tidak pernah semeledak ketika saya–kami–usia 15 atau 16 tahun. Anak kelas satu SMA yang seharusnya takut-takut lalu menundukkan kepala karena segan juga seram berpapasan dengan kakak-kakak kelas tiga.

Hari, Dian, Della, Devi, juga saya selalu datang sepagi mungkin untuk sarapan di sekolah–disusul dengan teman lainnya satu angkatan kami. Entah membeli nasi pada teteh sangu di halte lapang, atau membawa bekal lalu duduk bersama di kantin lapang.

Lalu memandang dari kejauhan kakak-kakak tampan Lotex yang sedang sarapan di halte.

Sekolah kami berada di dalam komplek militer– sehingga tidak memungkinkan bergerombol di luar sekolah, sehingga itulah mengapa kami selalu datang paling pagi juga pulang paling malam, meskipun sebenar-benarnya tidak ada yang kami kerjakan.

Kami hanya menghabiskan waktu di warung Bi Toto untuk makan bacang dengan bala-bala lengkap dengan saus ulat custom yang begitu mengagumkan rasanya. Atau menyalin PR di kantin–karena kami semua kebanyakan berbeda kelas, sehingga salah satu diantara kami akan selalu lebih dulu mendapat jadwal pelajaran dibanding yang lainnya, dan keuntungannya adalah PR akan selalu sama, sehingga kami memanfaatkan itu untuk menyalin PR teman kami di kelas yang telah selesai diperiksa dan terisi jawaban benar. Sehingga: kami tidak pernah belajar.

Kami lupa sebenarnya rasanya sekolah, apa yang kami pelajari. Kami bahkan tidak pernah tau apa itu jenjang SMA, yang membuat pelajarannya dikelompokkan dalam jenjang itu. Kami selalu masuk dalam daftar murid remedial setiap hari–padahal kami OSIS yang merupakan bibit terpilih di tiap kelas, kamilah harapan sekolah kala itu *hahahahah*

Kami teramat tiran pada kekuasaan. Karena kami menggunakan wewenang sebagai OSIS. Sehabis jam istirahat, jika kami lebih malas dari biasanya untuk kembali ke kelas masing-masing, kami akan memiliki banyak sekali metode untuk membolos kelas, juga teman kami yg lain.

Pertama: kami akan mengambil sebanyaknya kertas dispensasi dari kantor guru piket (karena sekolah memberikan wewenang itu) (terima kasih sistem *hahaha*), lalu kami bisa sesuka hati menuliskan nama teman-teman terpilih kami untuk kami panggil–lalu kami dapat bergembira tertawa di ruang OSIS tanpa memikirkan dikelas teman kami yang lain sedang pusing belajar apa. Sebenarnya kami yang rugi–kami sadari bertahun kemudian–karena kami tidak mendapatkan isi otak apa-apa ketika sekolah selain kegembiraan dan mufakat muslihat diantara teman untuk mencurangi wewenang *hahah* *berat banget bahasanya*

Kedua, salah satu dari kami akan meminta izin untuk masuk ke dalam ruang Wakasek, lalu meminjam (kami menyebutnya) halo-halo *entah apa namanya itu*: microphone yang tersambung pada pengeras suara di tiap kelas, sehingga pengumuman yang disampaikan akan terdengar ke tiap kelas. Dan dapat ditebak tentu, kami memanggil teman-teman terpilih kami untuk meninggalkan kelas demi rapat fiktif yang selalu rutin kami adakan. *hahahahaha*

Sehabis pulang sekolah? Jangan pernah tanyakan itu. Kami tidak pernah pulang ke rumah dalam keadaan matahari masih bersinar. Padahal kami sekolah mulai pukul 6.40 pagi sampai 12.30 siang. Kami pulang ke rumah? Jam 9 atau 10 malam, minimal.

Ngapain saja? Les? Belajar bersama? Ekstrakulikuler? Kursus karate? Bimbingan belajar? Tidak semua. Tidak satupun.

Kami melakukan hal seperti pagi: duduk-duduk di kantin Bi Toto, tertawa sebanyak mungkin, atau jika kami bosan: kami pergi keluar menggunakan mobil Devi, entah kemana saja.

Kami menjadi makin bodoh makin hari dibanding teman-teman kami yang dikelas? Tentu.

Kami sangat bahagia saat itu? TENTU SAJA!

Kami akan pergi ke tempat luar sekolah (kalau kami punya uang untuk nonton atau makan). Kalau tidak? Hanya pergi di bukit bintang sampai malam. Menyanyi, bergunjing dan menangis. Atau pergi ke Dr.Boom atau Flash Net untuk chatting dengan teman sendiri di MIRc *oke ini adalah sangat sia-sia* namun kami yang bodoh dan bahagia tidak mengenal apa itu sia-sia. Kami pergi kemanapun yang dapat mendatangkan kegembiraan. Semalam mungkin sejauh mungkin. Masih menggunakan seragam!

Apapun kami lakukan dan rela lakukan agar kesenangan kami tak henti: merancang pernyataan cinta Kheka pada Cone (sumpah kami sekuat tenaga menahan tawa lepas kala itu), atau hanya sekedar menyanyi lagu Dua atau Audi. Menangisi nasib keluarga juga kakak Lotex yang jauh dari jangkauan. Atau berfoto sebanyak mungkin.

Poinnya adalah: kami tidak pernah menyesali ketika harus lulus SMA menjadi lebih bodoh atau dungu dibanding teman lain yang benar-benar belajar. Tapi kegembiraan kami melimpah ruah. Yang kami tangisi saat itu adalah impian kita saat ini untuk ditangisi sekarang. Berjalan tahun semakin berat beban tangismu, sahabat.

Air mata yang melimpah ruah kala itu untuk menangisi hal remeh, tak sebanding dengan tangismu dalam diam yang sekarang.

Satu hal yang pasti: aku disini. Bersedia kembali menjadi bodoh dungu dan bergembira–asal tangismu yang diam sebentar bersuara dalam tawa yang pecah dan lupa. Meskipun kita selalu bermantra: putih abu takkan kembali.

Advertisements

3 thoughts on “Putih Abu Takkan Kembali

  1. Terima kasih! Terima kasih telah membawa memori bodoh itu!

    Haha!

    Aku tidak berhenti tertawa saat membaca tulisanmu, betapa banyak hal bodoh nan menyenangkan yang kita lakukan!

    Oh sayang sungguh sayang, itu semua tidak sia-sia!!!!! Lihatlah kami sekarang! Berkecukupan kenakalan di masa muda….. šŸ™‚

    Tapi, bagaimana kalau kita ulang itu kembali?

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s