PKI.

‘Cawiiiiii, jangan ngomong itu nanti kamu diciduk! Bahaya! Nanti polisi datang’

Itu teriakan ibu kalau saya mulai ngomong tiga huruf itu. Padahal, saat itu saya baru lihat iklan keramik di tipi, dan di akhir iklan ada tulisan: Perusahaan Keramik Indonesia.

Tiga huruf itu teramat sakral dan tabu di negeri kita. Huruf itu perlambang kekejian, perlambang iblis penyiksa. Haram diucapkan, apalagi diikuti.

Setiap tanggal sekarang, dulu selalu wajib ditayangkan di televisi jam 7 malam film soal pemberontakan G30S (katanya PKI). Tidak banyak yang saya ingat saat itu, mungkin ketika film itu diputar, kakak saya masih SD dan saya belum sekolah. Saya terpaksa nonton karena kakak saya butuh untuk merangkumnya sebagai tugas di sekolahnya– klasik ya, pemaksaan sesuatu berkedok tugas. Yang saya ingat dari film yang katanya kelam saat itu hanya adegan Ade Irma Suryani bermain dengan Pierre Tendean yang tampan. Sudah itu saja. Beruntung, kekejian dan adegan darah-darah tidak terekam dalam otak saya.

Tapi yang saya tahu, film itu berhasil menyampaikan pesannya dan mencapai tujuannya: membenci PKI.

Berpuluh tahun negeri kita bermasa lalu suram juga kelam. Kebencian yang disebar bukan berdampak dan untuk siapa pada kenyataannya. Kebencian yang dibenihkan, disebar ke setiap sudut penjuru negeri berdampak pada negeri kita sendiri.

Mari tidak lagi berbicara mengenai korban dan pelaku. Mari tidak lagi berbicara mengenai luka yang ditimbulkan atau diderita oleh siapa.

KITA semua terluka atas tragedi kelam negeri ini. Atas masa lalu yang menyudut gelap negeri ini.

Semalam, perasaan saya diobrak abrik oleh kesaksian dari Ilham Aidit, Amelia Yani, dan Catherine Panjaitan. Betapa luka teramat dalam harus mereka tanggung berpuluh tahun. Diam. Menyepi. Tidak bersuara. Karena mereka yang kala itu anak-anak juga remaja, menanggung juga ratusan juta anak negeri yang terkena luka kelam. Penuh borok nanah basah.

Saya, yang bahkan ketika pemutaran film G30S setiap tanggal sekarang dulu– masih berusia dua tiga atau empat tahun, ikut tumbuh dalam luka.

Saya, terobrak-abrik hatinya jiwanya mendengar kesaksian soal peristiwa yang bahkan tidak akan pernah saya bayangkan dapat eksis diluar adegan akting– tidak menuduh tidak lagi menunjuk. Saya tidak mau lagi menjadi bagian dari ratusan juta orang yang termakan kebencian.

PKI maupun bukan PKI samanya mereka korban. Mereka terluka. Mereka dimakan masa waktu masing-masing.

Berapa banyak manusia tak menahu apapun– menderita berpuluh tahun karena mereka terlanjur dicap tiga huruf yang melekat selamanya di keningnya.

Mia Bustam– tentu selalu yang paling saya ingat. Perempuan tangguh mengagumkan. Janda Soedjojono, berpuluh tahun dikekang penjara, karena ia gemar melukis di gedung Lekra.

Atau pemuda (sekarang telah menjadi bapak-bapak tua) kelompok Kamisan, yang berburu tikus di depan sel penjara untuk berpesta. — vide Gadis Kalender.

Saya, tentu tidak akan pernah sanggup menyebutkan satu persatu orang, satu persatu peristiwa. Tidak pula sanggup menggambarkan seperseratus juta perasaan yang mereka rasakan.

Saya hanya menggambarkan perasaaan saya yang diobrak abrik kenyataan. Mendengar ternyata menyakitkan. Menerima bahwa negeri seindah ini pernah begitu kelam dan gelap.

Dan seperseratus juta dari anak-anak yang menanggung luka, perlahan terbasuh.

Amelia Yani, menyepi dan hidup di desa jauh selama 20 tahun, untuk perlahan merawat lukanya, melihat ayahnya disiksa ditembak.

Ilham Aidit, berpuluh tahun menyembunyikan nama belakangnya–nama ayahnya– karena berpuluh tahun keluarga PKI dikucilkan disulitkan.

Catherine Panjaitan, mencintai Indonesia dari jauh Eropa. Karena dari dekat, ia melihat kembali lukanya yang menganga terbuka basah.

Mereka adalah anak-anak yang menanggung luka negeri ini, karena orang tua mereka: berperang melawan hantu– sehinggalah mereka saling memerangi. Mereka, anak-anak negeri yang tumbuh merawat luka- dan menyepakati: mari berkawan dan berdamai. Mari memaafkan dan melupakan. Kita semua adalah korban.

Indonesia, maka inilah doa kami. Sebagai basuh perlahan lukamu yang masih basah menganga.

Semoga kami, anak-anakmu, tidak pernah habis termakan benci.

Advertisements

One thought on “G30S Perusahaan Keramik Indonesia

  1. “Indonesia, maka inilah doa kami. Sebagai basuh perlahan lukamu yang masih basah menganga.

    Semoga kami, anak-anakmu, tidak pernah habis termakan benci.”

    Penutupnya bikin cirambay (┌_┐)

    Beratus ribu bahkan berjuta jiwa menderita hanya karena dicap “PKI”. Propaganda dan penyimpangan sejarah yang sampai sekarang masih tetap seperti itu -di buku sejarah juga di sekolah.

    Eh….emang sekarang masih ada pelajaran sejarah yah :/

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s