Beberapa kali saya membatin soal pelajaran yang saya dapat dari acara yang benang merahnya makan– kesukaan saya sepanjang masa: Gordon Ramsay’s Best Restaurant. Bagi yang tidak tahu, acara itu adalah acara yang menghimpun restoran-restoran terbaik menurut Gordon Ramsay, lalu dia mengundang tamu-tamu untuk makan di restoran yang dia pilih untuk kemudian diberikan penilaian. Dalam satu segmen, diperlihatkan seorang ‘agen rahasia’ yang berpura-pura menjadi tamu lalu memberikan penilaian mengenai pelayanan restoran — disamping penilaian utama: rasa makanan yang disajikan. Bagaimana perilaku pelayan menghadapi keluhan, bagaimana perilaku pelayan menghadapi permintaan pembeli yang berbelit dan bertele.

Artinya: pelajaran benang merah yang saya beri garis tebal adalah pelayanan dari seorang pelayan mendefinisikan restoran secara keseluruhan.

Dan bagi saya: seorang hamba ialah pelayan.

Mereka dan bisa jadi saya, yang dengan lantang menyuarakan bahwa ia adalah tangan kanan Tuhan: menyeramkan bagi saya. Saya selalu yakin bahwa Tuhan adalah segala bentuk keramahan. Keindahan kata dan perilaku adalah segala soal Ia.

Dan Tuhan adalah Maha Penerima dari segala penerimaan. Maupun yang tersulit. Ia adalah Maha Ikhlas. Sumber maha keikhlasan. Ia menerima saya meskipun saya tidak bertudung rapat. Meski saya hanya mampu membaca hijaiyah terbata dan seringkali tertukar.

Saya menulis ini dengan gejolak pertanyaan dalam kepala saya. Apakah saya tidak cukup dapat disebut diterima dan dikasihi Tuhan: karena saya tidak bertudung rapat dan terbata bahkan untuk sekadar hijaiyah.

Gejolak saya ini dipicu oleh lagi-lagi sarana tidak berguna yang menimbulkan pergunjingan, juga gejolak pertanyaan dan kernyit dahi penuh tanya: status BBM.

Seorang teman saya memasang status: “Bagaimana jadinya ya bila aq menjadi orang begajulan, tidak berjilbab, tidak sholat dll? Aq yg taat pada perintah Allah saja sudah dipandang sebelah mata”

Detik pertama membaca itu, tentu, saya berkernyit dahi, dan menunjukkan tulisan tersebut pada teman saya, Teh Emil, ‘ada yang aneh teh dgn ini?’, dan reaksinya sama: berkernyit kerut dahinya.

Saya tunjukkan pada orang kedua, teman saya Yuri: tentu sama. Kernyit yang lebih dalam.

Status teman saya itu, mau tidak mau harus saya akui: mengobrak-abrik tatanan keyakinan saya bahwa Tuhan Maha Baik. Bahwa orang begajulan, tidak berjilbab, dan tidak sholat, SUDAH PASTI tidak taat dan akan dipandang sebelah mata.

Menegaskan: bahwa orang begajulan, tidak berjilbab, tidak sholat– SEPERTI SAYA hanya sudah pasti tidak akan dipandang, bahkan oleh satu mata yang sebelah.

Bahwa hubungan yang mesra dengan Tuhan seolah HANYA dimonopoli oleh mereka yang tidak begajulan, berjilbab, dan selalu sholat. Lagi-lagi doublethink.

Bahwa orang yang tidak begajulan, berjilbab, dan selalu sholat sudah pasti taat. Dan ialah replika Tuhan di bumi.

Kembali ke pelajaran di atas: bahwa hamba adalah pelayan. Dan mereka yang menghamba dengan papan nama besar-besar di dahi dan dadanya: ANAK TUHAN– dan berusaha keras menjadi replika Tuhan di bumi, teramat suci tak ternoda; maaf– tidak mendefinisikan Tuhan yang Maha Penerima juga Tuhan Semesta Alam — termasuk mereka yang begajulan, tidak berjilbab, dan tidak sholat.

Seorang teman pernah mengatakan: ibadah itu teramat mudah untuk dilakukan oleh sendi-sendi badanmu. Yang tersulit adalah bagaimana setelahnya, kau tidak merasa paling suci diseluruh penjuru bumi.

Jika kalian– para taat, merasa berkewajiban penuh sebagai tangan Tuhan untuk menarik dan melayani umat– pembeli dalam restoran: maka kalian akan membuat saya dan para begajulan, para tidak berjilbab, dan para tidak sholat, KETAKUTAN, karena kalian yang tidak ramah dan menganggap kami hina tidak sama seperti kalian. Padahal, kami begitu amat sangat teramat sangat begitu sangat yakin, bahwa Tuhan– pemilik restoran– menyajikan hidangan terbaik dan kasih terbaik sepanjang hidup kami, bagaimanapun kami. Sekotor apapun kami ketika kami melangkah masuk ke restoran. Karena Tuhan, mendirikan restoran untuk menjamu seluruh bumi: baik yang taat maupun yang tidak– begajulan, tidak berjilbab, dan tidak sholat.

Karena lagi-lagi, Tuhan Yang Teramat Maha Baik.

Advertisements

One thought on “Restoran Tuhan

  1. Harusnya orang sadar bahwa apa yang dipakai oleh kita hanya atribut kosong yang tak mewakili apa pun. Tuhan hanya melihat hati, tak peduli rupa dan atributmu.

    Ini yg gue benci dari orang yg mengaku relijius. Mereka merasa lbh baik drpd orang lain. Atribut kosong yg mereka pakai malah membesarkan ego mereka bukan Tuhan yg mereka sembah.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s