Tulisan adalah semesta dalam setiap kepala manusia

Mikhail Lermontov, adalah seorang penulis ternama di Rusia. Meski tidak semahsyur Dostoevsky ataupun Tolstoy, Lermontov merupakan penulis yang diperhitungkan di Rusia.

IMG_1750

“A Hero of Our Time” atau “Pahlawan Zaman Kita” (terjemahan bahasa Indonesia) pertama kali diterbitkan dalam Bahasa Rusia pada tahun 1840, lalu diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris setelahnya salah satunya oleh Vladimir Nabokov.

“A Hero of Our Time”, bagi saya merupakan buku yang mengambil sudut pandang yang unik. Dibandingkan dengan karya-karya penulis Rusia yang sezaman, Lermontov memiliki sudut pandang dan gaya tulis yang berbeda. Karena pada kala itu, penulis Rusia dikelompokkan dalam satu masa yang disebut “Age of Realism”. Beberapa penulis yang digolongkan kedalamnya seperti Leo Tolstoy, Ivan Turgenev, dan Nikolai Gogol. Penulis-penulis tersebut memiliki sudut pandang yang realis. Memotret kehidupan seputar revolusi besar-besaran oleh Bolshevik di Rusia kala itu.

Namun Lermontov, cenderung lebih ke arah gaya penulisan Dostoevsky. Mengeksplorasi sisi psikologis manusia. Memberitahukan fakta humanis seorang manusia, melalui tokoh pahlawannya: Pechorin.

Sudut pandang yang unik menurut saya adalah karena narator –salah satunya– merupakan orang yang tidak bernama, juga bahkan tidak mengenal dan tidak ada sangkut pautnya dengan tokoh utama: Pechorin.

Narator dalam buku ini ada tiga orang, pertama Orang Tidak Bernama, kedua Maxim Maximich, dan ketiga Pechorin sendiri.

Pada awal cerita, sudut pandang berasal dari Orang Tidak Bernama yang menjadi pencerita. Dalam sebuah perjalanannya Orang Tidak Bernama bertemu dengan Maxim Maximich, sahabat Pechorin. Dan disanalah cerita mengenai Pechorin dimulai.

Perjalanan Orang Tidak Bernama dan Maxim Maximich di sekitar Pegunungan Kaukasus yang dalam perjalanannya terlibat dengan orang-orang Osetin dan Tartar. Awal membaca, mengingatkan saya dengan petualangan Kara Ben Nemsi karya Karl May. Awalnya saya pikir buku ini akan merupakan petualangan klasik dengan latar belakang alam dan kultur tertentu –Kaukasus. Namun ternyata, semakin tenggelam dalam cerita, novel ini lebih merupakan novel psikologis.

Saya baru menyadari dan mengerti mengapa buku ini diberi judul “A Hero of Our Time” atau Pahlawan Zaman Kita. Pengupasan sisi psikologis tokoh utama –Pechorin, yang jauh dari sosok yang diidealkan sebagai pahlawan. Bukan lagi pahlawan yang selama ini kita selalu bayangkan kesempurnaannya.

Lermontov mengeksplorasi sisi manusia yang manusiawi untuk menjadi pahlawan. Untuk menjadi pusat dalam cerita.

Lermontov dalam kata pengantarnya, bahwa manusia dapat menerima tragedi dan roman, tapi tidak dapat menerima sisi manusiawi yang selalu ada dalam manusia, bahkan dalam sosok pahlawan sekalipun: jiwa yang licik cacat juga akal mengelabui.

Lermontov dengan sangat indah mengeluarkan perlahan dengan halus sisi gelap seorang manusia, yang tidak keji penumpah darah seperti Robespierre atau Bathory; Pechorin lebih merupakan kumpulan dari akal-akal licik. Kumpulan dari kesombongan dan kepongahan laki-laki matang.

Ia berstrategi. Ia mematahkan hati perempuan. Ia mematahkan hati sahabatnya–Maxim Maximich, oleh karena itu buku harian Pechorin bisa sampai dimiliki dan diterbitkan oleh Orang Tak Bernama, karena diberikan oleh Maximich yang sakit hati.

Pechorin mewakili sisi jiwa manusia yang paling manusiawi, tapi tidak keji: dengki dan tak ingin terkalahkan.

Arogansi yang kental pada laki-laki yang ditempa nasib. Tapi bersamaan dengan itu, ada sebuah sisi lemah Pechorin yang berusaha keras ia tutupi dengan arogansinya: kelemahan dan luka romantisme. Ingatan masa lalu. Kebutuhan sosok perempuan yang bukan siapa-siapa; untuk mendefinisikan ulang dirinya yang serba dihormati.

Laki-laki (juga tentu perempuan) akan membutuhkan saat penarikan diri, pengistirahatan peran, retreat –dari sosok yang dihormati dan berkuasa; menjadi seorang laki-laki yang bukan siapa-siapa, yang telanjang jiwanya dihadapan perempuan yang juga bukan siapa-siapa: bukan perempuan yang diimpikan selama ini.

Selama Pechorin belum menemukan perempuan yang membuat dia menjadi bukan siapa-siapa; Pechorin hanya menjadikan perempuan-perempuan berkelas sebagai pelengkap pernik perjalanannya sebagai seorang perwira yang bertualang.

Perempuan selalu membawa tragedi bagi laki-laki –jika seorang laki-laki berada dalam penyesalan dalam akan perlakuan terhadap perempuan.

Pechorin, setelah tragedi Bela: menjadi jiwa yang kosong tanpa hasrat. Menjadi penyendiri. Jiwanya tidak lagi hidup.

Terkadang yang menghidupkan kembali jiwa seorang laki-laki yang kosong dan mati hanyalah pertarungan. Yang menjadikan seorang menjadi laki-laki terkadang sematan gelar juara memperebutkan. Entah apapun itu.

Pechorin menjadi titik balik kontradiksi. Ukuran keelokan seorang pria yang pahlawan seharusnya tanpa seluruh komposisi yang membentuk Pechorin.

Ukuran ideal yang dibentuk masal mengenai seorang tokoh yang menjadi sentris dirombak ulang oleh Lermontov setelah sebelumnya diobrak-abrik. Lermontov menampar kita dengan desisan-desisan alam sadar Pechorin: bahwa cerita yang pahlawan sentris haruslah manusiawi. Ia dengki, ia congkak, ia culas, ia licik, ia lemah, ia menutupi luka.

Lermontov, zaman itu menyadarkan, pahlawan seperti Pechorin bukan hanya menjadi pahlawan zaman itu. Tapi zaman kita. Ketika kita mengucapkan Pahlawan Zaman Kita, Pechorin yang sangat manusiawi sebenarnya tetap selalu ada. Bukan hanya di zaman itu atau di zaman ini. Tapi di Zaman Kita.

Advertisements

One thought on “#YasoBaca: A Hero of Our Time – Mikhail Lermontov

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s