Beberapa bulan kemarin, saya pernah menulis sedikit menyinggung mengenai Srebrenica dalam https://triasyuliana.wordpress.com/2015/06/12/kisah-lalu-anak-yahudi/

Bahwa selalu sejarah merupakan ekor yang setelah mengular panjang, ujungnya kemudian bertemu kembali si kepala, dimakan kembali. Membentuk lingkaran yang membulat bundar. Sejarah bagaimanapun bentuk dan polanya; sengaja atau tidaknya; tragedi atau keberhasilan — akan selalu merupakan proses yang berulang.

  
Foto: dailymail.co.uk

Srebrenica, saat itu bisa jadi juga hanya pengucapan ulang kembali sejarah lainnya yang juga gelap, yang tidak terekam– vide: Seeing the Sorrow Anew: Recapturing the Reality of Suffering Through Srebrenica – http://wp.me/p3dApw-Ck

Bagi saya saat itu– seorang gadis kecil baru-baru bersekolah SD, kejadian seperti yang terjadi di Srebrenica; tepat saat itu. Menjadi tidak mungkin. Bagi saya yang saat itu hanya membaca perihal kaki bocah bernanah juga pakaian goni berkutu anak-anak di kamp Polandia; merasa itu adalah dongeng masa lalu. Dongeng masa jauh. Masa belakang. Yang teramat jauh. Yang teramat belakang. Di saat yang sama saya menghabiskan susu kotak dingin; anak-anak seumuran saya dihabiskan tebas telibas habis hidup nyawanya: karena mereka tak sengaja tersematkan identitas bawaan darahnya. Sebuah agama.

  
Foto: homoeconomicusnet.wordpress.com

Srebrenica, Bosnia; selalu merupakan nama tempat teramat kelam untuk diingat meski terlampau cantik untuk menjadi kelam. Srebrenica adalah sebuah kota di Bosnia tempat pembantaian massal bagi 8000 muslim. Srebrenica, 20 tahun di masa belakang; bukanlah waktu yang lama bagi sebuah sejarah. Bukan kala yang layak lupa bagi kelam gelap sebuah masa. Sebrenica: adalah seharunya nama yang teramat dekat dengan nadi lalu cukup tajam menyayat perlahan– anak-anak laki-laki seumuran kita kala itu, menjerit penuh takut, hidupnya sudah kiamat; dikala yang sama kita merengek atas kotak-kotak susu dingin.

Nyawa mereka lebih ringan diterbangkan lebih daripada abu– karena mereka mungkin bahkan tidak sengaja dan meminta dilahirkan dengan sematan identitas; sebuah agama.

Hal ini tentu akan terus merupakan sebuah pengulangan. Ejaan yang dibaca terus menerus. Pola yang digambar berulang. Nada yang diketukkan berkali menerus– nyawa diterbangkan lebih banyak daripada nyawa yang ditiupkan.

Mereka meninggalkan dunia tanpa sebuah upacara, tanpa berpamitan, tanpa doa. Mereka dipaksa pergi secara tiba-tiba dan masal. Kematian tidak lagi sempat ditangisi satu persatu. Tidak lagi sempat diadakan perpisahan dalam kesedihan.

Kematian saat itu, di Srebrenica; adalah dikejar ketakutan. Bukan lagi perihal kehilangan dan kesedihan. Kematian adalah perihal kemujuran dan giliran. Mereka semua yang tersemat identitas dalam darahnya; sebuah agama– berada dalam daftar. Mereka yang beruntung: nomor antrian kematian mereka tidak sempat dikejar waktu.

Dari semuanya: kitalah yang beruntung. Di saat yang sama anak seumuran kita menjerit karena nyawanya ringan diterbangkan menghilang; kita sedang menyedot dengan berisik susu dingin dari karton warna-warni.

Bahwa banyak sekali hal yang teramat dekat, namun begitu kelam dan gelap untuk kita (mau) ketahui, hanya karena hidup kita terlalu terang dan menyenangkan. Keberuntungan dan hidup tak terusik adalah sebaik-baiknya alat melupakan.

Menjadi Islam; bisa menjadi teramat sulit jika kita adalah seorang Islam di Sebrenica pada tahun 1995.

Menjadi Islam; bisa jadi teramat membosankan dan membebani di Indonesia pada tahun 1995. Karena segalanya yang teramat mudah.

Beberapa hal kita terima tanpa meminta di kala yang sama orang lain memperjuangkan dengan nyawanya atas hal yang sama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s