Setiap suap makanan adalah kumpulan ribuan jerih payah

Bandung, jika tidak sedang musim hujan seperti sekarang, bisa sama panasnya dengan kota lain yang dianggap panas: Jakarta, Bali, Jogja, Medan. Dan jika sedang seperti itu, saat terbaik adalah saat pagi. Dan apalagi teman terbaik menikmati sebuah tempat selain makanan. Dan makanan ketika pagi adalah: SARAPAN!

Makanan Bandung sebeneranya tidak pernah tertidur. Sejak pagi hingga pagi, selalu ada yang bisa dibeli dan dimakan. Saya sendiri, sebenarnya tidak terlalu banyak menemukan sarapan yang menjadi khas Bandung. Tapi salah satunya yang tentu akan ‘dicirian’ oleh orang yang mencintai Bandung untuk sarapan adalah: Lontong Tahu Cihapit.

  
Sebenarnya lokasi Lontong Tahu Cihapit berada di Jalan Serayu, berdekatan dengan Cuanki Serayu yang juga menjadi kesukaan warga Bandung. Lontong Tahu Cihapit diberi nama Cihapit karena pada awalnya berjualan di dekat pasar loak Cihapit. 

  
Seingat saya, ketika saya masih sangat kecil, saya makan di Lontong Tahu Cihapit ketika mereka berjualan masih dengan gerobak kaki lima yang dekat dengan pohon besar di sekitar Cihapit. Lalu mereka semakin laris dan terkenal, pindah beberapa kali dengan menyewa halaman rumah di sekitar Cihapit Ciliwung. Terakhir sebelum ke lokasi yang sekarang, Lontong Tahu Cihapit berada di Jalan Bengawan.

  
Tapi menurut saya, lokasi yang sekarang paling menyenangkan, karena berada di halaman rumah kosong yang terdapat banyak pohon. Di lokasi sebelumnya, berada dalam kios yang tidak permanen yang terkesan gelap.

  
Lontong Tahu Cihapit menyediakan empat menu. Lontong tahu petis (dengan bumbu kacang), lontong sayur (dengan kuah sayur), lontong baso, dan mie baso.

  
Menu yang menjadi andalan tentu lontong tahu petis dan lontong sayur.

Saya, entah mengapa, merasakan evolusi dari tempat ini. Perpindahan tempat juga perubahan rasa. Semakin sekarang, rasanya semakin enak.

Terakhir saya makan, lontong petisnya terasa sangat enak. Bumbunya sangat lembut, bahkan saya menduga (bisa saja) dalam kacangnya ditambahkan ulekan kacang mede, karena kelembutannya yang luar biasa. Padahal dulu sebelumnya, bumbu kacang tidak selembut sekarang, ulekan-ulekan kacang masih kasar dengan tekstur kacang yang masih terlihat. Tahunya pun lembut, saya pun menduga tahu yang digunakan adalah tahu susu khas lembang yang memiliki tekstur dalaman putih tahu yang lembut. Bumbu kacang petisnya akan sangat sempurna jika dimakan dengan lontong yang halus juga pulen. Jika suka, tambahkan sedikit sambel dan kecap, akan menambah kesempurnaan rasanya. Bagian puncak lidah-gasme bagi saya adalah saat terakhir ketika toge dan bumbu yang tersisa. Sangat enak! Jangan lupa celupkan kerupuk ‘blek’ yang disediakan di meja, saya sangat suka kerupuk yang sedikit gosong. Perpaduan rasanya semakin sempurna.

  
Lontong sayurnya pun tidak kalah dari bumbu kacang petis. Yang berbeda dari lontong sayur di tempat lain adalah isiannya. Jika di tempat lain lontong sayur berisi potongan waluh dalam santan encer yang ditambah (sesuai pilihan) ayam atau tahu; lontong sayur di Lontong Tahu Cihapit berisi persis sama dengan lontong tahu petis: lontong, tahu, dan toge. Kuahnya yang berbeda, santan encer dengan rasa kaldu sayur yang tipis dan gurih manis. Mengingatkan kita pada rasa sayur lodeh khas sunda yang lebih tipis.

Lontong bumbu petis satu porsi dihargai Rp. 13.000 dan lontong kuah sayur seharga Rp. 10.000.

Tapi ingat, jangan datang kemari pada hari Jumat. Karena warung tutup. Datanglah ketika pagi, dan pilihlah meja yang letaknya di halaman luar dibawah pohon. Sejuk dan menyenangkan. Selamat mencoba!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s