Ada kegelisahan yang sama, yang akan dirasakan sama dan serentak. Oleh sahabat yang hati dan pikirannya terjalin.

Tadi pagi. Sahabat saya, menggumam gelisah. Tentang sebuah pertambahan angka pada digit kedua usianya. Ia gelisah. Sahabat saya yang lain gelisah. Saya pun menjadi turut gelisah.

Bagi orang lain yang lima atau sepuluh tahun lebih tua dari saya, akan mengatakan: bersenang-senanglah. Kau masih begitu muda untuk berpusing pikir. Bermuram mengerutkan dahi.

Bagi saya yang sepuluh tahun yang lalu: usia saya sekarang adalah mungkin saat-saat saya berfoto dengan kebaya dan sanggul konde sebagai foto yang dilampirkan dalam proposal pengajuan kader partai, atau bertoga dasi putih mengetuk palu dengan galak mengusir yang hadir karena berisik, atau saat-saat saya yang sekarang, dulu saya membayangkan: menjadi seperti Oprah– membagi-bagikan amanat, menjalankan misi kebahagiaan, berperan sebanyaknya dalam setiap senyum yang disimpulkan orang.

Kenyataannya: saya masih (saja) seorang mahasiswa.

Seorang sahabat (yang sama gelisah akan ini) pernah saya rengeki soal masih menetapnya diri saya pada hal yang sama: menjadi mahasiswa.

Bagaimana saya merengek karena teman satu kampus saya sudah menjadi manager, berkuliah di Amerika, menjadi pengacara senior, membuka toko berbagai cabang, dan berikutnya dan berikutnya dan berikutnya.

Dia hanya mengatakan: waktumu tidak pernah sia-sia atas pengorbanan yang sungguh teramat besar.

Saya kemudian tersadar: bahwa ladang pahala setiap orang akan menagih pengorbanan yang tentunya akan berbeda pada tiap orangnya.

Hidup tidak pernah begitu semembebankan itu ternyata. Orang-orang sekelilingmulah yang teramat penuntut. Mereka yang bahkan tidak mengenalmu, menentukan jadwal hidupmu. Orang-orang sekelilingmu yang bahkan tidak mengenalmu, membuat batas waktu. Kapan kamu harus memiliki pekerjaan mapan di kantor besar, kapan menikah, kapan harus melahirkan, harus melahirkan lagi, kapan harus membuat hajat anak-anakmu, kapan harus mati.

Mereka yang bahkan tidak mengenalmu: memegang jarum panjang dan jarum pendek hidupmu. Menentukan makna dan target usiamu. Dan secara sadar: kau mengikuti itu. Terdesak untuk memiliki pekerjaan mapan di kantor besar, untuk menikah, untuk melahirkan, untuk melahirkan lagi, untuk membuat hajat anak-anakmu, untuk mati.

Kamu selalu mengatakan: otak kita, sekarang, lebih mampu tidak memikirkan hal yang tidak perlu dipikirkan. Termasuk desakan dan jadwal yang sukarela dibuatkan orang-orang yang bahkan tidak mengenalmu.

Pedulikan hanya mereka yang mencintaimu tanpa meminta pembayaran.

Selebihnya: kamu hanya akan sedikit merasa heran dan takjub. Bahwa anak tetanggamu atau sepupumu yang dulu pernah kamu gendong ketika bayi, sekarang telah sama menjadi seorang mahasiswa. Kamu hanya akan sedikit takjub persahabatan dengan sahabat-sahabat sekolahmu sudah berjalan belasan tahun.

Selebihnya: kamu akan selalu menjadi bayi orok yang terperangah kagum takjub sekaligus bingung, setiap kali kamu mendapati pengetahuan dan pengetahuan baru– berapapun usiamu.

Angka tak pernah cukup mampu menuakan jiwa yang girang dan tulus kanak-kanak.

Tidak pernah pula usia cukup mampu memetakan dunia yang akan kamu bentuk. Dunia dibentuk tanpa peta– itulah mengapa manusia tidak perlu menentukan sejak jauh akan menjadi apa ia.

Menjadilah dicintai– maka kamu berhasil menjadi seseorang.

Kita percaya, manusia selain makhluk serakah, juga merupakan makhluk menyesal. Saat usia balita, kita menyesal menjadi dewasa–kita benci menjadi anak-anak. Kita ingin dewasa.

Ketika dewasa, kita menyesal menjadi dewasa. Dan menyesali masa anak-anak yang mengapa terlalu sebentar. Kita rindu saat masalah terberat kita adalah ketakutan menghadapi tes membaca hijaiyah. Kita rindu saat masalah terberat kita adalah ketika bersedih saat orang tua kita belum mampu membeli sepatu yang telah rusak sobek. Kita rindu saat terberat kita adalah menghadapi sakit yang begitu asing diperut di tahun pertama menstruasi.

Dan usia sepuluh tahun kemudian, kamu akan menyesali dan merindukan usiamu yang dua puluh lima atau dua puluh enam. Saat kebingungan dan masalahmu yang terberat adalah soal pertanyaan: akan menjadi apa aku?– dan tepat saat itu, masalah terberatmu akan merupakan: aku sudah menjadi aku yang sekarang, mengapa ini sangat berat?

Untuk,
Harry Patra.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s