Aku mendengar airmataku sendiri. Tetes membentuk lancip mengujung diatas. Ia gembung di bawah. Ia menetes jatuh. Satu dan satu dan satu kemudian satu selanjutnya setiap kali. Tetes temetes ia menetes. Setiap enam belas detik.

Padahal katupku telah ditutup ibu. Ia mengeluh sedih. Katupku lupa ditutup. Padahal kala ini sedang kemarau. Bahkan tumpahan kuah di jalan panas yang menggenang, menguap lalu habis kering. Ibu mengeluh sedih. Tiap tetes temetes air mataku adalah penyuci. Tampungan air mataku yang setiap enam belas detik.

Setiap malam yang sepi– begitu senyap tanpa suara. Aku mendengarkan air mataku sendiri; menetes setiap enam belas detik.

Dalam detik yang kedelapan– cicak berdecak. Ia nyaris merambati bingkai gambar ibu menyusuiku– tidak jadi: cicak berbelok mengejar denging terbang yang melintas.

Dalam detik yang kesebelas: tengah malam yang tepat. Bapak berbaju hijau yang ketika dulu aku riang bersekolah, mengantarkanku selamat ke seberang sekolah– memukul tiang listrik hingga berdenting tiga dan empat kali.

Dalam detik yang ke tiga belas setengah sebelum detik ke enam belas– waktu air mataku jatuh ke tampungan dengan gayung berenang mengambang– detik yang ketiga belas setengah: ada isak-isak memohon. Merendahkan diri. Mempertemukan kening dengan bumi: bersujud. Ibu bersujud. Lalu duduk lalu bangkit dalam berdiri. Lalu kembali bersujud. Lalu begitu berulang. Hingga detik yang ke seratus ribu.

Lewat detik keenam belas yang ke seratus ribu: air mataku yang jatuh tidak lagi kudengar. Bukan karena katupku tertutup benar.

Air mataku tetap membentuk bulir gemuk dan terjatuh dalam gayung yang berenang. Aku tak mendengar lagi air mataku. Aku hanya mendengar isak-isak ibu yang bersujud dan bertangis.

Ia mencari seorang anak perempuan. Yang disapihnya dua tahun. Yang ditimangnya dalam kudang nyanyi. Yang diikatkannya rambut kuncir kuda.

Ia mencari seorang anak perempuan yang telah wanita. Yang diusapkannya air matanya. Menetes bulirnya yang jagung. Habis hilang di pipi. Anak perempuannya yang telah wanita, hilang. Bersama airmatanya.

Ibu yang terisak setiap malam, sendiri. Ia mendengar senyap diam yang teramat sunyi.

Katupku kala yang sekarang, tertutup rapat. Air mataku yang membulir jagung tetap terjatuh. Tergelincir licin diatas gayung yang berenang.

Aku mendengar air mataku yang temetes. Ia bersautan dengan isak ibu. Air mataku sendiri kalah terdengar.

Maafkan aku ibu yang terisak.

***

Aku adalah seorang anak perempuan yang telah wanita. Jiwaku luka. Pendengaranku kabur. Pandanganku kosong. Tanganku kotor.

Sangat sering kali: ibu berkata bahwa air akan menyucikanmu nak. Dengan doa dan tata laksana. Dengan keyakinan dan kerendahan diri menghamba.

Sangat sering kali: ibu berkata bahwa setiap tetes air diberkahkan Tuhan langsung ke bumi– ibu seringkali mengeluh sedih jika aku tak menutup katup keran sehingga tetes-tetesnya terdengar menyentuh kumpulan air tempat gayung berenang.

Sangat sering kali: ibu berkata bahwa ‘tutup katupnya! Jangan biarkan keran menangis dan mendengar air matanya sendiri’

Ibu menyayangi setiap tetes air. Katanya, dari tetes itulah kehidupan di bumi berasal. Ia tumbuh menghidupkan banyak kehidupan baru. Satu tetes air menghidupkan banyak sekali harapan: butir gersang kering akan menumbuhkan batang kokoh dan daun hijau serta buah ranum mengenyangkan.

Dari tetes air lah lahir harapan. Juga penyembuhan. Juga penyucian, seperti kata ibu.

Ibu selalu berkata: bahwa lukaku adalah lukanya. Luka ibu.

Ibu menyapihmu dengan kasih tanpa ucapan mempersilahkan pada dunia untuk beramai merobek luka dihatimu.

Ketika aku terluka, ibu terluka berlipat kali. Ketika aku terisak, ibu terisak penuh sedu hingga sesak.

Dan aku–anak perempuannya yang wanita, harus menyembuhkan ibu. Dengan penyucian. Yang menerangkan air muka ibu. Menjadi cerah cahaya.

Aku yang mendengar air mataku sendiri terjatuh. Menjadi tempat gayung berenang mengambang. Sebelum ibu menyiramkan setiap tetes air mataku untuk bersuci.

Dan berdoa terisak. Meminta anak perempuannya yang wanita kembali. Tanpa menyadari: anak perempuanya yang wanita lah yang menemaninya terisak bersujud dalam keadaan sedikit basah. Air wudhu yang menyerap pori– dan mengamini setiap doa ibu untuk anak perempuannya yang wanita. Aku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s