Soal sinetron kejar tayang di tipi sepertinya menjadi keprihatinan hampir semua orang.

Untuk orang yang lahir dan tumbuh menjadi anak-anak tahun 2000an pasti merasa asing dan sedikit sedih. Karena tidak ada lagi hiburan yang diharapkan bisa kita tonton sepulang kuliah atau kerja di televisi lokal.

Pernah beberapa teman bertanya: kenapa sih yaso nonton Tukang Bubur Naik Haji?

Iya sih memang. Itu sinetron yang mungkin lebih panjang dan dipanjang-panjangin melebihi sinetron Tersanjung dengan Lulu Tobing yang selalu terdzolimi itu. Tapi, Tukang Bubur Naik Haji masih betah saya tonton sampai tahun kemarin. Sekarang? Sudah tidak lagi.

Alasannya bukan karena alasan personal atau cerita sinetronnya, tapi semata-mata karena TV langganan di rumah tidak punya hak siar atas RCTI.

Kenapa nonton Tukang Bubur Naik Haji? Alasannya sederhana sekali saya selalu jawab pada yang bertanya.

Sinetron selalu laris karena ada tokoh antagonis. Dan antagonis dalam Tukang Bubur Naik Haji itu sangat manusiawi. Antagonis dalam sinetron itu hanya penyakit-penyakit hati yang SEMUA orang miliki. Seperti dengki karena Haji Muhidin kalah cepat sampai mesjid, sirik pada mobil baru tetangga, pamer kenaikan pangkat menantu.

Tidak ada sifat antagonis yang diperankan tokoh sampai pada meracuni saingan memperebutkan lelaki, mengakali mobil supaya membuat rem blong demi warisan, dan banyak hal lain yang hanya akan kita temui pada kasus-kasus pidana.

Itulah yang paling saya rindukan dari sinetron dan tayangan televisi semasa anak-anak seperti Keluarga Cemara atau Si Doel Anak Sekolahan (saya menontonnya berulang-ulang-ulang-ulang-ulang) bahwa antagonisme yang paling dekat dengan manusia itu  bukan dengan meracuni sainganmu dalam memperebutkan lelaki. Dimana saya bisa lebih mengambil pelajaran agar mengurangi penyakit antagonis yang SUDAH pasti ada dalam diri saya: dengki, iri, congkak, benci.

Sinetron-sinetron yang sedang tayang saat ini selalu seputar: anak perempuan kaya yang cantik dan berkuasa karena ayahnya donatur sekolah itu. Penindas. Membuat guru terlihat dungu. Penuh aksesoris warna warni dan norak. Seolah-olah semua penonton yang sengaja atau tidak sengaja menonton sinetron itu tidak pernah sekolah– sehingga tidak tahu mana yang dilebih-lebihkan atau bahkan mustahil dilakukan di sekolah.

Menyedihkan.

Saat remaja-remaja labil mengidolakan tokoh-tokoh seperti itu. Dulu saya berpikir sangat mustahil satu sosok dapat menjadi idola berkat peran aneh tersebut. Tapi media sosial membantu kita melihat fakta, bahwa banyak sekali remaja labil mengidolakan sosok yang dikenal mereka dari peran penindas dan kaya raya yang suka pamer: mengucapkan selamat tidur setiap malam pada idolanya, mengikuti setiap kegiatan syutingnya, memuji setiap foto selfie yang diunggah ke akunnya.

Bisa jadi setiap anak dan remaja bercita-cita menjadi kaya raya dan cantik untuk menjadi penindas?

Remaja dan anak-anak lupa diajarkan soal rasa. Menonton acara yang membutuhkan proses berpikir dan merasa. Remaja dan anak-anak (dan bahkan orang-orang seumuran/diatas saya) menjadikan cinta dan asmara adalah pusat semesta. Mereka (kita) tidak merencanakan itu. Mereka (kita) diajarkan untuk begitu.

Jangan salahkan Awkarin. Untuk menjadi remaja yang bangga atas colekan-colekan di payudara, mobil mewah, dan asmaranya yang ia tangisi. Jangan salahkan remaja lain– yang tidak sengaja saya baca– mengatakan: kak karin dan kak gaga relationship goal banget sih……..

Mereka patut dipuji atas beberapa hal, karena bernyali menampakkan diri atas hal-hal yang orang dewasa anggap tidak pantas. Orang dewasa lebih memilih menyembunyikan meskipun diam-diam memimpikan atau menikmati–selagi menghujat dan mengkritik hal yang sama sedang orang dewasa lakukan. 

Salahkan diri kita yang lebih dulu lahir. Yang membentuk industri panutan menjadi sesempit asmara impian, berpacaran dalam mobil mewah. Yang membentuk mimpi selalu terbatas pada kekayaan dan kemewahan. Yang membentuk anggapan bahwa antagonis dalam jiwa manusia ada pada mereka yang meracuni–dan kita menonton dengan penghakiman. Yang membentuk anggapan bahwa yang bentuk dan keadaannya tidak seperti penindas kaya di sinetron hanya memiliki tempat di belakang kantin: menangis dan meratap.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s