Aku menyusun keyakinanku sedikit-sedikit. Kuikatkan tali sabut ijuk setiap helai. Keyakinaku tipis. Dan lemah mengikat. Aku tidak banyak tahu. Aku tahu sedikit. Sedikit sekali. Aku membaca hijaiyah terbata– berpikir sungguh lama, huruf apakah ini? Aku berjuang dalam setiap membaca, mengingat perbedaan titik: atas atau bawah,  satu dua atau tiga. Aku merangkak-rangkak. 

Aku dilahirkan dalam keluarga yang sangat demokratis,  sampai lupa ada anak kebingungan yang meraba-raba mencari arah. Aku sempat kasmaran berkali-kali,  tapi aku baru saja jatuh cinta kali ini. Aku jatuh cinta. Pada Zat Maha Baik. 

Seringkali aku merasa dengki. Dalam artian sebenarnya aku dengki. Aku dengki pada mereka, anak-anak sebayaku yang pergi mengaji dipakaikan kerudung kecil lucu juga peci mungil berjalan sore ke mesjid,  belajar mengaji. Aku dengki pada anak umur tiga tahun yang dengan lancar membaca huruf-huruf keriting indah Arab, sedangkan aku baru bisa sukses menghapal huruf hijaiyah pada umur 22 tahun–itupun berkat 2 orang teman yang membelikan buku mungil Iqro jilid 1. Aku belajar membaca dan menulis dan menghapal di pantry kampus. Aku tidak malu. 

Selama ini aku shalat ketika aku menginginkannya. Ketika tidak, ya tidak. Kala shalat dan lupa bacaanya,  aku shalat dengan membaca. Benar-benar membaca. Aku membuat contekan di sajadahku,  dan aku membaca setiap doa dan bacaannya. Begitu terus. 
Begitu terus sampai aku benar-benar jatuh, terinjak,  dan bubuk. 

Manusia adalah makhluk oportunis. Ia akan mencari hal paling menguntungkan baginya. Dan bagiku,  pertemuan dgn pengalaman religius yang mengantar pada saat jatuh cinta juga merupakan buah dari oportunismeku sebagai manusia. Aku tidak lagi memiliki cara lain untuk bisa menstabilkan emosi. Selain dengan shalat. Dan aku jatuh cinta. Aku mendengar suara lebih jernih, aku melihat sesuatu lebih tajam,  aku merasa kulitku dibelai walau hanya dengan angin,  aku merasa kemarahanku menguap menjadi asap,  dan perlahan kebencian mengecil sampai tak terlihat. 

Aku mengenalNya sebagai Dia Yang Maha Baik. Teramat baik. Sungguh amat baik. 

Ia merawatku. Ia membersihkan lukaku–dengan tanganNya sendiri (itupun jika Tuhan memiliki tangan). Ia sungguh teramat baik penyayang,  melebihi ibuku yang terkadang membuatku marah dan berteriak. Ia tidak terbandingkan. Ia merancang keselamatanku,  bahkan sampai bagian terkecil. Ia adalah kalau aku dapat mengandaikan: adalah Zat yang seluruhnya berupa kasih. 

Beberapa hari kemarin,  aku menangis. Dalam artian benar-benar menangis. Aku sedih. Aku ketakutan. Apa pemahamanku akan ini adalah salah,  mengenai Allah Tuhanku yang kukenal adalah Zat Penyayang Pengasih? Apa karena aku tidak pandai mengaji seperti mereka? Sehingga banyak hal yang aku lewati dan merasa bahwa aku melewatkan perintahnya? 

Perintah untuk membenci dan mengkeruhkan hati. Mereka semua yang kulihat meneriakan kebencian dan kematian orang yang mereka anggap salah: adalah orang yang berilmu. Mereka adalah petinggi. Mereka adalah pejabat agama ini. Seolah-olah setiap kebenaran dan penafsiran dan pemahaman dari kitab adalah wewenang mereka. Seolah-olah Allah Yang Agung adalah Allah yang mereka tokohkan sendiri: keji,  telibas habis yang bersalah dan tak sama, penghukum tanpa ampun. Dan Allah yang aku alami dan kenali yang membuat aku jatuh cinta karena Pengasihnya adalah penokohan seorang bocah bodoh tak berilmu. Yang lalai akan perintah. 

Aku mengenal Allah Tuhanku sebagai Zat Yang Maha Pengampun. Dan aku menangis karena aku takut. Jangan-jangan aku salah mengenali Zat yang membuatku jatuh cinta. Aku menangis karena takut patah hati. Aku menangis karena jika semua kebencian itu adalah PerintahNya, aku takut aku tak pernah sanggup menjadi seorang taat. Aku ketakutan dan kehilangan lagi arah ketika aku merasa aku telah menemukan tujuan. Yang membuatku jatuh cinta. Yang dalam diriku Dia aliri sebanyaknya ampunan dan kasih dan sayang dan cinta dan belas kasih. Yang dalam diriku berpikir bahwa Zat sebesarNya mampu menangani hal terbesar sampai terkecil. Satu mulut tidak akan merusak keagunganNya. Seribu pedang yang menebas seribu kepala tidak juga berguna apa-apa untuk membuat keagunganNya bertambah. Dia adalah Dirinya. KeagunganNya adalah milikNya. 

Dan aku memilih untuk tetap mengasihi sambil menjatuhkan diri dalam sedalamnya dalam cinta yang baru aku temukan. Dengan cara dan pemahamanku yang aku yakini adalah diberi tahu oleh Allah langsung, meskipun aku tidak berilmu. 

Akankah itu menjadi pembangkangan? 

Jika ya, apa aku masih boleh memelihara perkenalaku denganMu yang Maha Kasih,  dan membiarkan kasih tetap hidup pada setiap mereka yang kutemui, aku hanya ingin menjadi pembangkang. 

Advertisements

One thought on “Aku Pembangkang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s