Matahari sebulatan kuning telur asin saat itu. Saat Sipon mengayun-ayun bungkusan kain. Tak lelo lelo lelo ledung, anakku.. 

Saat itu matahari sebulatan kuning telur asin. Saat Allah Maha Besar bergema dikumandangkan. Saat maghrib. 

Lalu setelahnya sunyi. 

Embah membasahi wajahnya tangan kakinya. Berwudhu. Berpesan pada Sipon,  “ngger kene nduk”.

Sehabisnya, masih dengan tak lelo lelo lelo ledung, anakku… 
Sipon merapikan jarik yang dipakainya mengayun. Membenarkan posisi. 
Selanjutnya ia menyanyi kembali,  tak lelo lelo lelo ledung, anakku… 

****

Sipon menangis tersendat-sendat. Mendapati kakinya dialiri darah dari selangkangannya. Ia menangis. 
Yang hanya bisa ia lakukan hanya itu. Menangis.

****

Ia tidak mengenali angka. Juga huruf. Tidak juga lagu terkini. Tidak membincangkan tema cerdas dengan secangkir kopi tujuh puluh lima ribu. Tidak juga bahkan memakai pembalut ketika menstruasi. Gadis ini adalah cahaya. Yang membakar dirinya sendiri sehingga ia bersinar. 

Aku menemukan sesuatu didalam dirinya. Sebuah cinta. Sebuah peristirahatan. 
Sipon bertanya: adakah aku serumit benang? Adakah aku akan dijahit dan menjadi jarik sampur cantik jika tak sekusut ini?
Sipon bertanya: dos pundi lik? Ajari aku menjahit. Aku butuh kain untuk mengganjal lakangku ketika menstruasi. 

Sipon mengeluh: putingku masih sebesar anak esde. Bantu aku mencucupinya agar mancung.
Sipon yang buta huruf. Oh kasihani dia.
Ia mengurai benang di kepalanya. Yang menggulung rumit. Ruwet saling mengikat menindih. Ia cabuti rambutnya satu persatu. Benang turut dengan akarnya yang tercabut. Semakin panjang semakin ia melihat warna. 
Oh Sipon yang boros gelap mata. Kasihani dia. 
Ia menjahit menjadikan selembar kain benang-benang yang kusut ruwet saling menindih di kepalanya. 
Dijadikannya ia kain. Dengan motif burung gereja mencucupi jagung. Sepertiku yang mencucupi payudara Sipon.
Oh Sipon yang busuk dan desut. Kasihani dia.

Berlarinya ia ke sekolah inpres dekat lapang. Masuknya ia ke kelas. Dan melihatnya usuk-usuk kayu. Kain yang ia selesai jadikan dibikinnya menggantung. Ia menarik jiwa jahatnya. Dan menggantungnya di usuk sekolah. Bersamanya ia menetes darah dari lakang. Entah menstruasi atau tangisan jiwa jahat.

Oh Sipon yang malang Sipon yang dusun. Oh Sipon yang luka Sipon yang rendah. Kasihani ia.

Kini ia terpidana. Karena membunuh iblis dalam kepalanya. Oh Sipon terpidana. Nikmati peradilanmu. Sembari menanti puting payudaramu semancung remaja.

*terinspirasi dari Vicky Emanuella. Wanita baik lainnya yang baik padaku diantara banyak orang lainnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s