Aku ingin berada disana karenaMu. Bukan semata-mata karena sebuah perjalanan akan menghasilkan perenungan. Dan perenungan menghasilkan kesimpulan. Bukan semata itu. 
Aku hanya ingin kembali menghitung. Betapa banyak manusia yang mencintaiku secara dalam dan tulus. Sedangkan bagian bumi yang sekarang mampu kuraih sungguh sangat kecil. Betapa mereka berkumpul membentuk lingkaran. Masing-masing melempar kasih dan kebaikan. 
Aku merasa aku adalah sungguh terkutuk. Aku bahkan lupa menangisi sahabat terbaikku yang mengasuhku seperti ibuku, ketika sahabatku meninggal dunia.
Aku lupa melihat raut wajah seorang ibu yang bukan ibuku–yang jika bertemu denganku yang ia inginkan hanya menyenangkanku. Menatapku dengan dalam. Menanyakan apa kabarku?–yang dulu kukira hanya sebatas pertanyaan retoris.
Aku lupa memiliki seorang guru yang menyayangiku seperti seorang ayah, yang tak kusadari, memperhatikanku. Mengirimiku pesan lucu hampir setiap hari. Dan ketika aku merasa kesepian, Bapak itu disana. Menanyakan perihal apa yang rumit di kepalaku? 
Atau seorang Paman yang begitu dekat denganku sejak kecil. Yang selalu digendong dan diajaknya aku kemanapun. Yang menjadi anak kesayanganya sebelum ia memiliki anak dulu. 
Atau sahabat laki-lakiku ketika sekolah kecil. Yang entah berapa lama kami tidak pernah bertemu muka. 
Aku merindukan mereka. 

Aku ingin berdekatan dengan sebanyaknya orang baik. Aku ingin menenggelamkan pikiran burukku bahwa dunia ini ada orang jahat–salah satunya aku.
Akhir-akhir ini aku menangis lebih banyak. Bukan soal apa yang menimpaku. Bukan soal kekecewaanku. Tapi soal entah apa saja. Tapi yang terparah adalah aku menangis karena aku baru menangisi kepergian guru sekaligus sahabatku. Aku tidak pernah sempat menangis. Kebingungan dan kekagetanku tertutup oleh kekerasan hatiku. Aku malu menjadi keras hati.
Aku tidak malu lagi menangis sebanyaknya. Aku tidak malu lagi tersedu-sedu pada tanah dilapisi sajadah. Aku tidak malu lagi menyapa orang-orang tua yang memberikan peran di hidupku–yang dulu selalu kuhindari bagaimana caranya supaya tidak terlibat obrolan membosankan.
Aku lebih menghargai waktuku bersama Bapak, Ibu, dan Kakakku. Aku menikmati setiap teguk teh yang kami minum bersama. Setiap angin yang meniup kecil kami. Setiap pembicaraan remeh yang kami bicarakan. 
Aku lebih menghargai setiap kisah dan pribadi. Setiap nyawa berharga. Setiap nyawa sudah melalui pertempurannya. Dan bagiku: mereka tidak layak kenal denganku dalam versi lamaku yang buruk. 
Setiap nyawa berharga. Setiap kisah membentuknya. Setiap pertempuran pahit membentuknya. Dan menimbulkan pilihan: menjadi jahat untuk bertahan hidup dengan senang atau menjadi baik untuk bertahan hidup dengan benar.
Aku pernah menjalani pilihan yang pertama.
Dan kamu, juga siapapun yang mengenalku: Aku meminta maaf padamu, serendah rendahnya hatiku. Setulus tulusnya yang aku mampu. Karena pernah menjadi jahat. Karena kemarahan yang tidak tertata. Karena sumpah yang buruk. Karena ketidakmampuan mengampuni secara cepat. Atas itu semua: aku memohon ampun. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s